Mata Merah Saga | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mata Merah Saga Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:55 Rating: 4,5

Mata Merah Saga

JADI kau ingin mengetahui kisahku, bagaimana aku lahir hingga besar, kemudian ditangkap dan dipenjara seperti sekarang ini? Baiklah. Seberapa sabar kau akan mendengar ceritaku?
Hening.

Angin bersiutan.

di jeruji besi.

KINI dengarkan aku bicara. Aku lahir di Hutan Larangan, Hutan Pajajaran. Hingga kini - aku tidak tahu siapa ibuku. Aku ditemukan orang, yang nyaris frustasi karena tidak punya anak.

Pendek kata, aku dibesarkan oleh pasangan yang melarikan diri ke Hutan Larangan, Hutan Pajajaran, karena dikejar-kejar pihak yang berwajib, yang entah apa kesalahannya.

Sejak itu aku hidup. Dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Pasa umurku menginjak delapan tahun, ketika aku pulang ke rumah habis main di dalam hutan, tahu-tahu ibu dan bapak angkatku sudah meninggal dunia.

Keduanya dibunuh dengan keji, entah oleh siapa. Aku tidak tahu, apa yang harus aku lakukan dengan kedua mayat orang tua angkatku itu.

"Kini saatnya kamu haruus tahu, bahwa kamu bukan anak kami. Istriku tidak melahirkan dirimu. Kami menemukan dirimu di hutan ini, di bawah pohon beringin. Untungnya saat itu drimu tidak dimakan binatang buasm" ujar Bapak Angkatku, Ki Lebam, saat itu.

Istrinya, Ni Sabeni dengan tekun sedang menguliti ayam hutan hasil buruan Bapak Angkatku dan aku. Selain itu, juga sedang membersihkan beberapa biki ubi jalar, yang juga timbuh di dalam hutan. Hal yang demikian itu jadi makanan pokok kami, meski hanya dibakar.

Aku terhenyak mendengar apa yang dikisahkannya saat itu. "Meskipun demikian demikian, kami sangat menyayangimu. Jika tidak, bagaimana mungkin dirimu kami besarkan seperti sekarang ini," lanjut Bapak Angkatku.

Dan kini kedua orangtua angkatku sudah jadi mayat. Darah keduanya berceceran di mana-mana. Aku hanya bisa nangis sejadi-jadinya. Siang malam aku tidur dengan sepasang mayat, yang kian hari bukannya bau busuk malah semakin harum -- hingga pada suatu saat ini menimbulkan perhatian banyak   orang di sekitar hutan itu, yang kemudian berdatangan ke tempat kami. dengan bantuan mereka kedua orangtua angkatku dikuburkan, tidak jauh dari rumah kami -- yang dibuat asal jadi.

Sejak itu -- aku tidak lagi hidup di dalam hutan. Aku hidup di sbeuah desa yang sejuk, dan damai. Aku dipelihara oleh seorang kepala desa, yang kebetulan tidak punya anak. Kasih sayang kedua orangtua angkatku yang baru itu aku rasakan hingga ke tulang sumsumku.

Mereka begitu baik. Aku disekolahkan, dan diajarinya aku ilmu silat yang tiada duanya.

Menginjak dewasa, ketika aku ingin mengembara ke kota besar -- aku bilang kepada Bapak Angkatku yang baru. Setelah bilang ini dan itu, dengan berat hati keduanya melepasku.

Dengan berat hati dan juga rasa senang tiada terkira, aku pun pamit. Aku yakin di kota besar aku bisa menemukan segala teka-teki yang selama ini gelap bagi diriku.

Sesampainya di kota besar, pada awalnya aku menggelandang saja. Tidur di mana saja, sebab aku tidak punya kenalan. Akhirnya aku dapat pekerjaan, jadi tukang jaga toko.

Awalnya, saat aku sedang ada di depan toko itu --ada lima orang berandalan yang mau ngerampok toko itu. Yang punya toko sepertinya dipukuli oleh salah seorang dari mereka. Lalu aku menolong mereka dengan ilmu silat yang selama ini aku pelajari di desa, Alhamdulillah, mereka bisa aku lumpuhkan, dan akhirnya ditangkap polisi.

Sejak itulah yang punya toko baik kepadaku, dan malah menawari aku bekerja di tokonya. Sejak itu aku punya tempat tetap di kota besar. Pergaulanku kian meluas, kenal dengan banyak oranng, Pada suatu hari, aku mendengar seseorang bercerita tentang sepasang mayat yang mengharum di dalam hutan. Ya, mayat kedua orangtua angkatku, Ki Lembam dan Ni Sabeni, istrinya.

"Sungguh mulia kedua mayat itu. Rupanya Allah SWT sudah mengampuni segala dosa-dosa keduanya. Sesungguhnya mereka itu pasangan penjahat, bandar narkotik, dan juga tukang tipu," jelas seseorang pada temannya.

Aku mendengar percakapan itu dengan jelas. Lalu kemudian, temannya menimpali.

"Saya tidak yakin bahwa kedua mayat itu penjahat besar, Pastilah banyak orang baik yang kena fitnah. Kalau bukan orang baik, bagaimana mungkin mayatnya bisa harum. Yang saya tidak mengerti, kenapa ia dibunuh? Siapa yang membunuh keduanya," ujar temannya.

Ya, siapakah yang tega membunuh kedua orangtua angkatku, selain ingin mengetahui siapa pula yang membuang diriku sejak masih bayi di dalam hutan. Semuanya terasa gelap bagiku, seperti hidup di dalam sumur tua, yang sepi dan sunyi.

Nah kini kau bertanya, kenapa aku masuk penjara? Begini ceritanya, --aku masuk penjara-- karena aku membunuh orang yang embunuh kedua orang tua angkatku yang pertama. Rahasia itu akhirnya terbongkar, ketika ada seorang pembeli yang datang ke toko tempat aku bekerja. Pembeli itu murang-maring karena hingga kini ongkos membunuh kedua orangtua angkatku belum lunas.

"Apa dosa orang yang ada di Hutan Lalarangan Pajajaran itu kau bunuh?" tanyaku.

"Soal warisan yang nilainya triliunan rupiah!" jawabnya.

"Masa hanya soal warisan bisa jadi demikian adanya?" kataku, kembali bertanya. "Yang saya tahu hanya itu. Saya disuruh oleh Tuan Munirah. Ia tinggal di Jalan Kentang Goreng No. 5A," katanya.

Hmm, warisan. Benarkah itu yang menjadi pokok persoalan atas terbunuhnya Ki Lebam dan Ni Sabeni orangtua angkatku yang baik hati itu? Kian hari --kian ingin tahu saja diriku akan apa persoalan yang sesungguhnya yang menimpa kedua orangtua angkatku itu hingga harus mati dibunuh. "Aku harus balas atas kematian keduannya," batinku, suatu malam.

Waktu bergulir dengan amat cepatnya. Pertama-tama tentu saja aku habisi orang suruhan yang membunuh kedua orangtua angkatku. Kedua, aku habisi juga otak pelaku, orang yang menyuruh membunuh kedua orangtua angkatku. Dan aku ditangkap oleh pihak yang berwajib, beberapa jam setelah membunuh keduanya.

Lalu kenapa kedua orangtua angkatku dibunuh oleh Tuan Munirah? Ternyata bukan soal warisan, hasil menipu, maupun narkoba dan sebagainya sebagaimana cerita yang beredar selama ini. Kedua orangtua angkatku itu hanya pegawai kecil --yang mengetahui dengan jelas seluruh kejahatan majikannya, yang ketakutan apa yang dilakukannya itu bisa diketahui publik.

Ancaman pembunuhan datang pada keduanya, hingga keduanya melarikan diri ke Hutan Lalarangan, Hutan Pajajaran.

Ada rasa puas di dalam hatiku, ketika aku bisa membunuh kedua orang yang menghabisi nyawa kedua orangtua angkatku. Walau demikian, satu hal yang belum bisa aku ungkap, siapakah gerangan orangtua yang membuang diriku ketika aku masih bayi? Apapakh ia masih hidup di bumi? Jangan-jangan kau orangnya?***


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Soni Farid Maulana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 23 Oktober 2016

0 Response to "Mata Merah Saga"