Muruah Daud | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Muruah Daud Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:37 Rating: 4,5

Muruah Daud

NAMAMU Muruah Daud. Usiamu sudah lebih dari setengah abad. Sebagian usiamu dihabiskan untuk belajar. Tak hanya belajar di dalam negeri, tapi kau juga belajar ke Amerika. Sepulang dari Amerika kau masuk partai politik. Kau bahkan menjadi sekretaris di sebuah organisasi Ikatan Cendekiawan. Kau juga menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Itu bukti bahwa kau orang terpelajar. 

Kau tentu tahu arti dari ’muruah’, bukan? Kehormatan diri, harga diri, dan nama baik. Harusnya kau malu dengan arti namamu itu. Aneh rasanya jika seorang terpelajar percaya dengan seorang dukun yang katanya bisa menggandakan uang. 

“Ia memang bisa menggandakan uang. Aku percaya karena itu mukjizat dari Tuhan,” katamu dengan penuh keyakinan. 

Alam semesta seakan tertawa mendengar pernyataan bodohmu itu. 

Kasus itu bermula ketika diketemukannya sesosok mayat lelaki yang mengambang di sebuah waduk. Dari hasil penyelidikan polisi, mayat itu adalah korban pembunuhan. Penyelidikan lebih diperdalam. Akhirnya polisi berhasil mengetahui siapa otak pelaku pembunuhan itu. Dan otak pembunuhan itu adalah orang yang kau bela sepenuh hati: dukun pengganda uang. Beberapa jam setelah penangkapan itu, kau muncul di televisi. “Apa yang ia ajarkan, bukan ajaran sesat,” ujarmu. 

Ini adalah kejadian yang fenomenal. Bagaimana tidak? Orang yang sebagian usianya dihabiskan untuk belajar, di sisa usianya malah diabdikan pada seorang dukun? Dan lebih gila lagi, ternyata bukan hanya kau saja yang terpedaya. 

Untuk meyakinkan kegigihanmu saat membela keampuhannya bisa menggandakan uang, kau menyuruh kami melihat aksinya di Youtube. Ah, apakah kau tak pernah melihat aksi seorang pesulap saat mampu meloloskan diri dari mesin pemotong tubuh? Karena kau perempuan terpelajar, harusnya kau mau menggunakan akal sehatmu. Yang kau bela itu tak jauh beda dengan tukang sulap. 

Pergaulan politik sudah memberimu pelajaran, apa pun umpatan yang ditujukan padamu, kau harus bermuka badak. Sepahit apa pun umpatan itu. “Makin tinggi pohon menjulang, makin kencang angin menerpa,” katamu . 

Kini, di mata sejawatmu, namamu sudah jatuh di jurang yang paling dalam. Kini kau mungkin sedang duduk di bangku sebuah taman, mengadu pada awan, mengadu pada keadaan. “Seandainya mereka menyaksikan dengan mata-kepalanya sendiri, mereka akan percaya dengan apa yang mereka lihat,” katamu sambil menatap awan. 

Angin taman seakan tak menggubris keluh-kesahmu. Lalu sendirian kau berjalan pulang. Di depan pintu rumahmu, anak remajamu yang tampan, berdiri dengan wajah masam. Sesaat kau memegang dagu anakmu. Mengangkat wajahnya. “Ada apa kau, Nak?” tanyamu. 

“Aku malu dengan sikap Ibu.” 

“Malu? Malu soal apa?” 

“Sikap Ibu membela dukun itu...” 

“Jadi kau juga seperti mereka? Menganggap ibu adalah orang bodoh? Kau tahu artinya mukjizat? Dukun itu telah diberikan kelebihan oleh Tuhan.” 

Anakmu tak puas dengan jawabanmu. Dengan rasa marah, ia masuk ke kamarnya. Kau tak memedulikan itu. Kau kemudian masuk ke kamarmu sendiri. Kau rebahkan tubuhmu yang mulai membungkuk ke tempat tidur. Sampai detik ini kau masih merasa ada di pihak yang benar. Kau mengutuk mereka yang telah mengutukmu. 

Baru beberapa menit kau memejamkan mata, terdengar suara gaduh di kamar anak remaja tampanmu. Anakmu terdengar berteriak mengumpat tentang kebodohanmu. Bergegas kau dekati kamarnya. Kau lihat anakmu sedang memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas. 

“Apa yang kau lakukan?” 

“Aku sudah tak tahan dengan sikap Ibu.” 

“Lalu?” tanyamu. 

“Aku akan pergi dari rumah ini!” 

Sesaat kau terpaku melihat sikap anakmu. Tapi kau tak berusaha menghentikannya. Bahkan saat ia melewatimu dengan tas bawaannya, kau hanya menduga ia akan pergi sementara dan pada akhirnya akan kembali ke rumah juga. Tapi ternyata tidak. Setelah berhari-hari, bahkan bermingguminggu, anakmu tak kembali jua. Dan kau tetap pada pendirianmu, kalau dukun itu punya kemampuan yang luar biasa. -k 

Rumah Mimpi, Solo, 2016.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Basuki Fitrianto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 16 Oktober 2016


0 Response to "Muruah Daud"