Kaulah Gelombang Itu Nguyen | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kaulah Gelombang Itu Nguyen Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:13 Rating: 4,5

Kaulah Gelombang Itu Nguyen

KECIPAK air di ujung lunas perahu kayu, terngiang jelas kembali di benakku. Laut Cina Selatan, masih membuang riak dan gelombang di tengah malam buta itu. Nguyen, gadis molek yang bersahaja, berada di tengah tumpukan puluhan penumpang yang lain. tubuhnya menggigil tanpa balutan baju dingin.

Nguyen dan ratusan ribu orang Vietnam lainnya memang sedang berkutat dengan nasibnya sebagai Manusia Perahu. Sebutan itu tak sedap didengar terutama bagi pengungsi Vietnam saat berebutan meninggalkan Tanah Ho Chi Minh yang berkecamuk di masa itu.

Bayangan-bayangan yang kini terurai jadi benang kenangan itu pasti tak akan terlupakan bagi Nguyen Vet Tien. Sedang aku saja tak kuasa menghapusnya. Aku jadi ingat, bagaimana Nguyen menuturkan kisah perjalanan getirnya pertama kali hingga terdampar di Pulau Galang selama beberapa tahun.

Permainan imajinasiku tiba-tiba mendedahakan sesuatu yang lain. Perahu motor Huang Thian yang mengantarkan Nguyen ke pulau penampungan pengungsi di Kawasan Batam itu kini menjelma jadi diriku. Ya, akulah perahu itu. sementara, lautan yang bergelombang seketika menyembulkan ribuan Nguyen yang keletihan sambil menggapai-gapaikan tangannya yang gemulai.

Begitulah kini tamsil diriku dan nguyen bak sebuah perahu yang dikepung selaksa riak gelombang. Aku jadi hilang keseimbangan tempat berpijak. Tapi, Nguyen terus saja menggelorakan gelombang yang membuat diriku kian bimbang. Nguyen terus saja meniupkan gelembug dan buih di tiap sisi perahuku. Bilakah gelombang ini jadi sunyi?

Setiap kubaca semua surel Nguyen yang ditulisnya dari rumah sepinya, di Vietnam, selalu saja yang kutangkap buncahan gelombang yang tak kunjung diam. Pertelagahan Nguyen dengan sang suami yang terus meruncing, bagai tak kunjung berakhir. Semakin kuselami gelombang kehidupan Nguyen, perasaanku jadi gundah tak berujung. Aku kini benar-benar jadi lelaki sungi. Lelaki yang kedinginan dihempas riak dan gelombang Nguyen. Ya, Nguyen Vet Tien, kekasih jauh. Nguyen, berapa lama lagikah gelombang ini berhenti menari-nari? Suara hatiku sering bertanya saat kegelapan mengurungku di tengah malam yang panjang.

***
Kucoba mengalihkan kenangan dengan memutar ulang kembali ihwal kedatangan Nguyen di Pulau Galang belasan tahun silam. Permepuan bertubuh langsing, berkulit cerah, dan berhidung mancung itu memang pernah tercatata sebagai penghuni kamp pengungsi Pulau Galang yang jumlahnya mencapai 40 ribu orang. Nguyen datang ke pulau itu bersama emak dan dua adiknya yang masih kecil serta puluhan pengungsi lain. Sebelum sampai di pulau pengungsian itu, Nguyen sempat terdampar di Natuna beberapa lama.

Tahun-tahun gelisah pun dilewatinya penuh ketabahan. Perjumpaannya denganku, seorang budah Melayu yang lugu dan sederhana pada masa itu, sepreti pengakuan Nguyen, tak lebih dari sebuah kisah tak berbingkai belaka. Tapi, Nguyen sering pula menyebutnya sebagai buah ketabahan saat dirinya disebat derita tak bertepi. Pulau Galang dan diriku kini tak akan pernah luput dari kerumunan rimba kenangan yang berimpitan di benak perempuan molek itu.

Nguyen kini memang telah terpisah jauh dari cengkeraman Pulau Galang. Tapi, ibu muda beranak dua yang masih kecil-kecil itu, bagai terpuruk di cengkeraman derita yang lain. suaminya telah membenamkan dirinya di lembah dukacita yang bak tak bertepi. Kini, pikirannya terbelah dan mengapung di antara dua pulau imajinasi: diriku dan sang suami. 

”Aku begitu menderita, Bang Rajab. Aku kehilangan arah dan jejak,“ ratap Nguyen selalu dan berulang-ulang seperti kubaca di layar maya atau kudengar lewat ponsel yang penuh desah keperihan.
Lantas, ketika ratusan orang bekas Manusia Perahu itu melakukan perjalanan ’tikam jejak‘ di Pulau Galang, Nguyen tak melewatkan peluang itu. Ia sengaja datang ke Pulau Galang bersendirian saja tanpa membawa kedua anaknya. Atas nama kerinduan dan rasa cinta yang dalam, Nguyen bagai ingin terbang menjemput kebebasannya bersamaku.

Apalagi, sudah lebih enam bulan pula, kami tak bertatap muka. Pertemuan terakhir kami, saat aku menyempatkan diri berkunjung di Hanoi untuk urusan pameran dagang yang melibatkan para peniaga-peniaga Melayu dari Batam. Itulah pertemuan tak terduga karena akut elah kehilangan jejak Nguyen bertahun-tahun.

***
Di petang yang agak lindap karena mentari telah menyorong ke garis bawah horizon laut, awan agak gelap. Sekumpulan burung layang-layang berkitar-kitar. Bel pintu rumah kediamanku yang terletak di tepi laut itu berbunyi berkali-kali. Aku memang baru pulang kerja seperti biasanya. Begitulah hari-hariku sebagai pengusaha real-estate yang sedang naik angin. Setahuku, tak banyak budak Melayu yang meraih jenjang keberhasilan seperti ini.

Saat pintu depan kubuka dengan perasaan agak dongkol karena rasa penatku yang belum hilang, tiba-tiba kutemukan seorang perempuan berkulit putih berkacamata gelap yang mengenakan kerudung warna putih cerah. Lama aku menatapnya karena kemolekannya terasa berlebih-lebih di remang hari itu. Wajahnya memancarkan cahaya lembut bersambut sinar mentari yang memerah.

”Bang Rajab...“ ucapnya dengan mulut sedikit mendesis. Amboi, ranumnya senyum itu. Suara itu langsung menyadarkanku pada Nguyen.

”Nguyen....“ balasku lamat-lamat sambil mencoba menerka lebih jauh perempuan berkerudung itu.

”Panggil aku, Nguyen Fatimah...“ Sambutnya sambil menghambur ke diriku yang masih tergagap.

Kami berpelukan. Jam terasa berhenti berdetak. Tapi, degup jantung Nguyen di dadaku begitu menghentak. Pelukannya bagaikan tak terlepaskan. Tapi lamat-lamat pula kurasakan butir air mata Nguyen hinggap di bagian dada bajuku. Air mata itu terasa berubah sontak jadi lipatan-lipatan gelombang. Aku benar-benar merasa berayun-ayun di lipatan gelombang sakal itu.

”Mengapa tak berkabar sebelum ke sini, Nguyen...?“ bisikku dengan suara serak.

”Aku hanya membawa kemuliaan ke sini. Setelah bertahun-tahun kupendam. Aku datang menjemput kasih yang lama terombang-ambing di atas gelombang ketidakpastian...“ ucap Nguyen terbata-bata. Sedu-sedannya tak kunjung lenap karena rasa haru yang tak pernah diduganya.

”Nguyen...“ balasku sayup. 

”Panggil aku, Nguyen Fatimah. Aku sudah seiman denganmu, Bang...“ balas Nguyen makin manja.

”Masya Allah... Alhamdulillah... Maha Besar Engkau, ya Allah...“ kata-kata syukurku mengalir begitu saja. Airmataku pun menitik hangat di pipi. 

Saat pelukan kami terlerai begitu saja, Nguyen terlihat kian tenang. Malam terus beringsut menuju kelam yang tak terbatas. Nguyen berkemas diri di kamar depan yang selalu siap menerima tamu. Kutempatkan perempuan molek itu di situ. Mak Suleha, pembantu yang sudah kuanggap bagai orang tua sendiri yang setia melayani semua keperluanku, kini penuh sukacita pula melayani Nguyen. Tamu paling istimewa yang pernah singgah di rumah ini. 

Makan malam kami lakukan hanya berdua di bawah cahaya lampu keemasan. Amboi, kutatap wajah Nguyen yang memantulkan kilapan lembut. Lagi-lagi, Nguyen mengenakan kerudung berwarna-warni. Wajah putihnya terkesan menyergam di antara manik-manik yang menghiasi pinggir kerudung indah itu. Mak Suleha bagai memahami bagaimana sepasang anak manusia saling melepas rindu sejak lama.

Nguyen pun bercerita ihwal dirinya yang sengaja bersembunyi dariku berbulan-bulan lamanya. Ia mengaku mengucapkan syahadat di sebuah mesjid di kawasan Islamic Center di kota Hanoi tiga bulan lalu. Waktu itu, entah dorongan apa yang mengantarkannya menjumpai Imam Abdullah Trung Thong, seorang Vietnam tua yang sangat alim. Ada belasan jamaah masjid di situ yang ikut menyaksikan.

”Bagaimana kabar Emak sekarang?“ langsung Nguyen memotong.

”Dia sehat-sehat saja. Masih tetap di Pulau Galang. Walaupun sudah ada jembatan megah, Emak susah diajak bertandang ke mari. Dia lebih selesa tinggal di kampung sana...“ tuturku.

”Aku rindu Emak, Bang... Aku ingin berjumpa dengannya. Aku berharap, Emak akan panggil diriku dengan Fatimah saja,“ ucap Nguyen lagi.

Aku kini masih merasa sebagai perahu. Tapi riak dan gelombangnya sudah tak segarang dahulu. Buih-buih gelombang di sekelilingku tiba-tiba berubah jadi mainan angin. Berkecipak dan menari-nari. Apalagi, banyak pula burung-burung laut saling menukik ke permukaan laut itu dan mengepak-ngepakkan sayapnya dengan lincah. Dalam bayanganku, Nguyen bermain-main dengan buih itu penuh kemanjaan. Amboi, anggunnya dikau, Nguyen, bisik suara hatiku.

”Oh ya, bagaimana suamimu?“ tiba-tiba aku teringat ihwal kisruh rumah tangga Nguyen yang lama tak selesai.

Nguyen sedikit menunduk. Wajahnya sedikit keruh karena membayangkan sesuatu yang boleh saja terjadi tanpa diduga. Memang, gugatan cerainya di Kantor Catatan Sipil di Hanoi sudah membuahkan keputusan. Gugatan cerai Nguyen diterima. Tapi saat keputusan itu dibuat, suaminya tak hendak hadir sama sekali. Nguyen bisa membayangkan bagaimana suaminya tak serta-merta menerima keputusan yang dirasakannya tak adil dan sepihak itu. 

Perbincangan malam itu bagai ditingkahi alunan Selat Malaka yang selalu bernyanyi dari kejauhan. Apalagi, bila jendela bilik dibukakan. Tiupan angin menebar keindahan tak terkira. Di larut malam itu, Nguyen pamitan untuk tidur di biliknya. Tatapan matanya terkesan penuh harap untuk tidur bersamaku. Tapi harapan itu cepat-cepat ditepisnya.

Aku begitu bangga menyaksikan sikap Nguyen yang begitu tahan akan segala godaan. Menurutku itulah kemuliaan budinya. Dalam hatiku, selalu terkenang kebesaran Allah yang telah mengirim seorang bidadari molek seperti Nguyen Fatimah ke dalam hidupku. Di sebalik itu, terngiang pula kebahagiaan Emak saat bertemu calon menantunya yang dulu tak disukainya karena belum seiman. Segalanya kini terdedah bagaikan hamparan laut yang tenang. Ada riak-riak kecil yang menyembulkan keindahannya.

Perjalanan menuju Pulau Galang yang kulewati bersama Nguyen Fatimah terasa bagaimana mimpi. Jembatan panjang Barelang yang khas dengan beragam rancang bangun benar-benar tesergam kini. Tanah Melayu ini pun boleh menjemput kegemilangan yang diidamkan sejak. Begitulah Emak yang betah berada di ceruk kampung dengan maung air lautnya yang menerpa rumah setiap saat.

Emak tampak masih ragu-ragu menatap diriku dan Nguyen. Sewaktu menyambut salamku, Emak tampa cerah dan berkaca-kaca. Emak memelukku penuh kehangatan. Tapi begitu beralih menatap Nguyen yang mengenang kerudung berwarna merah jambu itu, Emak tampak ragu-raghu. Tapi Nguyen cepat sadar sehingga langsung mengucapkan salam: ”Assalamualaikum.“

Emak langsung menyahut dan memeluk Nguyen penuh sukacita.

”Alhamdulillah..inilah menantu Emak yang sudah ditunggu-tunggu sejak lama. Emak restui hubungan kalian...“ ucap Emak tanpa persiapan. Tak henti-hentinya mulut Emak berkomat-kamit mengucapkan rasa syukur panjangnya. Sementara Nguyen menumpahkan airmata harunya dalam pelukan Emak. Suasana sendu tiba-tiba saja menguasai keadaan di rumah. Tak kurang pula tiga adik-adikku yang sudah gadis pula.

Aku masih saja menjadi sebuah perahu di tengah alunak riak laut yang tenang. Nguyen berkayuh di perahu itu. Jemarinya yang lentik mempermainkan dayung. Kecipak air yang membelah selat kini mengguncang pelan-pelan dadaku. amboi, Nguyen telah meneduhkan semua riak dan gelombang ganas itu. Dan kini berubah menjadi angin bak tiupan nafiri membelah sepi lautan. 

Pekanbaru, 06/16

Fakhrunnas MA Jabbar 
Ir. Fakhrunnas MA Jabbar, M I Kom, lahir di Airtiris, Riau-Indonesia, 18 Januari 1959. Sastrawan dan budayawan. Berkhidmat sebagai dosen di Universitas Islam Riau sejak 1986 dan dunia kewartawan (30 tahun lebih) serta dunia public relations (15 tahun). Tinggal di Pekanbaru. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fakhrunnas MA Jabbar 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" Minggu 30 Oktober 2016

0 Response to "Kaulah Gelombang Itu Nguyen"