Pintu Hijau 12 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pintu Hijau 12 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:07 Rating: 4,5

Pintu Hijau 12

MALINA memegangin tangan kananku.

”Aku pulang,“ ucapnya dan segera ia berlalu dari pojokan pasar, keluar dengan langkah cepat pendeknya itu.

Dua malam kemudian, sebagaimana yang diminta Malina, aku datang ke Pintu Hijau. Kamar Malina tertutup tetapi tidak dikunci. Aku masuk saja dan Malina tidak ada di dalam kamarnya. Aku menungguinya dan tidak lama kemudian Malina masuk dengan wajah tegang dan terburu-buru menutup pintu.

Saat itu aku terkejut mendapati Malina berwajah pucat. Kepucatan wajahnya menjadi semakin jelas dan menakutkan setelah ia mengambil lentara dari dinding dan mendekatkan ke wajahnya. Wajahnya, sekali lagi, pucat bercampur tegang dan takut. Garis-garis kehitaman di pinggir matanya semakin pekat. Cukup mudah aku menebaknya saat itu sebelum aku tahu apa yang terjadi pada Malina. Malina baru saja mengeluarkan darah cukup banyak.

”Aku dipanggil dan diperiksa, Bang,” katanya dalam ketegangan.

”Mereka mengetahuinya?”

Jantungku berdebar cepat saat itu.

”Tidak!“

”Syukurlah.“

Keteganganku mereda.

Lalu kami sama-sama diam saat itu. Malina duduk di kursi meja rias. Sesekali ia bercermin enggan-engganan. Lentara yang sudah ia letakkan di sisi lain meja bagai membeku, seolah menebarkan cahaya sama enggannya dengan Malina.

Aku mengamati Malina dari ranjang tempatku duduk. Untuk pertama kalinya sejak aku bertemu Malina, aku melihat perubahan drastis pada perempuan itu: kepucatan wajahnya, dibarengin tubuh yang mulai kurus menyusut. Ia yang duduk menghadap cermin, punggungnya terlihat rapuh. Seperti akan runtuh kalau disentuh sedikit saja. Saat itu, aku tak tahu sepenuhnya yang terjadi pada Malina.

Aku tidak setiap saat bersama dengannya dan tentu saja aku tidak tahu yang ia lakukan selama tidak denganku. Apa yang ia pikirkan, yang ia inginkan sebenarnya? Aku tak bisa menduga-duga, dan untuk hal-hal tertentu Malina seperti menutupi seusatu dariku.

Pikiran-pikiran semacam itu, memberiku serangan perasaan yang bercampur-aduk tak menentu. Pikiranku mengasihaninya sering kali timbul. Pikiran akan sering kali timbul. Pikiran akan penderitaan yang lebih dari yang kutahu sering memenuhi kepalaku tanpa bisa kucegah.

Kunjungan pertamaku ke Pintu Hijau setelah aku diusirnya beberapa bulan lalu, tidak bisa tidak membuatku bertanya-tanya dan mengira-ngira.

Apa saja yang terjadi pada Malina selama beberapa bulan itu? Kenapa wajahnya pucat dan tubuhnya seperti terus menyusut kurus? Dan ia tidak merias wajahnya sebagaimana mestinya. Rambutnya, kulihat acak-acakan dan mungkin sudah lebih dari dua hari tidak dibasahi. Lagi-lagi aku berpikir ketika aku mengamati tengkuknya, entah kenapa, pikiran bahwa Malina akan merapuh timbul lagi, dan karena itu perasaan kasihan dan ingin terlibat serta merasakan yang ia pikirkan dan derita semakin merasuki pikiranku.

Masih saja aku terbawa lamunan-lamunanku ketika pintu kamar Malina terbuka pelan-pelan, seperti memang sengaja dibuka pelan dan hati-hati. Kulihat Imah masuk. Dia membawa semacam alat obat luka.

”Dia tidak memberitahumu?“ tanya Imah padaku.

“Memberitahu apa?” Aku balik bertanya.

”Malina melukai lengan kirinya.”

Aku terlonjak kaget dan menghampiri Malina. Kuraih tangan kirinya dan menyingkap lengan bajunya, memang benar lengan Malina terluka. Lengannya dibalut kain yang dipenuhi darah.

“Apa yang terjadi pada Malina, Imah?”

”Malina melakukan itu untuk mengelabui Mudinar,” jawab Imah.

Malina yang duduk di kursi rias itu menggigit bibir bawahnya. Lalu ia merobohkan kepalanya padaku. Kepalanya bersandar di pinggangku. Ia diliputi kebisuan. Aku yang berdiri di samping kanan Malina, melihat tangan perempuan itu terjatuh di meja rias. Imah menyingkap lebih ke atas lengan panjang baju Malina. Di lengan dalamnya, sebuah irisan luka sedikit menganga aku lihat setelah Imah melepas balutan kain yang menutupinya. Aku mengira-ngira, irisan itu panjangnya lebih tiga centi meter, dan dari darahnya yang masih merembes irisan luka itu berumur tidak lama.

”Menjelang malam tadi Malina melakukannya. Sebelum dia dipanggil oleh Mudinar untuk ke ruangan tempat biasa kami dikumpulkan,” kata Imah.

Kelak aku tahu, Mudinar salah satu dari tiga orang lelaki yang biasa berada di situ, yang menjaga tempat itu sekaligus dalam kondisi tertentu. Lelaki itu memaksa-maksa salah satu dari perempuan Pintu Hijau untuk melayaninya, termasuk Malina.

”Darahnya sampai banyak keluar,” kata Imah.

Saat Imah mengatakan itu, perasaanku teriris-iris dan sakit. Sama sekali aku tak menyangka Malina akan melukai dirinya.

Imah membubhkan obat luka pada luka lengan Malina. Obat itu berwarna merah pekat, aku ingat sekali. Sepanjang Imah mengolesi luka Malina, kulihat Malina tetap dalam posisi menggigit bibir. Pasti ia menahan perih dan sakit. Lalu Imah memasnag kain baru untuk menutupi luka Malina.

”Aku melarang Malina melakukannya, tapi dia bersikeras,“ kata Imah sambil mengikatkan kain pembungkus luka lengan kiri Malina. ”Malina sangat berharap padamu, Bang Rusydi.“

Mendengar Imah mengatakan demikian, Malina menegakkan kepalanya dan ia melihat wajah Imah. Dipegangnya salah satu tangan Imah dengan tangan kanannya. Aku kembali duduk ke ranjang.

”Kamu tak perlu mengatakan apa pun,“ ujar Malina.

”Tanpa aku mengatakan apa pun, dia akan mengetahuinya sendiri, kalau dia punya perasaan untuk merasakan,“ kata Imah yang segera membenahi lengan baju Malina.

”Sebaiknya kamu jangan berbicara apu pun,“ kata Malina lagi. (bersambung)-c


Rachem Siyaeza: lahir di Pajagungan, 2 September 1988, sebuah kampung kecil di ujung timur Pulau Madura, Kuliah di  Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga tahun 2007 dan lulus 2015. Beberapa tulisannya termaktub dalam bunga rampai kumpulan ceriat pendek Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009), Tiga Peluru (Kummpulan Cerpen Pilihan Minggu Pagi Yogyakarta 2010, editor Latief Noor Rochmand) Riwayat Langgar (2011), Love Autumn (2012). Bermukim di Yogyakarta. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rachem Siyaeza
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 30 Oktober 2016


0 Response to "Pintu Hijau 12"