Nini Kalakay | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Nini Kalakay Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:43 Rating: 4,5

Nini Kalakay

RAMBUT putih Nini Kalakay dimainkan angin. Rambut seputih awan. Awan tipis. Rambut panjang putih tipis yang dibiarkan terurai begitu saja. Cahaya senja dari barat sedikit menyepuh rambutnya dengan warna keemasan.

Nini Kalakay suka duduk di bangku di sudut halaman rumahnya. Di bawah pohon beringin. Ngangin. Dalam pangkuannya terbaring sebuah kecapi. Kecapi yang sejak tadi hanya dielus-elus saja. Tak sekali pun dipetik. Ia asyik sendiri. Menikmati angin semilir, mendengar sayup lagu sungai di bawah sana. Senandung sungai yang ngungun bagi Nini Kalakay. Sungai kematian. Tentu karena di sungai itulah, setahun yang lalu, suaminya dijemput maut.

Angin memetik daun. Berguguran. Melayang.

Semenjak Ki Tunggul, suaminya, mati terseret arus saat sedang mencari ikan di sungai, Nini Kalakay hidup sendiri. Anak satu-satunya pergi sudah lama sekali, tak pernah kembali. Anak semata wayang yang tak pernah pulang. Tak ada kabar di mana keberadaaannya. Hanya saja bisa dipastikan masih hidup, karena sejak sepuluh tahun terakhir selalu ada kiriman uang setiap bulan dan tak pernah berhenti, dengan nama si pengirim adalah nama anaknya, Ujang Pangpung.

Mereka yakin nama itu hanya satu-satunya di dunia. Dulu, Ki Tunggul berpuasa selama Nini Kalakay mengandung, hanya untuk mencari nama itu. Nama yang tak ada duanya. Nama yang datang tepat ketika Nini Kalakay melahirkan. Nini Kakalay melahirkan di usia 40 tahun. Lama mereka menunggu kehadiran seorang anak. Ujang Pangpung tumbuh menjadi anak yang ceria. Hanya saja ketika beranjak remaja baru diketahui betapa rapuh hatinya. Hanya karena ditolak cinta, Ujang Pangpung pergi meninggalkan kampung halaman.

Kehilangan anak kesayangan Ki Tunggul menjadi pemurung. Hari-harinya dihabiskan dengan kecapi. Memetik kecapi sepanjang siang, semalam suntuk. Hilang sudah harapannya untuk mewariskan seluruh dongeng. Ki Tunggul adalah Juru Pantun terakhir di kampung itu. Namun, belum sempat ia turunkan warisan leluhur, Ujang Pangpung keburu kabur.

“Harusnya kita tahu sejak kita menamainya Ujang Pangpung,” bisik Nini Kalakay pada sebuah malam, sebelum esoknya Ki Tunggul dijemput maut. Malam yang mereka hitung sebagai malam ke 3.650 semenjak anak mereka lenyap.

“Ya, pada nama itu ternyata memang tertulis takdir pemakainya.” Ki Tunggul, ketika itu, menghentikan tarian jarinya di kawat kecapi. Merenung. Nama yang ia dapat dari tirakat panjang itu sesungguhnya memberi gambaran masa datang. Pangpung. Ranting kering yang rapuh. Begitu juga pada akhirnya nasib Ujang Pangpung. Malam itu, malam terang bulan, mereka berdua duduk di halaman. Ki Tunggul memetik kecapi dan Nini Kalakay bersenandung. Semalam suntuk. Seperti merayakan tahun ke sepuluh kepergian Ujang Pangpung. Merayakan tahun-tahun kehilangan. Tahun-tahun kesedihan.

“Tapi ia masih hidup,” bisik Nini Kalakay saat azan subuh terdengar di ujung tembang.

“Selama uang itu masih datang, ia masih hidup,” Ki Tunggul menunduk mengakhiri denting.

“Akan kita apakan uang itu?”

“Biarlah ia menumpuk. Seperti kenangan.”

Nini Kalakay tak pernah membayangkan jika pada akhirnya uang kiriman Ujang Pangpung itu dipakai untuk biaya mengurus kematian Ki Tunggul. Dari mulai hari pemakaman. Tujuh hari tahlilan. Matangpuluh. Nyatus. Hingga tadi malam saat genap satu tahun kematian Ki Tunggul. Uang itu, kenangan itu, masih belum habis. Masih menumpuk. Kiriman tiap bulan juga belum berhenti. Ujang Pangpung belum mati.

Nini Kalakay menatap buih putih di bawah sana. Beberapa ekor kapinis melayang di atas bibir sungai. Suara tonggeret menjerit-jerit dari bukit di seberang sungai. Langit mulai jingga.

Dielusnya kembali kecapi yang lelap di pangkuannya.

Ia hidup hanya berteman kecapi peninggalan Ki Tunggul. Kecapi yang ia baringkan di kasur tanpa pernah menyentuhnya. Kecapi itu dulunya sering dimainkan oleh Ki Tunggul setiap senja hingga malam menjelang. Berdua. Mereka melantunkan pantun. Mendendangkan tembang. Berdua saja.

Tak pernah ada yang mau mendengarkan Ki Tunggul selain Nini Kalakay. Mereka tahu zaman telah banyak berubah, bahkan berlari seperti seseorang yang dikejar bayangan hantu. Itulah kenapa Ki Tunggul sangat berharap dapat menurunkan warisan leluhur itu pada Ujang Pangpung. Pada siapa lagi selain pada darah daging sendiri. Hanya saja anak sendiri pun tak tahu di mana rimbanya.

Sepeninggal Ki Tunggul, Nini Kalakay dihantui sepi, hampir ia menjatuhkan diri ke sungai, ingin mati menyusul suami tercintanya. Namun ia teringat akan dongeng-dongeng dalam pantun, betapa Ki Tunggul ingin mewariskan dongeng-dongeng itu. Tapi pada siapa. Itu satu-satunya wasiat, dan Nini Kalakay tak tahu pada siapa wasiat itu akan ia turunkan.

“Apakah perempuan boleh menjadi juru pantun, Ki?” tanya Nini Kalakay usai Ki Tunggul memberi wasiat.

“Siapa yang melarang seorang ibu melakukan hal yang agung. Setiap perempuan adalah titisan Sunan Ambu. Lagipula ketika tak ada lagi yang mau, tak ada bedanya apakah dia lelaki atau perempuan,” jawab Ki Tunggul.

Nini Kalakay pernah menyusuri kampung, menawarkan dongeng ke orang-orang kampung. Tapi mereka malah menganggapnya sedang meminta-minta. Sejak itu Nini Kalakay tak pernah mencoba lagi. Tak ada warga kampung yang mau. Orang-orang lebih senang anaknya pergi mengaji ke masjid daripada mendengar dongeng.

Akhirnya setiap malam ia hanya bercerita di depan kecapi. Hampir satu tahun, setiap malam, ia bercerita pada kecapi. Sampai ia jatuh tidur. Tentu kecapi tak pernah tidur. Atau barangkali terus-menerus tidur sejak kematian Ki Tunggul.

Senja ini, tepat setahun meninggalnya Ki Tunggul. Nini Kalakay memeluk dan memangku kecapi. Ini kali pertama ia menyentuh kembali kecapi itu. Pada saat seperti ini Nini Kalakay diserbu kerinduan. Teringat Ki Tunggul, teringat Ujang Pangpung. Akan bahagia sekiranya yang ia pangku adalah cucunya. Tentu tak akan bosan ia menceritakan setiap dongeng yang hidup dalam kepalanya.

Namun kerinduan itu pada akhirnya hanya menjelma sembilu. Mengiris dadanya yang makin kering.

Daun masih saja ada yang berguguran. Bertebaran.

Sebagian jatuh di tubuh Nini Kalakay dan bersarang di atas kawat-kawat kecapi.

Suara tonggeret dari bukit seberang sungai makin menjerit-jerit. Nini Kalakay mengelus kecapi kemudian mengangkat tangan, meraba dada. Ia berpikir tonggeret itu berada dalam dadanya.

Dari bawah, dari arah sungai, tiba-tiba terdengar keriuhan. Teriakan dan tawa anak-anak.

Nini Kalakay terkejut. Selama ini tak pernah ada anak-anak yang berani bermain di sungai. Apalagi sore hari. Di batu-batu sungai terlihat beberapa anak-anak sedang bermain air. Mereka melompat dari batu ke batu. Terus berlarian saling mengejar di jalan setapak yang menanjak. Setiap anak warna bajunya berbeda. Putih. Merah. Jingga. Kuning. Hijau. Biru. Nila. Ungu. Hitam.

Sembilan. Nini Kalakay diam-diam menghitung warna yang sedang berlarian saling kejar di jalan setapak yang mengarah ke halaman rumahnya. Riuh dan riang itu mengarah ke tempatnya duduk.

Warna-warna yang indah, batin Nini Kalakay. Anak-anak yang bahagia.

“Sampai!!!” Pekik anak berbaju putih begitu sampai terlebih dulu di puncak tanjakan. Tepat di hadapan Nini Kalakay yang nampak tersenyum melihat kelakuan anak-anak itu.

Rambut mereka masih kuyup. Sepertinya mereka baru saja selesai berenang.

Mata-mata yang berbinar. Senyum-senyum yang cemerlang. Kira-kira usia 10 tahunan. Tubuh-tubuh yang ramping dan hidup. Sembilan anak itu begitu cakap dan cantik, hingga susah menentukan apakah mereka itu lelaki atau perempuan.

“Sini, main di sini!” Nini Kalakay memanggil mereka.

Mereka tiba-tiba terdiam. Menatap ke arah panggilan. Menatap ke arah kecapi. Terus memandang ke arah rumah. Rumah bambu yang mungil tapi asri.

“Kenapa harus main di sini. Di sungai lebih asyik!” ujar anak berbaju hitam memecah hening.

“Di sini ada dongeng. Ada banyak dongeng. Siapa yang senang dongeng?” Nini Kalakay bangkit. Diangkatnya kecapi dari pangkuan dan hati-hati meletakannya di bangku. Hampir bungkuk dia berjalan ke arah pohon. Meraih sapu lidi yang berdiri tersandar.

Anak-anak mundur selangkah.

“Dongeng itu, kan, bohong!” kata anak berbaju hijau.

“Bukan bohong, tapi obat tidur,” timpal anak berbaju merah.

“Tapi, dongeng apa sih, Ni?” ujar anak berbaju ungu.

“Kalian senang dongeng, kan?” Nini Kalakay melambaikan tangan kirinya.

“Tentu saja. Kita semua kan bagian dari dongeng terindah,” jawab anak berbaju nila.

“Kata siapa itu?” Nini Kalakay menatap mereka dengan wajah yang terkejut.

“Kata mimpi kami. Kami sering mimpi yang sama, Ni!”

“Kalian mirip Nini. Dulu juga Nini dan Aki Tunggul sering bermimpi yang sama.”

“Bagaimana kalau kami adalah Nini, Ni?” ucap anak berbaju biru kemudian terburu-buru menutup mulut, seperti terkejut dengan ucapannya sendiri.

Anak-anak memang lucu, batin Nini Kalakay. Mereka mulai ribut sambil tetap waspada menatap. Mereka nampak mau namun takut.

“Dongeng itu seperti ini, lihat,” Nini Kalakay mulai menggerakkan sapu lidi. Menyapu daun-daun yang berserakan. Kosrak. Suara sapu lidi terdengar lembut di atas tanah, menggeser daun-daun, menyeret daun-daun. Kosrak. Suara itu terus lahir dari gerak sapu lidi. Hingga daun-daun terkumpul di dekat pohon yang tegak dan kokoh.

“Seperti apa, Ni?” hampir bersamaan mereka maju mendekat.

“Seperti daun-daun ini yang terkumpul. Nah, dongeng juga sama mengumpulkan mimpi-mimpi menjadi sebuah cerita. Cerita yang menarik, indah, dan tak terlupakan.” Nini Kalakay duduk di atas tumpukan daun. Tangannya memberi isyarat pada anak-anak untuk membawa kecapi ke arahnya.

Anak-anak saling pandang. Seseorang memberanikan diri menyentuh kecapi. Kemudian yang lain menyusul. Sembilan anak itu berkumpul mengelilingi kecapi. Tak lama, mereka mencoba mengangkatnya bersama-sama. Pelahan sekali mereka membawa kecapi itu ke pangkuan Nini Kalakay. Lantas mundur lagi serempak.

“Duduklah. Tanah tak akan membuat kalian kotor. Kita semua berasal dari tanah, berjalan di atas tanah, dan kelak akan tinggal di dalam tanah. Duduklah, kalian seperti malaikat yang dikirim langit untuk Nini.” Nini Kalakay tersenyum lembut, matanya berkaca-kaca dan ada linangan yang jatuh ke pipi.

“Oh, ini pasti dongeng tentang tanah ya, Ni?” Anak berbaju putih yang paling dulu duduk. Anak-anak lain mengikuti sambil tak henti saling lirik. Mereka mulai tersenyum. Barangkali penampilan Nini Kalakay dengan rambut putihnya itu menarik perhatian mereka.

Sembilan anak duduk setengah lingkaran menghadap Nini Kalakay. Mirip lengkung pelangi. Hanya saja ini diawali warna putih dan diakhiri warna hitam.

“Kenapa Nini menangis?” mereka bertanya berbarengan.

“Karena Nini bahagia,” jawab Nini Kalakay. Ia menatap anak-anak itu satu per satu. Ia berpikir sedang menatap dirinya sendiri. Ia tak tahu dari mana anak-anak itu datang. Tak pernah ia lihat di kampung ini. Tapi Nini Kalakay merasa tak perlu tahu tentang itu. Kedatangan mereka sudah melebihi apa pun yang ingin diketahuinya. Ia ingin membahagiakan mereka yang datang. Sekalipun sesungguhnya ia ingin membahagiakan Ki Tunggul, membahagiakan dirinya sendiri.

Tepat ketika setetes air mata dari pipinya jatuh di atas kawat kecapi, Nini Kalakay mendengar denting air di atas kecapi. Ia seperti tersadarkan. Jarinya pelan memetik. Lemah. Lama kelamaan denting kecapi terdengar. Merdu dan lincah.

Anak-anak itu mula-mulanya terkejut, lama-lama terhanyut alunan kecapi. Terhanyut merdu suara Nini Kalakay. Rajah terdengar. Sebuah cerita menetas di bawah langit senja.

Sesekali Nini Kalakay memejamkan mata sekalipun air mata terus mengalir dari matanya. Daun-daun terus berguguran. Tonggeret setia mengiringi kecapi dan suara Nini Kalakay.

Anak-anak larut dan hanyut. Sesekali terdengar tawa riang mendengar tingkah tokoh dongeng yang terlantun dalam pantun. Sesekali menangis jika mendengar kesedihan.

Langit mulai gelap. Azan magrib hadir memangkas cerita.

Nini Kalakay menarik napas panjang usai menghentikan tarian jari di atas kecapi, usai menghentikan dongeng yang belum tuntas.

“Kalian besok mau datang lagi ke sini?” ucapnya sambil berdiri.

Anak-anak itu mengangguk.

“Sekarang pulanglah, dongeng tadi belum tamat dan masih ada banyak dongeng lainnya. Kalian pulanglah, nanti dicari orang tua kalian.”

Anak-anak itu berdiri sambil saling berpandangan. Mereka tersenyum.

“Ayo, pulanglah.” Nini Kalakay berjalan sambil memeluk kecapi.

“Nini dulu yang masuk ke rumah. Nanti kami pulang,” jawab mereka bersamaan.

Nini Kalakay mengerutkan kening. Namun ia menurut, berjalan masuk ke rumah panggung. Menutup pintu. Dari dalam rumah ia mengintip ke arah anak-anak di halaman.

Anak-anak yang kemudian berlarian, saling kejar menuruni jalan setapak.

Ke sungai? Batin Nini Kalakay. Apakah mereka berasal dari bukit di seberang sungai itu? Nini Kalakay tak pernah mendengar ada perkampungan di bukit itu. Di bukit itu hanya ada kuburan. Ya. Kuburan Ki Tunggul.

Nini Kalakay lekas memasuki kamar. Hati-hati menyimpan kecapi. Diciumnya kecapi itu dengan gemetar. Mundur dengan gemetar. Menggelar sajadah. Lantas beranjak keluar untuk mengambil wudu.

Malam hari. Tidak seperti malam-malam sebelumnya, malam harinya Nini Kalakay tidak bercerita di hadapan kecapi. Dia menangis semalaman, menangis dengan bibir yang tersenyum. Sampai pada sebuah detik sebelum azan subuh mampir. Ia berbisik, “Ujang Pangpung telah pulang, Ki. Ia datang membawa sembilan anak yang sangat bahagia.”

Usai bisikan itu Nini Kalakay tertidur dengan senyum dan linangan air mata. Nun, dari arah sungai berkelebat sembilan warna, menari di atas rumah panggung kemudian masuk menembus genting dan bersarang ke tubuh Nini Kalakay yang lelap.

Sejak itu, setiap senja, Nini Kalakay selalu nampak duduk di bawah pohon beringin, memetik kecapi sambil menangis. Biasanya sampai azan magrib datang, namun tak jarang bertahan terus duduk di sana sepanjang malam, mengisahkan dongeng demi dongeng diiringi denting kecapi, di hadapan sembilan anak yang sangat setia. Sembilan anak yang datang dari sungai dan pulang ke sungai. Sembilan anak dengan sembilan warna. Sembilan warna yang setiap kali Nini Kalakay tidur, dari arah sungai akan melesat ke angkasa, menari di atas atap rumah, turun menembus genting dan masuk ke tubuh Nini Kalakay. 

Kedungpanjang, 2016


Toni Lesmana, lahir di Sumedang. Menulis dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Bukunya yang telah terbit, himpunan cerpen Jam Malam Kota Merah (Amper Media, 2012), Kepala- Kepala di Pekarangan (Gambang, 2015). Kini menetap di Ciamis, Jawa Barat.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Toni Lesmana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 16 Oktober 2016

0 Response to "Nini Kalakay"