Pintu Hijau (9) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pintu Hijau (9) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:14 Rating: 4,5

Pintu Hijau (9)

SUATU malam aku mendatangi Pintu Hijau dan mengendap-endap di balik pohon ketapang. Aku tak berani masuk. Saat itu aku hanya menunggu pintu kamar Malina terbuka dan berharap Malina keluar kamar. Maka aku akan memanggilnya, begitu aku berencana.

Waktu itu dengan cukup jelas aku melihat Suliman. Dari balik pohon ketapang aku melihat Suliman duduk di beranda rumah di bagian kanan kompleks Pintu Hijau. Di sana cahaya cukup terang oleh beberapa lentera minyak yang digantung dan yang menempel di dinding; juga lentera di meja. Ada empat orang di situ; Suliman, tiga orang lelaki lainnya yang tak kutahu siapa nama mereka. Nanti aku tahu salah satu dari tiga orang itu namanya Mudinar, sementara dua lainnya aku tidak pernah tahu. Malina dan Imah tak pernah menyebut nama mereka berdua.

Suliman memiliki mata yang seperti terus emnatap dan mengancam. Dia jangkung dengan kumis tebal dan jenggot tak begitu panjang dan terawat. Kesimpulanku setelah melihat Suliman dari jauh, dia terlihat seperti lelaki tangguh dan perkasa. Bajunya yang abu-abu pudar dimasukkan ke dalam pinggang celana yang juga abu-abu pudar sehingga nampak gagak. Kesimpulanku tentang Suliman itu kelak menjadi mentah setelah membaca salah satu surat Malina.

Setelah aku memperhatikan Suliman dan anak buahnya itu, aku lihat Malina keluar kamar. Yang kulihat, Malina keluar hanya untuk mengeluarkan dan memasukkan lelaki ke kamarnya. Begitu terus sepanjang malam, keluar lelaki dan masuk lelaki.

Kamu tahu bagaimana perasaanku saat itu?

Hancur sehancur-hancurnya. Dengan perasaan begitu, aku tetap bertahan di sana sampai tempat itu sepi dan pulang ketika dini hari. Dan sekali lagi, dengan membawa perasaan hancur dan lebih hancur dari sebelum-sebelumnya.

Aku pulang dan langsung merobohkan diri di kamar kos. Pintu tidak kututup. Entah berapa lama kemudian saat itu,  tiba-tiba ada Malina amsuk ke dalam kamarku. Sekejap perasaanku yang hancur menghilang dan aku melepas rindu pada Malina.

"Aku mengikutimu tadi, Bang," kata Malina.

"Besok malam aku akan kembali lagi ke sini," lanjutnya dan ia pulang.

Aku hendak mencegahnya tapi Malina berlalu begitu saja. Sedangkan aku diam tak mengertidan juga heran bagaimana Malina bisa tahu kalau aku ke Pintu Hijau.

Esok malamnya, pada tengah malam yang larut, Malina datang ke kosku. Ia datang dengan langkah hati-hati dan seperti khawatir ada yang membuntuti. Kamu tahu, Nak? Seharian tanpa berbuat apa pun aku menunggu Malina dan sama sekali tak ada kata sabar.

Aku keluar masuk kamar kos, duduk di bawah palang pintu, berdiri dan melihat ke jalan depan kos. Menghibur diri, bahwa jangan-jangan Malina datang lebih awal, ata datang pada siangnya, atau sorenya. Tapi tidak, ia datang di tengah malam yang sudah larut. Datang tepat ketika sedikit pun aku sudah kehabisan kesabaran menungug kedatangan Malina.

Aku langsung membawanya ke kamar.

"Kenapa kamu mengusirku dan kenapa kamu menyuruhku tidak kembali ke Pintu Hijau?" tanyaku.

Kata-kataku seperti tampak kata-kata seseorang yang sedang menginterogasi.

"Aku memang harus mengusirmu, Bang."

"Apa yang terjadi, Mal?" Aku meraba-raba yang dikatakan.

"Bisa-bisa kita tidak akan bertemu lagi kalau aku tidak mengusirmu, Bang?" ucapnya. "Kami dilarang menemui pengunjung tetap, apalagi sangat sering. Itu mencurigakan. Kami dilarang mempunyai perasaan pada salah seorang yang datang pada kami. Dan pengunjung yang sama setiap malamnya, pada akhirnya diduga kekasih, oleh Suliman Prihatin diduga akan membawa kami pergi."

Malina menarik napas dalam-dalam dan diam beberapa saat.

"Terlebih mereka tak akan segan-segan memukuli pengunjung yang sama," katanya. "Bahkan kamu, Bang, masuk dalam catatan orang yang dicari. Tidak menutup kemungkinan kamu akan dicelakai."

Aku lihat wajahnya yang bulat dalam posisi menunduk. Rasa takut dan khawatir menggantung di matanya.

"Kalau begitu aku akan membawamu," kataku. "Ceritakan padaku jalan ke rumahmu di Sungairima, Mal."

Malina tersenyum ringan saat aku mengatakan demikian.

"Sewaktu berangkat dari rumah dulu, aku diantar Ayah naik sepeda ke tempat ojek. Paman lebih dulu diantar. Lalu aku dan Paman naik ojek sekitar satu setengah jam ke terminnal. Kemudian naik bus sepanjang malam, diteruskan naik kapal laut sekitar setengah jam. Lalu kami naik angkutan umum menuju stasiun kereta. Kami naik kereta sepanjang hari dans ampailah di stasiun kota ini.

"Kalau begitu kita lari, Mal. Bukankah kamu sudah cukup paham jalan pulang?" kataku sabar.

Malina tak menanggapi apa-apa selanjutnya. Dari matanya, gampang aku menangkap ia kelelahan. Bibirnya sedikit pucat dan ia  mengalami sedikit ganguan pernapasan saat itu. Mungkin ia kedinginan.

Untuk waktu yang cukup lama Malina masih tak berbicara apa-apa dan aku membiarkan saja ia dalam keadaan begitu. Ia terlentang menatap langit-langit kamar dari kasur kos yang terhampar di lantai. Matanya berkedip pelan dan sesaat kemudian ia tertidur. Aku juga tertidur di sampingnya tanpa lebih dulu mematikan lentera minyak di dinding.

Esoknya, di waktu yang masih pagi ia buru-buru bangun  dan pamit pulang.

"Aku tak punya rencana nginap di sini. Aku kelelahan. Terlalu banyak yang kulayani semalam," katanya sambil berkemas.

Aku emngantar Malina pulang sampai ke tempat andong yang ditaksikan. Di jalan sebelum sampai di tempat andong, kami berbicara. Sambil Malina berbicara, tak henti-hentinya ia memegang ujung penutup kepalanya, menutupi mulut supaya tak dilihat orang.

"Kalau malam mungkin aku jalan kaki saja, Bung. Tapi siang begini aku takut dilihat orang dan mungkin saja orang yang melihat mengatakan pada orang-orang di Pintu Hijau. Itu akan menimbulkan masalah," kata Malina.

"Sebaiknya kamu jangan ke sini lagi. Biar aku ke sana," kataku.

"Atau aku jemput kamu di bawah pohon ketapang."

"Tidak perlu. Tak ada masalah kalau aku sendirian berjalan ke sini. Tidak terlalu jauh."

"Sebaiknya, secepatnya kita rencanakan pelarianmu, Mal," kataku.

Aku cukup tegas  mengatakan itu dan andai Malina menghendaki, aku akan menyiapkan segala sesuatunya untuk lari bersama Malina. Aku akan mengantarnya pulang ke Sunngarima dan aku akan menikahinya.

"Aku tak bisa meninggalkan Paman, Bang," tanggap Malina seketika kesenduan meliputi wajahnya.  (bersambung)-c


Rachem Siyaeza: lahir di Pajagungan, 2 September 1988, sebuah kampung kecil di ujung timur Pulau Madura, Kuliah di  Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga tahun 2007 dan lulus 2015. Beberapa tulisannya termaktub dalam bunga rampai kumpulan ceriat pendek Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009), Tiga Peluru (Kummpulan Cerpen Pilihan Minggu Pagi Yogyakarta 2010, editor Latief Noor Rochmand) Riwayat Langgar (2011), Love Autumn (2012). Bermukim di Yogyakarta. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rachem Siyaeza
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 9 Oktober 2016

0 Response to "Pintu Hijau (9)"