Perempuan di Balik Jendela | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perempuan di Balik Jendela Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:27 Rating: 4,5

Perempuan di Balik Jendela

MASIH 30 menit lagi sebelum matahari tenggelem. Pulang kuliah, aku berjalan menuju rumah. Biasanya mahasiswa teknik semester awal memang pulang hampir malam. Terkadang pula aku tidak melihat matahari tenggelam.

Sampai di halaman, aku melihat seorang perempuan. Perempuan yang tampaknya masih seumuran denganku. Perempuan berambut panjang dan berkulit putih itu, lagi-lagi terlihat di balik jendela rumahnya.

Perempuan itu melihat ke arahku. Aku tidak tahu siapa namanya.

Terkadang aku senyum dan melambaikan tangan kepadanya, namun dia hanya diam tak membalas. Kejadian ini hampir terjadi setiap hari, ketika aku berjalan keluar rumah di pagi hari untuk berangkat kuliah, dan sore hari ketika pulang kuliah. Rumahnya memang tepat berada di samping rumahku.

Yang aku tahu dia hanya tinggal bersama seorang perempuan yang hampir paruh baya. Aku sering melihatnya di pagi hari, perempuan itu berjalan cepat masuk ke dalam rumahnya sambil menenteng tas. Aku juga sering melihatnya di malam hari, perempuan yang hampir paruh baya itu berdandan sempurna keluar dari rumahnya sambil menenteng tas yang sama.

Sampai di rumah, aku menyapa ayahku. Kami hanya tinggal berdua. Ibu sudah meninggal sejak umurku delapan tahun. Ibuku meninggal ketika melahirkan adikku. Adikku juga tidak bisa diselamatkan saat itu. ayahku tidak menikah lagi etelah itu. sepertinya ayah tidak terlalu khawatir aku tidak diasuh seorang ibu. Mungkin karena aku adalah anak laki-laki.

”Ayah, siapa perempuan berambut panjang yang sering berada di balik jendela rumah di samping rumah kita itu? Sepertinya masih seumuranku. Siapa namanya?“ tanyaku.

”Ayah tidak tahu siapa namanya,: jawab ayah sambil menyendok makanan di piring.

Aku memang sudah beberapa kali menanyakan pertanyaan yang sama sejak tiga tahun lalu, ketika kami mulai pindah rumah di sini. Sepertinya ayah juga tak mengetahui. Selama itu pula aku juga tidak pernah menambahkan pertanyaan lagi kepada ayah. Saat ini aku benar-benar penasaran tentang perempuan itu.

”Mengapa perempuan itu tidak pernah keluar rumah, Yah? Lalu siapa perempuan yang hampir paruh baya itu? Aku sering melihatnya pagi hari masuk rumah dan malam hari keluar rumah,“ tanyaku.

”Perempuan yang hampir paruh baya itu Ibu perempuan berambut panjang yang sering kamu lihat,“ jelas ayah. ”Ibu dan anak perempuannya itu memang tidak pernah keluar rumah untuk berbicara dengan tetangga.“

”Mengapa mereka seperti itu Yah?“

”Pak RT pernah bercerita, Ibu itu mulai tinggal di sini ketika hamil. 

Tidak ada suami dan tidak ada yang mengetahui pula siapa suaminya. Ibu dari perempuan muda itu bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka berdua.”

Aku hanya terdiam sambil mengunyah makananku. Aku mulai mengerti tentang mereka. 

”Warga memaklumi mereka berdua dan Pak RT juga mengizinkan mereka tinggal di sini seama bisa mengikuti peraturan di sini,“ jelas ayah.

***
PAGI ini aku berangkat kuliah. Ketika keluar rumah, aku tidak melihat perempuan itu berada di balik jendela rumahnya. Tidak biasanya terjadi.

Namun aku tidak memikirkan. Selama ini aku hanya penasaran saja sebagai seorang tetangga. Aku rasa akan lebih baik kalau saling bertegur sapa.

Hari ini aku pulang lebih awal dari biasanya. Sampai di teras rumah, aku sengaja tidak langsung masuk ke dalam rumah. Aku melempar tasku di kursi teras kemudian aku duduk di kursi sebelahnya. Cuaca hari ini memang panas sekali. Di luar sini lebih nyaman karena mendapat angin sepoi-sepoi.
Hembusan angin membuatku mulai mengantuk. Beberapa kali aku membenarkan posisi dudukku. Tiba-tiba perempuan itu berada di balik jendela rumahnya. Seolah-olah dia tahu aku berada di sini. Rasa kantukku menghilang karena aku mulai berpikir. Perempuan itu melihat ke arahku. Dia hanya diam saja seperti biasanya.

Aku enggan melambaikan tangan atau hanya untuk sekadar tersenyum. Mengingat sebelumnya keramahanku tidak pernah berhasil.

Perempuan itu tetap diam saja di balik jendela rumahnya. Entah yang dipikirkan. Sepertinya perempuan itu memang berbeda dari perempuan pada umumnya. Rasanya aku ingin menghampiri dan memulai percakapan. Akhirnya aku tidak melakukan karena aku ingat cerita ayahku. Perempuan itu dan ibunya memang tidak pernah keluar rumah untuk berbicara dengan tetangga. Mungkin mereka mempunyai maksud baik di balik itu semua.

Sebagai tetangga harusnya aku memang menghormati.

Sebelum masuk rumah aku mencoba melambaikan tangan dan senyum ke arah perempuan itu. Aku tak menyangka, dia langsung membalas senyumku dari balik jendela. Senyumnya sangat manis. Kemudian dia menghialng dari balik jendela. •

Afika Herma Wardani. 
Grejegan RT 1 Margokotan Seyegan Sleman Yogyakarta 55561

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Afika Herma Wardani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 28 Oktober 2016

0 Response to "Perempuan di Balik Jendela"