Pintu Hijau (11) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pintu Hijau (11) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:10 Rating: 4,5

Pintu Hijau (11)

AKU genggam tangan Malina dan ia sedikit mengelak. 

”Tolonglah tahan emosimu, Bang. Pada saatnya mungkin aku akan kabur dari Pintu Hijau,“ tanggap Malina.

”Apa yang mereka lakukan padamu?“

”Tidak ada. Aku bilang terlalu lelah sehingga tertidur di rumah Mbok.“

”Siapa Mbok?“

”Tukang pijit yang memijit kami sehingga kami tidak hamil.“

”Aku sungguh ingin kamu segera bebas.“

”Sudah kubilang tahan emosi, Bang. Jangan tambah pikiranku menjadi semakin berat.“

Aku terdiam dan mencoba mengerti. Aku tahu Malina tak akan ke mana-mana sebelum nasib pamannya jelas. Aku lihat wajah Malina, yang ternyata lebih layu dan agak kurus dari sebelumnya. Malam sebelumnya, aku merasakan perubahan itu. namun karena malam itu aku lebih sibuk melepas rinduku padanya sehingga menjadi kurang begitu jelas, tapi sekarang ini, jelas sekali pipi Malina mulai mengempis dan tulang-tulang wajahnya mulai tampak sedikit menonjol. Matanya juga sedikit cekung di pinggir-pinggir matanya diliputi kehitam-hitaman, mungkin karena kelelahan jiwa dan raga.

”Hari ini aku tidak melayani lelaki sama sekali, Bang,“ kata Malina. ”Aku bilang aku sedang datang bulan.“

”Lebih baik kamu terus begitu saja.“

”Aku mau tapi tak bisa, Bang. Terlalu lama akan diperiksa.“

Malina terdiam. Seorang lelaki gila penghuni pasar menghampiri kami. Aku bergidik dan Malina tampak tenang saja menghadapi si gila. Orang gila itu semakin mendekat kami dan tertawa terbahak-bahak sambil jari telunjuk tangan kanannya mengarah pada kami, terutama padaku.

”Biarkan dia,“ kata Malina. ”Dia memang begitu pada orang yang baru dilihat. Setelah dia melihatku dia akan segera pergi.“

Orang gila itu masih saja tertawa melihatku dan aku ingin bereaksi andai Malina tidak memeringatkanku membiarkannya. Malina menghardik si gila dan dia seketika berhenti tertawa. Namun dia berbicara seolah-olah Malina temannya. ”Pasar sepi,“ katanya.

Lalu dia memain-mainkan jempol tangan kanannya di depan wajah Malina.

”Berikan korekmu, Bang,“ perintah Malina padaku.

Aku memberikan korekku dan si gila menerimanya sigap. Kemudian dia berlalu meninggalkan kami dengan tertawa lagi, keras. Sungguh sangat keras dan sebelumnya kupikir tidak mungkin dia tertawa sangat keras mengingat tubuhnya yang ringkih. Dia tertawa sampai tubuhnya terbawa suaranya yang membahana sepasar. 

”Bagaimana mungkin orang ringkih begitu sampai tertawa sangat keras,“ kataku.

”Bisa saja,“ tanggap Malina singkat. ”Pamanku sekurus dia tapi tidak ringkih.“

”Kenapa Pamanmu membawa kamu ke tempat terkujut itu, Mal?“ tanyaku.

Malina tidak menanggapi. Ia merasa kesulitan menjawab.

”Siapa nama Pamanmu?”

”Debing. Paman membohongi Ayah dan Ibuku. Paman mengatakan akan menguliahkanku pada mereka. Mungkin sampai sekarang orangtuaku mengira aku kuliah di sini.“

”Kejam sekali dia.“

”Sampai sekarang aku tidak tahu pasti kenapa Paman bisa berbuat begitu padaku. Sangat jarang aku bertemu Paman. Padahal aku mengharapkan penjelasan darinya kenapa dia berbuat begitu padaku. Mungkin Paman bisa membawaku pulang.“

”Ayo temui Pamanmu, Mal.“

”Tidak bisa, Bang. Seperti sebelum-sebelumnya kalau Paman sudah datang, biasanya akan lama untuk kembali lagi ke Pintu Hijau.“

”Apa yang bisa kita lakukan?“

”Tidak ada, Bang. Kecuali berharap.“

”Harapan yang bagaimana, Mal?“

”Iya, berharap kehidupan seperti ini segera berakhir.“

”Apa yang bisa ditunggu? Adakah kemungkinannya?“

”Sangat kecil.“

Malina menghembuskan napas. Lagi-lagi ia terdiam beberapa saat. Aku terbawa kondisi Malina. Di samping itu, aku sudah tak tahu lagi yang bisa kukatakan. Seperti kata Malina, segala kemungkinan mengakhirinya dari Pintu Hijau sangat tipis. Dan kukira, bahkan tak ada kemungkinan.

”Aku sepertinya harus terus di Pintu Hijau sampai tak ada yang mau berkunjung padaku dan dengan sendirinya aku akan dibuang dari Pintu Hijau. Itu masih beberapa tahun lagi, Bang, kalau umurku sudah tidak lagi semuda ini.“

”Aku akan menunggumu sampai kamu dikeluarkan dan akan aku antar kamu pulang ke Sungarima menemui orangtuamu. Setelah itu kita menikah dan hidup normal layaknya orang-orang.”

Ketika aku berkata begitu, aku tatap mata Malina dan kupegang bahunya erat-erat.

”Itu tidak akan terjadi, Bang. Kamu akan segera meninggalkanku,“ ujarnya.

Saat itu, entah kenapa, aku merasa tak akan meninggalkan Malina sampai kapan pun. Dan aura Malina dapat kutangkap, ia tak menginginkan aku meninggalkannya. Kelak setelah aku kesulitan menemui Malina yang kurasa ini benar sebagaimana yang dikatakan Imah, di pasar ini juga.

”Aku tak akan pernah meninggalkanmu....“

”Kamu akan menyesal berkata begitu padaku, Bang. Kamu jangan terlalu berharap lebih dariku. Aku tidak bisa terlalu diharapankan.“

”Akan kubuktikan kalau ucapanmu itu salah, Mal.“

Aku buat wajahku menjadi tegas, meski saat itu aku tak tahu yang bisa kulakukan untuk mewujudkan harapanku. Malina tersenyum berat padaku. Sekilas aku menangkap semangat di wajahnya yang berselimut kesenduan-kesenduan yang seperti tak akan menemukan ujung akhir, ”Semoga kamu tidak menyesal bilang begitu, Bang.“

”Akan kubuktikan, Mal,“ kataku lagi. ”Kapan kita bertemu lagi?“

”Datanglah dua malam lagi ke Pintu Hijau. Suliman pergi selama satu bulan.“

”Baiklah.“

”Hati-hati dan jangan sampai mencolok wajahmu.“

”Iya.“   (bersambung)-c


Rachem Siyaeza: lahir di Pajagungan, 2 September 1988, sebuah kampung kecil di ujung timur Pulau Madura, Kuliah di  Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga tahun 2007 dan lulus 2015. Beberapa tulisannya termaktub dalam bunga rampai kumpulan ceriat pendek Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009), Tiga Peluru (Kummpulan Cerpen Pilihan Minggu Pagi Yogyakarta 2010, editor Latief Noor Rochmand) Riwayat Langgar (2011), Love Autumn (2012). Bermukim di Yogyakarta. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rachem Siyaeza
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 23 Oktober 2016

0 Response to "Pintu Hijau (11)"