Museum Masa Kecil - Pada Suatu Kamar Tidur - Monster dalam Sepen - Mimpi-Mimpi Llama - Menunggu - Nanti Saja | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Museum Masa Kecil - Pada Suatu Kamar Tidur - Monster dalam Sepen - Mimpi-Mimpi Llama - Menunggu - Nanti Saja Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:30 Rating: 4,5

Museum Masa Kecil - Pada Suatu Kamar Tidur - Monster dalam Sepen - Mimpi-Mimpi Llama - Menunggu - Nanti Saja

Museum Masa Kecil

Akhirnya museum itu dibuka kemarin. Tak banyak yang
datang, alamatnya agak susah dicari: Hujan, Gelas Susu Ke-3,
satu belokan sebelumm pagi. Di dalamnya dideretkan yang
hilang dan yang ditemukan dari masa kecil.

Pameran 00.

Pada Suatu Kamar Tidur

- dari foto-foto Sonya Hurtado
1.
Jika suatu ketika kamu bertemu putri duyung, jangan lupa
tanyakan bagaimana ia bisa sembunyi begitu lama di 1975.

2.
Ia membiarkan rambutnya tercerai dan terburai.
Ia sedang sibuk berusaha tenggelam di langit.

3.
Mama tidak menghukumku berdiri di atas kursi. Di bawah
sana banyak buaya raksasa mencari mangsa.

(nomor empatnya memang tidak ada, --klipingsastra)

5. Saudara kembarku punya sayap berwana kuning. Di mana?
Ia menempel di punggungku.

6.
Seorang anak duduk di dalam kulkas. Yang lain berpegangan
erat-erat pada pintunya agar tak meleleh.

7.
Aku suka raspberry dan plum, terutama yang telentang
di lantai kayu dan yang melayang di bawah lampu

8.
Ranting-ranting kayu yang kamu gambar di kaca jendela
sekarang gemar menggambari kamarku

9.
Kapan Mama semapt memotong rambutku? Anjingku ter-
sandung ujungnya kemarin lalu jatuh ke jurang.

10.
Seutas tali turun dari langit. Rumus matematika mana yang 
harus dipakai untuk menghitunng panjangnya?

11.
Aku kelinci biru, bu guru.
Sangkar burung itu bukan rumahku.

12.
Pernahkah kuceritakan padamu tentang anak laki-laki yang
tinggal dalam kotak? Betul. Kamu bisa melihatnya dalam 
cermin

14.
Putar....putar terus tuasnya.....Dua kali lagi akan cukup
membuatku berjalan melewati pintu hijau itu.

15.
Di mimpinya yang simetris, sepatu kanannya hanyut
di sungai, mata krinya disengat lebah. Ia siap pergi 
ke pesta dansa

16.
Seorang matador melukis kain merah, pedang, dan tanduk
banteng di tubuhku. Apakah itu berarti aku harus mati?

18:53
2016-09-22

Pameran 07.

Monster dalam Sepen

Monster yang ini menjerang air.
Monster yang itu mengasah pisau.
Monster yang satu membuka anggur.
Monster yang lain menata meja.
Monster yang tinggal tidak menangis.
Ia membumbui anak yang pulas itu
untuk makan malam nanti.

Pameran 08.

Kelas Menggambar

Di Kelas Menggambar kami belajar menggambar
peta perjalanan cahaya dan cahaya mengubah benda-benda
menjadi ada dan satu saat nanti kami akan ingat bahwa kami 
pernah cahaya sebelum ada.

22:49
2016-10-19

Pameran 12.

Mimpi-Mimpi Llama

Seekor llama bermimpi tentang bentang padang garam,
dengan butir-butir es di pagi hari, dan tiang awan
menjelang siang,
horison yang membebaskan matahari dan menjerat
ratusan flaminggo dengan ganggang dan air,
tentang kaktus dan piramida-piramida putih
yang berakar di langit.

Llama itu tak bermimpi tentang bintang tak terhingga dan
perjalanan tak berhingga:

ke tempat dia berada.

Pameran 17.

Rumah Kecil di Padang Rumput

Rumah kecil di padang rumput itu selalu menyediakan 
sebotol melankoli, cukup untuk bekal sekolah
sampai tiba Minggu siang berikut.

15:31
2016-10-19

Pameran 67.

Jika Tak Tahu ke Mana Kamu akan Pergi

Semua jalan akan membawamu ke sana.

16:55
2016-10-19

Pameran 69.

Menunggu

Dari balik tikungan muncul tiranosaurus
"Tahukah kamu jalan menuju museum?"
"Ya. Ya. Ya." Anak itu mengangguk-angguk
Di tanah ia menggambar
beberapa panah, angka 12, sepotong pizza, balon
dan tanda silang
Tiranosaurus mengucapkan terima kasih.
Sebelum berlalu, anak itu bertanya,
"Mau apa di sana?"
Jawab Tiranosaurus, "Aku akan menunggumu."
"Sampai kapan?"
"Sampai kamu cukup umur
mengunjungiku."

"Kamu akan datang, bukan?"

21:16
2016-10-18

Pameran 18.

Nanti Saja

dari video Ragnar Kjartansson

Kematian:
          Selamat pagi. Aku kematian

Aku:
          Selamat pagi. Tapi siapa namamu?

Kematian: 
          Kematian

Aku:
          Itu bukan nama

Kematian:
          Ya. Hanya ada satu kematian.

Aku:
          Apakah kamu setan?

Kematian:
          Bukan. Aku tak mengenalnya.

Aku:
          Apakah kamu Tuhan?

Kematian:
          Bukan. Tapi kami berteman.

Aku:
          Kenapa kamu membawa sabit raksasa?

Kematian:
          Untuk menjemput yang hidup dan membawanya 
          ke dunia orang mati

Aku:
          Sabit itu kelihatan palsu

Kematian:
          Ini sabit kematian

Aku:
          Kamu besar dan tidak menakutkan.

Kematian:
          Kamu kecil dan jelek. Berhenti bicara dan ikut aku.
          (Kematian mengayunkan sabitnya di atas kepalakU)

Aku (menggeleng):
          Kupikir aku akan melihat cahaya di ujung terowongan.
          Bukan kamu.

Kematian:
          Aku datang, lalu orang akan melihat cahaya

Aku:
          Kenapa aku tak pernah melihatmu selama ini?

Kematian:
          Kamu tak akan melihatku sampai....

Aku:
          Sampai waktuku?

Kematian:
          Ya.

Aku:
          Sekarang?

Kematian (melihat jam tangannya):
          Bisa jadi.

Aku:
          Aku habiskan sarapanku dulu. Ibu marah kalau
          makananku bersisa.

Kematian (melihat jam tangannya lagi):
          Baiklah. Aku kembali nanti saja. Selamat pagi.

Lalu kematian keluar menembus pintu.

22:16
2016-10-18




Avianti Armand menulis puisi, cerita pendek, dan ulasan arsitektur. Buku tentang Ruang(2016) adalah kumpulan puisinya yang terbaru.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Avianti Armand
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 29 November 2016

0 Response to "Museum Masa Kecil - Pada Suatu Kamar Tidur - Monster dalam Sepen - Mimpi-Mimpi Llama - Menunggu - Nanti Saja"