Ludah yang Membawa Celaka | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ludah yang Membawa Celaka Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:30 Rating: 4,5

Ludah yang Membawa Celaka

SAMPAI sekarang orang belum melupakan bahwa di Lamkachoe pernah ada seorang pemberontak gondrong, masih lajang, dan suka meludah. Caranya meludah kerap membikin sakit hati. Setelah teman-temannya menyingkir jauh ke gunung akibat pukulan pasukan pemerintah, ia berhasil mengelabui tentara dengan mengaku sebagai petani biasa, tapi diam-diam mengambil kesempatan mengendalikan kekuasaan tak nyata sebagai pemimpin pejuang di kampungnya. 

Selain keluarganya yang masih tersisa, tak seorang pun yang mengenal betul namanya, dan Manek (Mamak dari Nenek)--julukan yang melekat di tubuh yang jarang mandi itu--tak mudah bagi orang lain untuk melupakannya. Di kampung itu ia sangat Lamkachoe. Atau dalam istilah lain ia sangat menjiwai Kampung Lamkachoe, yang tidak menyukai orang dari kampung lain datang ke sana, seolah-olah mereka lebih busuk dan jahat dari kaum penjajah yang telah menginjak-injak dan membantai sebagian penduduk kampung itu. 

Sebagaimana telah diketahui, para pendatang dari kampung jiran yang dengan banyak alasan harus tinggal dan menetap di Lamkachoe, tak ubahnya hidup di tempat asing, tak bisa berkutik, apalagi berbuat macam-macam. 

Orang Lamkachoe boleh berbuat sekehendak hati mereka terhadap para pendatang, tetapi bila hal serupa dilakukan oleh seorang pendatang, orang sekampung akan mengeroyoknya dengan parang. Orang Lamkachoe selalu kompak membela orang kampung sendiri, tak peduli benar atau salah. Jiwa semacam inilah yang melekat kuat dalam diri Manek. Tak seorang pun meragukannya, bahkan dalam ludahnya sekalipun, orang meyakini masih melekat jiwa Lamkachoe! 

Namun, kemudian orang meragukan jiwa kampungnya itu setelah kejadian penantangan terhadap pasukan tentara pemerintah meski setelah itu nama Manek lebih tersohor lagi sebagai orang paling gila di Pasai. Tingkahnya yang sangat berani dan hanya dilakukan oleh orang gila atau orang setengah gila itu menimbulkan rasa takjub, lalu dikenang selama bertahun-tahun. 

Entah karena menantang pasukan tentara itu ia tidak lagi dianggap Lamkachoe, sebab biasanya orang Lamkachoe hanya memusuhi kaumnya sendiri dan bertekuk lutut di hadapan pasukan penjajah. Tapi banyak yang meyakini bukan alasan itu karena semua masalah terletak pada kandungan ludahnya. Memang sikap Manek sangat berani kala menantang pasukan pemerintah dengan cara mengirimkan sepucuk surat yang ditujukan langsung ke tangsi militer di Lamhok. Seperti surat cinta yang tidak dibubuhkan tanda tangan dan biasanya cap bibir berlipstik (bila itu dari pihak perempuan), ludahlah yang dibubuhkan Manek sebagai bukti resmi. Lalu, segera disambut sepasukan tentara dengan mengepung, menggeledah, dan menjarahi isi rumah orangtuanya. 

Pada hari itu Tuhan menakdirkan lain, belum berkehendak mencabut nyawanya lewat perantaraan bedil dan itu tidak pernah terjadi, selain oleh ludahnya sendiri--begitulah orang-orang meyakininya kelak. Sebelum orang-orang bersenjata itu datang dalam keadaan muka padam, Manek sudah lebih dulu melesat ke hutan di belakang rumah. Desingan peluru yang mengarah pada belukar tidak sebutir pun menyentuh tubuhnya, tapi mengenai seekor kera malang yang tersesat. 

Selama berpekan-pekan, tentara berjaga-jaga di sekitar rumahnya dan sebagian lain memburunya ke hutan. Anehnya, tak ada tanda-tanda orang yang melarikan diri lewat belakang rumah. Para serdadu hanya mendengus-dengus putus asa di sekitar tubuh kera yang telah menjadi bangkai, lalu anjing pelacak menatap sejumlah wajah tentara dengan kesal sambil menjulurkan lidahnya. 

Konon kabarnya, seorang prajurit bodoh berhidung paling pesek dalam kawanan menyakini bahwa kera yang rubuh dari cabang kayu itu adalah wujud Manek yang mengamalkan ilmu hitam. Tentara lainnya--yang ternyata sama bodoh atau lebih bodoh darinya--langsung meyakini pendapat itu sehingga kemudian Manek merasa nyaman, tanpa seorang prajurit pun yang berusaha sungguh-sungguh mencari dan memburunya ke dalam hutan selama beberapa pekan kemudian. 

Memang tak lama setelah itu, pasukan yang berkeliaran di sekitar Lamkachoe digantikan dengan pasukan baru yang sama sekali tidak mengenali Manek. Pasukan lama ditarik lantaran banyaknya kejadian pemerkosaan yang mereka lakukan di Pasai. Akibat bertahan terlalu lama hingga syahwat yang terus meningkat dan diketahui kemudian bahwa benda yang terletak di selangkang itu lebih banyak mengundang masalah daripada masalah perang itu sendiri. 

Selama waktu yang panjang, Maneklah yang menguasai Lamkachoe dengan kekuasaan yang lebih tinggi dari pejabat mana pun meski ia hanya pengikut pemberontak yang tak punya wewenang dan peran penting dalam kelompok perjuangannya. Rambutnya yang panjang sering mengibas-ngibas selagi marah dan mengancam, sedangkan ludahnya yang menjijikkan itu sering menyembur ke tanah. Semua ini terjadi ketika pasukan pemerintah tidak sedang berkeliaran dan tidak sedang memukuli orang-orang Lamkachoe yang mereka anggap sangat terbelakang, miskin, dan bebal. 

Pada waktu itu Zakirun, seorang penduduk jiran, datang membeli sebuah rumah permanen milik seorang pejabat kota yang sedang ketakutan oleh ancaman pemberontak yang sesekali turun menagih pajak perjuangan. Kampung itu digambarkan si pejabat sebagai jurang neraka yang tak mungkin ditinggali lebih lama lagi. Penjualan itu dilakukan secara diam-diam, sehingga Manek baru mengetahui saat penghuni baru itu menempati rumah si pejabat. 

Sewaktu Zakirun sedang sibuk mengecat dinding rumahnya, Manek masuk tanpa salam, berlalu-lalang dengan muka padam di dalam ruangan yang masih berantakan. Ia bolak-balik di ruangan utama sampai ke pintu depan seperti kendaraan yang tidak memiliki rem, berputar-putar sebelum akhirnya berhenti sendiri. Zakirun menggambarkan kepadaku bahwa rambut Manek mengibas-ngibas seiring dengan hamburan cercaan--juga ludahnya--yang membikin tetangga-tetangga sebelah menahan napas dan tak berkutik. 

“Kau tahu ini rumah milik pejuang? Siapa yang mengijinkanmu membelinya? Kau tak berhak membeli rumah ini. Rumah ini milik kami!” cecar Manek garang. 

“Aku tak tahu itu,” jawab Zakirun. 

“Kau tahu siapa aku?” tanya Manek menyombongkan diri. 

“Aku tak tahu siapa kau.” 

“Aduh, sialan, bedebah. Masak tidak tahu siapa aku?” ucap Manek jengkel. “Aku Manek, pejuang yang paling ditakuti di wilayah Peurincun! Dasar pa-i, pengkhianat. Chuih!” 

Barangkali sebab ludah inilah sehingga kemudian Zakirun tidak bisa menahan diri, dan ia ikut-ikutan marah--bahkan lebih garang--yang kemudian membikin Manek bingung. Sambil menyemburkan serapah, Zakirun menghampiri Manek yang melangkah perlahan ke luar, dan terus menyemburkan cecaran, “Apa pun yang kau katakan, siapa pun dirimu, meskipun kau seorang hantu--atau seekor hantu--aku tidak takut. Aku ini wakil Musa si Mata Sipit. Apakah kau mengenalnya?” 

Banyak saksi mata mengatakan bahwa saat itu tubuh Manek terpacak serupa kendaraan laju yang berhenti mendadak akibat menabrak pohon. Tubuhnya tak berkutik serupa sebatang pohon yang tumbuh secara janggal di tengahtengah halaman, pucuknya merunduk; kepala itu tidak mampu tegak lagi dan kegarangannya lenyap seketika. 

Tak seorang pun di Lamkachoe yang tidak mengenali Musa si Mata Sipit. Ia Panglima Sagoe Wilayah Peurincun yang menguasai lebih lima puluh kampung di Pasai--termasuk Lamkachoe yang tak berarti ini--setelah Ahmadi si Kumis Tebal tewas dikeroyok sepasukan serdadu (pasukan itu lebih dikenal dengan Pasukan Ular). Tetapi sedikit sekali orang yang mengenal Zakirun, apalagi bentuk muka dan kumisnya yang tidak meyakinkan sama sekali, bahwa ia wakil pemimpin pemberontak yang harus dipatuhi semua orang, termasuk Manek yang jauh berada di bawah kekuasaannya. 

Setelah mencuri-curi tatap beberapa kali, tubuh Manek terangkat dengan susahnya, bersungut-sungut dan beringsut secara tak sadar menuju pintu pagar lalu melangkah keluar dengan wajah tetap menunduk. Begitu sampai ke jalan lorong, ia melangkah ligat dari rumah Zakirun dan menyesal telah datang ke sana. Sejak itu, di mana pun Manek melihat dan bertemu Zakirun, wajahnya dalam keadaan menunduk. 

Entah karena tanggungan malu yang begitu besar, sebulan kemudian Manek tidak terlihat lagi berkeliaran di kampung, sebagaimana pekan-pekan saat pasukan tentara memburunya ke hutan. Namun, kabar lain menyebutkan ia pergi hanya gara-gara ludahnya. 

Beberapa orang di Pasar Simpang menyebutkan bahwa sepulang dari rumah Zakirun pada peristiwa memalukan itu, Manek sering meludah-ludah, dan hampir semua muka temannya kena ludah! Tak seorang temannya yang dapat menerima perlakuan itu, dan mereka semua memusuhinya, sehingga akhirnya Manek harus angkat kaki dan tak munculmuncul lagi untuk selamanya. Perihal ini menimbulkan banyak pertanyaan yang tak seorang pun dapat menjawabnya dengan tepat, selain perkiraan-perkiraan menyimpang yang disertai alasan keliru. 

Sampai bertahun-tahun kemudian berhembuslah sebuah kabar yang cukup mengejutkan, bahwa orang-orang yang menjadi korban ludah Manek telah bersepakat dan berencana. Mereka berhasil membujuk Manek ke tengah hutan untuk kemudian meludahi wajahnya, dan ini mereka lakukan setelah terlebih dulu memenggal kepalanya yang berambut gondrong itu... 

Lhokseumawe, 2016 

ARAFAT NUR, sastrawan asal Aceh. Novelnya Lampuki (2010) meraih Khatulistiwa Literary Award 2011, sedangkan novelnya, Burung Terbang di Kelam Malam (2014), telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arafat Nur
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu, 16 Oktober 2016

0 Response to "Ludah yang Membawa Celaka"