Mantra Tahun - Syair Daun Bayem - Ziarah - Sajak Minta Maaf | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mantra Tahun - Syair Daun Bayem - Ziarah - Sajak Minta Maaf Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:47 Rating: 4,5

Mantra Tahun - Syair Daun Bayem - Ziarah - Sajak Minta Maaf

Mantra Tahun

aku memang tidak mampu menerka waktu
namun ada ayat yang dikenalkan pada jejak
pada angin, pada daun, pada awan dan langit
lewat lembar matahari dan hujan

tanah-tanah basah
daun-daun menghijau
laut pun bergelombang

awal tahun, awal ayatayat tertulis
di atas kertas kemanusiaan
ada yang membunuh anaknya dengan kejam
peperangan antarnegara pun tak selesai-selesai
korupsi apalagi

aku bukan hendak meramal atau menjadi dukun
bukankah sudah terjadi di jalanan
aku menyimak dan mengikuti
menulis di kertas kata-kata

aku ingingapuraku hijau dengan turunnya hujan
menikmati susu hangat buatan istriku
dan TV yang dihidupkan rama tiap pagi
tak menggantikan sapu yang membersihkan
sampah angin yang menerpa waktu

tapi aku ingin gapura hijau
sehijau matamu yang biru

Battangan, 2016 

Syair Daun Bayem

segenggang daun bayem yang hijau
tumbuh di samping rel kereta api
kaki-kaki membentang tak peduli
cahaya senja keemasan terpantul
dari atas jembatan Lempuyangan dan Janti
yang tumbuh di situ ayat-ayat matahari juga isyarat angin
yang kerap didzikirkan oleh bibir sunyi

sawah membentang, orang modern berlipatan
di antara rel kereta api. Melaju ke depan kadang ke dalam
kadang tungganglanggang. Tersandung batu keseharian
yang memanas. Kadang sering, kadang hijau daun bayem
di hutan daun bayem aku mengembara ke perkampungan jiwa
di kedalaman batu-batu hitam ada nyeri akar kemanusiaan
yang gersang. Rusuk-rusuk daun bayem berjualan di pa-
sar keabadian

hijau daun bayem mengalir ke sungai peradaban
pikiran menyisir di tepian bayang-bayang
kadang kulihat capung terbang daun bayem
ada petani menanam padi. Ada ibu-ibu menggendong
barang dagangan. Di gendong daun-daun bayem tak berpenyakit
dan tak kering kulit-kulit pikiran

aku mengerti ini ayat-ayat yang dibacakan capung
juga pasukan semut yang menaiki batang daun bayem
adalah kesejukan yang beredar di perkampungan
hijau dan menyehatkan kata-kata

Battangan, 2016

Ziarah

    ;Syaikh Makhfudz, Goranggaring


angin pagi membawaku
menuju pemakaman waktu
dan suara debur ombak dari sebelah utara
dalam sejuk jiwa yang membara

apa makna ziarah ini
jika sampah-sampah zaman yang dituju
apa makna ziarah ini
jika sekeliling ditanami biji-biji nafsu

ziarah pagi yang semu
akankah terbuka kertas lusuh
yang menuliskan tidur panjang pemuda
yang keruh dan berbatu-batu

tumbuhlah ziarah bagai elang
yang selalu terbang dengan sayap belang
dalam rona cakrawala yang garang
: pemuda

Battangan, 2016 

Sajak Minta Maaf

aku minta maaf pada huruf
karena memanggilnya luka
aku minta maaf pada huruf
jika aku tak paham
tolong jangan lukai, puisi,
jika kau kuambil sebagai rumahku
semoga kata-kataku menyebar
melihat sudut-sudut semesta

aku minta maaf pada penyair
atas segala risau yang kau titipkan pada rindu
aku minta maaf pada masa lalu
yang menjadi sejarah waktu
karena mengira bahwa engkaulah pertama dan terakhir

maafkan aku, wahai kegelisahan yang jauh
karena pulang membawa gelombang
maafkan aku, wahai kenyerihan yang mendesah,
karena mengintip luka
aku minta maaf atas segala khilafku pada mereka
yang menangis di perkampungan

aku minta maaf pada mereka yang menulis sajak rindu
karena telah terobati rindu ini pada keseharianku.
maafkan aku, wahai detik, karena aku tak menyuruhmu
berlari dari waktu
dan engkau, tarebung1 ), tak berubah dari tahun ke tahun
selalu di tanah yang sama
ketajaman pangeratmu1) selalu tepat
berada di titik yang sama dalam mayang

maafkan aku, bahkan jika ternyata engkau lelah menantiku
aku minta maaf pada pohon-pohon
yang ditebang demi keangkuhan
aku minta maaf pada petinggi-petinggi atas orang-orang kecil
kebenaran, tolong berikan padaku
bermurah hatilah. bekerjalah bersamaku
jiwaku, jangan kau sakiti bahwa hanya dengan uang
yang kau miliki dari dari gajian bulananmu.

aku minta maaf pada segalanya karena aku tak bisa
berada di kantormu yang mengkilat.
aku minta maaf pada setiap orang karena aku tak dapat
menulis puisi yang membeli petinggi-petinggi bohong
aku tahu aku tak akan dibela selama aku masih hidup

jangan bebani aku dengan kehendak untuk dibeli, wa-
hai penyair
karena aku membawa kata-kata yang berat,
berilah aku puisi yang berat sehingga puisi itu akan tam-
pak ringan.

Battangan, 2016 


1) Pohon siwalan (Madura)
2) 2) Alat untuk memotong mayang seperti celurit tapi kecil, agar keluar air tuak yang segar.


Matroni Musèrang, Penyair, pengajar di STKIP Sumenep


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Matroni Muserang
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 2 Oktober 2016

0 Response to "Mantra Tahun - Syair Daun Bayem - Ziarah - Sajak Minta Maaf"