Pintu Hijau (8) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pintu Hijau (8) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:21 Rating: 4,5

Pintu Hijau (8)

ADA kesedihan dalam suara Malina, getarnya mengirimkan semacam kesenduan aneh dan mengkhawatirkan. Jelas aku menangkapnya dari aura wajah bulatnya yang terpancar.

”Aku telah menyadarinya, Mal. Karena itulah aku tak menginginkan apa pun darimu,” kataku setegar mungkin. 

”Dengan kamulah. Sungguh.“

Yang kelak aku tahu kalimatku itu, yang kukatakan sebenar-benarnya, dituliskan kembali oleh Malina dalam catatannya.

”Sebaiknya kamu pulang saja. Sudah waktunya. Dan lupakan yang dari tadi aku katakan. Jangan pernah kembali lagi ke sini, Bang,“ kata Malina.

Ia berdiri dan membuka pintu seolah aku diusirnya. Imah yang duduk diam di teras angkat bicara.

”Mengapa kamu mengusirnya?“ tanya Imah tidak mengerti.

”Ia terlalu payah,“ jawab Malina.

Kukiran sekenanya ia menjawab. 

”Kamu berbohong padaku. Aku mendengar yang kalian bicarakan.”

Malina tak menanggapi lagi perkataan Imah dan beralih berkata padaku yang terdiam di bawah palang pintu, dan daun pintunya yang berwarna hijau penuh itu. Imah masuk ke kamarnya. Seorang lelaki muda dan kurus yang tiba-tiba datang menyusul di belakang Imah.

”Pulanglah dan jangan kembali ke sini,“ kata Malina.

Aku menurut saja dan pulang dengan setengah berlari menembus kegelapan malam. Dadaku remuk-redam hancur lebur ketika itu. Segera setelah sampai di tempat penampungan buruh kereta api, aku terbaring tapi sama sekali tak bisa tidur hingga pagi menjelang. 

Dulu untuk sampai ke Pintu Hijau, dan kalau posisimu sedang berada di pasar, kamu cukup mencari jalan berbatu-batu agak lebar yang terletak di sisi kiri pasar. Ikuti jalan itu sampai lepas dari lapangan bola tapi seingatku tak pernah dipakai main bola, di pinggir jalan. Terus saja sebentar dan kamu akan bertemu pohon ketapang besar. Itu pohon yang tumbuh di pinggir jalan dan di bawah pohon itu sebuah jalan lurus akan mengantarmu ke Pintu Hijau.

Sekarang kamu lihat. Pintu Hijau telah berganti gedung perkantoran pemerintahan daerah. Jalan yang tadi kusebutkan telah lenyap tanpa jejak sama sekali. Begitu juga lapangan bola. Namun di dalam kepalaku jalan itu masih ada dan sering kali aku mengingatnya.

Kalau kamu pernah melihat sebuah toko batik besar bertuliskan McSlam, aku ingat sekali posisinya, toko itu dulu tempatku membeli sabun Bunga Permata yang mengantarku pada Malina. Toko itu kecil dan terlalu menjorok ke depan, tapi toko itu telah kehilangan dirinya. Ia telah berganti butik batik yang seperti tampak tidak punya masa lalu. Tapi toko itu, aku tahu, punya masa lalu. Masa lalu kami ada di situ. Aku sealu mengenangnya, Nak. 

Setelah aku diusir Malina, aku menyangka tak akan bertemu lagi dengannya. Sebenarnya bisa saja aku datang ke Pintu Hijau dan menemui Malina. Tapi aku tak melakukan itu dengan pertimbangan aku tak akan diterimanya. Sekitar satu bulan lebih aku tak bertemu Malina. Malam-malamku sehabis bekerja memerbaiki rel kereta api atau membangun stasiun, aku habiskan dengan menderita. Tak bisa tidur, tak enak makan, dan tentu saja ingin segera bertemu Malina.

Kamu tahu sendiri bagaimana yang terjadi terhadap orang yang mengalami perasaan sepertiku. Perasaan jatuh cinta dan kita tak akan lagi peduli pada siapa kita jatuh cinta. Andai pun semua orang di duia sama-sama memintaku melupakan Malina, dan diperlihatkan ketakpantasan perempuan itu untuk diharapkan, tetap aku akan menolaknya. Semua petuah dari yang bijak sekali pun, kata-kata manis dan lembut apalagi kasar, sama sekali tak akan berguna menghapus Malina dalam kepalaku.

Sementara aku tetap bekerja meskipun tanpa bergairah, dan kerjaku asal-asalan saja. Sering aku dimarahi mandor dan aku diancam diberhentikan bekerja. Pada suatu kesempatan aku dipanggil mandor dan aku benar-benar diberhentikan. Saat itu aku sudah tidak peduli dengan yang terjadi dan memang sepertinya berhenti dari kerja hal yang kuharapkan. Aku menerima pemberhentian tanpa sedikit pun bernegosiasi. Konsekuensinya, aku tidak punya tempat tinggal dan aku menjadi gelandangan. Tapi itu hanya sebentar saja. Tak sampai satu minggu aku menggelandang.

Sisa uang yang ada di sakuku telah memberikan jalan cukup mudah. Aku menyewa kamar kos bulanan. Sebenarnya, saat itu aku berpikir pulang saja pada hari di mana aku telah diberhentikan kerja. Tapi entah kenapa aku masih menanam keyakinan akan bisa bertemu lagi dengan Malina. Karena pikiran semacam itu di saat-saat tertentu aku menjadi kuat.

Dua bulan setelah aku diusir Malina, dan kamu tahu sendiri rasanya waktu dua bulan di tengah situasiku terasa sangat lama seperti bertahun-tahun, ingatan dan kerinduan pada Malina semakin menguasaiku tanpa ampun. Perasaanku campur aduk tak menentu. 

Pernah aku berpikir menceburkan diri ke sungai melalui jembatan di belakang kosku. Tapi itu tak jadi aku lakukan hanya karena saat aku sudah di jembatan, ternyata banyak orang memancing. Ketika itu aku sama sekali tak memiliki pikiran panjang. Yang ada aku selalu diterpa pikiran-pikiran buruk. Rencana-rencana buruk dan kerap aku mengambil kesimpulan bahwa sebaiknya aku memang mati saja.

Pada masa-masa itu, sering aku melamun sendirian di pinggir jembatan tanpa memedulikan orang-orang yang memancing. Aku melamun sampai tengah hari. Tengah hari selanjutnya aku hanya pindah tempat melamun saja. Pindah ke samping jembatan dan di pinggir sungai sampai malam menjelang. Malamnya, aku mendekam saja di kamar kos, tidak pernah menyapa penghuni kos lain. Penghuni kos yang kuketauhi terdiri dari para buruh, pedagang dan pengamen. Pengamen juga punya kos. Ini aneh, dugaku ketika itu, tapi begitulah.

Waktu itu terpikir olehku mencari penghiburan, yang mungkin bisa meredam perasaanku. Dengan sisa uang yang ada, aku membeli radio dan gitar. Kelak, gitar itu mengantarku bergabung dengan para pengamen di kereta api dan perempatan-perempatan. Salah satu dari pengamen itu ngekos satu kompleks denganku. Saat itu kemampuanku bergitar sudah cukup. Tentu amatir. Ada pun aku bisa bergitar sudah sejak masih sekolah menengah atas.

Karena radio yang kupunya itu, yang salurannya aku putar pada saluran yang sering diputer Malina, akhirnya aku berpikiran mengunjungi Malina dengan dugaan aku akan ditolak olehnya. Ada sebuah lagu yang selalu Malina tunggu kumandangnya. Judulnya Hey Jude. Malina menyukai lirik awalnya: 'Hey Jude, donit make itu bad....' Di tahun 70-an lagu itu memang sering terdengar di radio.   (bersambung)-c


Rachem Siyaeza: lahir di Pajagungan, 2 September 1988, sebuah kampung kecil di ujung timur Pulau Madura, Kuliah di  Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga tahun 2007 dan lulus 2015. Beberapa tulisannya termaktub dalam bunga rampai kumpulan ceriat pendek Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009), Tiga Peluru (Kummpulan Cerpen Pilihan Minggu Pagi Yogyakarta 2010, editor Latief Noor Rochmand) Riwayat Langgar (2011), Love Autumn (2012). Bermukim di Yogyakarta. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rachem Siyaeza
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 2 Oktober 2016

0 Response to "Pintu Hijau (8)"