Napas Kabut - Undangan Debu - Undangan Debu - Purnama Kembar - Igauan Kabut - Lulungan Kabut | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Napas Kabut - Undangan Debu - Undangan Debu - Purnama Kembar - Igauan Kabut - Lulungan Kabut Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:06 Rating: 4,5

Napas Kabut - Undangan Debu - Undangan Debu - Purnama Kembar - Igauan Kabut - Lulungan Kabut

Napas Kabut

di kabut pekat kau dan aku
bertemu. wajamu dan wajahku
membalam, sekitar melulu

siluet dan derau. tak tentu
berapa tahun sudah pekat kabut
merungkup. pun tak tentu

kapan memudar. kau dan aku
bersikeras menaikkan suhu
bersikeras buka mulut. namun

lebih nyaring terdengar rahang
gemeletuk. kata-kata gemetar dan
patah-patah. tetapi karenanya

kau dan aku malu-malu
bergeser. malu-malu mengurug
jarak. jadilah berkali kau dan aku

bertatapa. napasmu dan napasku
berbaur. rerongga rabumu dan rabuku
penuh bauran napasmu dan napasku

Undangan Debu

butiran debu
beterbangan tak putus
di cakrawalaku

serupa kunang-kunang
menenung pandang
mengundangku terbang

Tuah Malam

kembali malam kehilangan bintang-bintang
kehilangan rembulan. kembali malam diguyur hujan
demikian deras, diterjangi angin demikian kencang
kembali malam berulang-ulang disambar geluduk
tapi malampun kembali menabur tuah tanpa huruf-huruf
walau basah kuyup, walau jalanangelap dan berlumpur
tanpa keluh-kesah, tanpa sedu-sedan, tanpa memuntahkan
sumpah-serapah, dan tanpa buang waktu barang sekejap
malam terus merangkak lampaui jarak menuju fajar

Purnama Kembar

dua matamu purnama kembar
malam-malamku berkilauan

jika menghilang matamu
gentayangan hantu-hantu

Igauan Kabut

tanganku terlalu kurus dan rapuh
tak mampu membendung luapan kabut
pun tak mampu menahanmu. tentu

gelombang kabut tambah menggunung
menyusul kau lalu. pohonan gedung-gedung
dan orang-orang mengabur. pun begitu

suara-suara. tak ada satu terdengar jelah
semua hanya derau. hanya lolong ajag
menghantami gendang telinga. biar demikian

aku tak beranjak. tetap menziarahi air mata
menelisik rahasia kata. menyigi misteri kita
merawat gairah cinta. jika kelak kau merasa

boyak, lelah, atau hatimu sampai terkoyak
kau tahu di mana alamatku. tak usah sungkan
jalan dan pintu cinta senantiasa terbuka

Lulungan Kabut

kembali kabut likat
merungkup. kembali segala
jadi balam-balam. kembalilah

saluran napas terseumbat
paru-paru seakan dalam rapat dan kuat
genggaman. mulut pun tak dapat

mengucap barang sekata
derau, yang berhembus hanya
derau. dan air asin meluap

membenam dua bola mata
hatiku jadi kian serupa pir yang
terus dilahap pisau. banjirlah

air asin semakin membanjiri
pelupuk. bahkan hingga menggenangi
ini kaki. aku pun berkeras nyaring

memmanggil-manggil namamu
namun hanya derau. hanya lulung
hanya lulungan ajag yang menyahut


Hikmat Gumelar lahir di Majalengka dan kini tinggal di Cileunyi, Kabupaten Bandung. Ia mengelola Institut Nalar. 



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hikmat Gumelar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 22 Oktober 2016

0 Response to "Napas Kabut - Undangan Debu - Undangan Debu - Purnama Kembar - Igauan Kabut - Lulungan Kabut"