Nelangsa - Setitik Merah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Nelangsa - Setitik Merah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:17 Rating: 4,5

Nelangsa - Setitik Merah

Nelangsa

Di tepian telaga ia disiksa
Luka, terikat
Darahnya mengalir deras dari ujung mata
Siapa bilang tak dapat beranjak?
Ia bisa, namun tak kuasa
Melawan seringai orang-oranng dari sudut jendela.
Putri, yang elok rupawan
Terhempas di atas tanah yang baru saja dijatuhi hujan
Entahkah ia merasa sengsara
Membendung ketidakpastian
Luruh,
Akibat cinta yang hanya menganga
Tak dapat berkata apa melawan rasa kecewa
Matahari pun tak dapat bungkam
Tiba-tiba disengatnya ia
Agar beranjak dan terjun ke dalam telaga
"Iya, itu yang aku pinta," katanya.

Setitik Merah

Di ujung matanya kulihat noda
Teringatku akan tak santunnya langkah
Alirkan tangis dari duka nestapa
Meski gelaknya selalu membahana.
Tahukah apa ucap senja pada malam?
Tak sedikit pun ia terusik olehnya
Meski langit biarkan ia bercahaya hanya untuk beberapa lama
Setitik merah, tak seharusnya jadi pemisah
Antara dupu dan semerbaknya
Meski kelak pudar keduanya
Namun di situlah indah mereka nyata
Tak yakinkah di sini putih ada?
Diambil tuk hadirkan kelengkapan
Tanpa tali tuk mengikat kita jadi satu kesatuan
Dalam kesempurnaan yang tak terbendung cara
Walau setitik merah



Nelly Trisnawati, karyawan swasta tinggal di Jalan Marga Asri III No 7, Margacinta, Bandung 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nelly Trisnawati
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 30 Oktober 2016

0 Response to "Nelangsa - Setitik Merah"