Melihat Ludah Memadamkan Api - Pagi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Melihat Ludah Memadamkan Api - Pagi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:47 Rating: 4,5

Melihat Ludah Memadamkan Api - Pagi

Melihat Ludah Memadamkan Api

Tersiar kabar bahwa kau telah menghapus sidik jariku di jempolmu. Puisi-puisiku yang
keluar dari lubang-lubang radio telah kau sumbat dengan air mata. Suatu pagi kedengar
kau membakar buku-buku yang kuberikan dengan penuh upacara di hari ulang tahunmu.
Aku mengerti dan sangat mengizinkan apabila hal yang bersangkutan denganku
kau bumikuburkan hidup-hidup. Tapi, kenangan, sayang. kenangan selalu muncul
seperti polisi pagi hari. Menyesakkan dada dan mata. Mampu membuatmu asma dan
buta. Ah, sayang, kenangan memang diciptakan tidak untuk kuburan.
Maka, dari sini aku hanya bisa menjulurkan do'a, smeoga kepalamu masih luas untuk
menerima ingatan. Kemarilah sesekali. Foto foto kita masih kupajang di sela-sela
mataku. Ssm sms manis darimu masih lincah berkelip di jela lidahku. Ciuman
garangmu masih mendidih di pori-pori bibirku.

Jika kau hendak ke sini, jangan lupa membawa korek api dan bensin. Siapa tahu kau 
juga ingin membakar ampas kenangan yang masih bercokol di mata, lidah, dan bibirku
itu. Jika itu terjadi, mari biarkan sekujur kenangan kita sama-sama terbakar. Dan lihatlah,
bagaimana cara api bekerja melumat ingatan kita yang akan melulu meludah.
Memadamkan kobar yang setengah hati berkibar. Ya, lupa memang selalu enggan
berkeringat untuk hal-hal yang lama berkarat.

Pagi

Aku mengucapkann selama pagi pada sikat gigi. Siaran berota televisi tentang eksekusi
mati tidak mengucapkan apa-apa pada selembar roti. Anak-anakku bersiap pergi ke 
sekolah untuk menghadapi papan tulis yang sepenuhnya sendiri, ini pagiku, terpenjara dalam jendela yang kehilangan kail penutupnya.

Tasikmalaya, 2016


Ariel Anwar, lahir di Tasikmalaya. Beberapa puisinya telah terhimpun di beberapa antologi bersama; Nyanyian Bocah Parau (2013), Sajak Anak Negeri (2015), Tunggu Aku Mengucap Cinta (2015), serta Risalah Perjalanan dan Pulangnya Debu-debu (2016)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ariel Anwar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" edisi Minggu 23 Oktober 2016


0 Response to "Melihat Ludah Memadamkan Api - Pagi"