Pintu Hijau (10) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pintu Hijau (10) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:30 Rating: 4,5

Pintu Hijau (10)

SAAT itu aku menangkap dari gelagatnya Malina memang menginginkan segera pergi dari Pintu Hijau.

”Apa yang terjadi pada Pamanmu?”

Dalam waktu itu aku belum banyak tahu tentang riwayat Malina hingga ia bisa sampai ke Pintu Hijau. Bahkan aku belum nama pamannya. Pada pertemuan selanjutnya yang terjadi di pasar, aku tahu riwayat Malina hingga ia sampai di Pintu Hijau. Dan kelak, ketika catatannya ada di tanganku, aku mengetahui seluk-beluknya. Yang perlu kamu tahu, catatan Malina yang telah kamu baca, itu hanya sebagian saja. Yang lainnya, seperti kata Imah, tidak terselamatkan.

”Paman kemarin-kemarin datang dan sayangnya tidak menemuiku. Paman menemui Suliman. Aku lihat dari jendela kamar, sepertinya Paman dimarahi olehnya,” jawab Malina.

”Apa tugas Pamanmu di sana?” tanyaku.

“Paman yang membawaku ke Pintu Hijau,” jawab Malina.

Aku terdiam, mencoba mencerna kata-katanya.

”Datanglah besok siang ke pasar. Kita bertemu di sana, Bang,“ kata Malina.

Ia mengangka kakinya ke undakan andong. Malina naik ke andong dan beberapa saat lamanya hilang ditelan jalan lurus panjang, yang akhirnya menikung ke kanan.

Malam itu aku baru saja datang. Malam keempat.

Kakek berbaring di kamarnya dan setelah aku masuk buru-buru beliau mengambil posisi duduk.

Semenjak nenek meninggal tujuh bulan lalu, kakek memilih tinggal di rumah ini sendirian. Rumah yang jauh dari keramaian. Ia memersiapkan kebutuhan sehari-harinya sendirian. Kadang-kadang ibu dan aku datang ke rumah kakek dan membantu memersiapkan kebutuhan sehari-hari kakek.

Beberapa hari lalu, tepatnya sehari setelah malam pertama kakek menceritakan Malina, aku menceritakan semua yang kuingat pada ibu tentang kakek dan Malina. Kuceritakan pula pada ibu tentang sebutan tempat Malina: Pintu Hijau. 

Ibu memutuskan ikut ke rumah kakek. Ibu tertarik, ingin tahu lebih jauh tentang Malina dan Pintu Hijau, juga tentang kehidupan kakek di masa lalu, masa-masa kakek dengan Malina. Aku menyambut keinginan ibu dengan harapan kakek tetap akan menceritakan meski ibu juga mendengar. 

Aku masuk ke kamar kakek sendirian, sementara ibu kuminta menunggu di ruang tamu. Bila dapat persetujuan kakek akan kupanggil ibu.

”Panggill Ibumu, Nak,“ ucap kakek sesaat setelah aku masuk tanpa kuminta persetujuannya.

Segera kupanggil ibu.

Ibu masuk ke kamar dan kami duduk di kursi di dekat ranjang kakek. Maka di malam keempat itu, satu kursi yang kosong itu telah diisi ibu.

Kakek memulai ceritanya:

Aku menunggu Malina lama di pasar. Berjam-jam aku duduk saja di bangku tukang cukur di bawah pohon beringin. Tak henti-hentinya aku merokok saat itu dan kadang-kadanag aku mau muntah karena kebanyakan merokok. Dengan merokok, kalian tahu, barangkali aku dapat betah menunggu sampai Malina datang. 

Lepas tengah hari Malina belum datang dan pikiran macam-macam mulai menguasai kepalaku. Jangan-jangan Malina tidak akan datang, jangan-jangan terjadi sesautu pada Malina, atau jangan-jangan Malina menipuku. Aku tak tahu pastiny aMalina sampai lama datang.

Hari itu Selasa dan pasar tidak seramai Sabtu. Namun tak ayal aku merasa pasar serasa sesak dan banyak orang. Begitu matahari naik dan kemudian mulai condong ke barat, belum juga Malina datang. Aku masih menunggu. Begitu orang-orng sudah mulai pulang dan nyaris semua toko dan kios-kios tutup belum juga Malina datang. Aku hendak pulang saja ketika itu. Namun masih ragu-ragu. Akhirnya aku memutuskan datang ke Pintu Hijau dan akan langsung menemui Malina.

Seperti kukatakan di awal tentang jalan menuju Pintu Hijau, aku mengambil langkah menuju jalan berbatu sisi kiri pasar dan mengikuti jalan itu lepas dari pinggir lapangan bola. Baru lepas dari lapangan,aku melihat Malina dari arah berlawanan. Ia tergopoh-gopoh berjalan dan langkah-langkahnya cepat namun pendek karena kainnya yang ketat, kebayanya yang juga ketat. 

”Untung kamu belum pulang. Tadi kami dikumpulkan mendadak oleh Suliman,” katanya.

Ia terendap-endap dengan kata-katanya.

”Cepat kembali ke pasar, Bang!“

Malina menarik lenganku dan kami berjalan tanpa berbicara ke arah pasar dan masuk ke dalam pasar yang sudah sepi. Saat itu sudah sore. Hanya ada satu orang di pasar, yakni orang gila yang memang biasa menunggui pasar setiap harinya.

Kami mencari tempat di pojokan dan aku sudah menunggu dengan tak sabar yang akan dikatakan Malina. Kami duduk di lincak tempat kios bumbu, tepat di pojokan timur laut pasar. Aku masih ingat, di balik pagar pasar di belakang pojokan ada pohon beringin besar yang salah satu cabangnya condong ke kios bumbu tempat aku dan Malina duduk.

”Aku mendapat peringatan karena semalam aku diketahui tidak ada di Pintu Hijau,“ kata Malina waspada.

Aku menyimak seksama dan kekhawatiran muncul di dalam dadaku. Takut Malina diperlakukan tidak baik. Semalam itu Malina tidak pulang karena bersamaku.

”Apa peringatannya, Mal?“ tanyaku.

”Sementara aku tak boleh keluar ke mana pun. Termasuk ke pasar. Aku bahkan tak boleh membeli barang-barang untuk wajahku, Bang,“ jawabnya.

Kelak, saat Suliman tidak ada di Pintu Hijau, yang kata Malina selama satu bulan, yang ternyata dua bulan, Malina bisa keluar dengan beberapa alasan yang dibuat-buatnya. ”Bagaimana kalau kita lari sekarang saja, Mal,“ kataku setengah memaksa.  (bersambung)-c


Rachem Siyaeza: lahir di Pajagungan, 2 September 1988, sebuah kampung kecil di ujung timur Pulau Madura, Kuliah di  Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga tahun 2007 dan lulus 2015. Beberapa tulisannya termaktub dalam bunga rampai kumpulan ceriat pendek Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009), Tiga Peluru (Kummpulan Cerpen Pilihan Minggu Pagi Yogyakarta 2010, editor Latief Noor Rochmand) Riwayat Langgar (2011), Love Autumn (2012). Bermukim di Yogyakarta. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rachem Siyaeza
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 16 Oktober 2016

0 Response to "Pintu Hijau (10)"