Pungli | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pungli Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:17 Rating: 4,5

Pungli

KAMSI hilang. Sudah tiga hari ini ia tidak lagi beredar di pasar. Biasanya, jam tujuh pagi ia sudah berada  di pasar. Mendatangi lapak siapa pun pedagang yang ia suka. Apalagi kepentingannya kalau tidak dimintai upeti. Dengan menghilangnya Kamsi itu, tentu saja banyak pedagang di pasar yang lega.

Rupanya, sisa suasana operasi pasar saat itu benar-benar membuat Kamsi tiarap setara tanah. Kabarnya, bahkan, di kampungnya, ia juga sudah tidak ada. Lantas kemanakah ia? benarkah ia ke rumah saudaranya di luar kota untuk sembunyi sementara waktu? Banyak isu yang beredar mengenai menghilangnya Kamsi. Dan isu yang paling panas adalah bahwa ia menghilang karena diculik oleh aparat!

***
TENTU saja isu menghilangnya ia karena diculik aparat disanggah banyak orang di pasar itu. Banyak pedagang yang tidak percaya.

"Tidak mungkinlah ia diculik aparat. Zaman sekarang, aparat tidak akan bermain sekasar itu. Sekarang ada pasal tentang HAM atau Hak Asasi Manusia segala. Cara memerlakukan penjahat pun tidak boleh semena-mena. Bisa-bisa malah aparatnya yang dipersoalkan," ujar salah seorang pedagang yang lumayan cerdas pikirannya.

"Bisa saja kabar semacam itu dihembuskan oleh pihak Kamsi sendiri supaya kehilangannya bisa bernilai perlente," imbuh pedagang lainnya.

"Ah, kok malah kita yang terjebak bicara seolah-olah teradu-domba," kata pedagang lainnya.

"Ya, itulah bodohnya kita. Mudah amenelan isu dan membicarakannya," tukas pedagang lainnya dengan nada ketus.

Yang pasti, lebih dari sebulan sejak operasi pasar selesai, Kamsi masih tetap hilang.

****
SEBENARNYA, banyak tema pembicaraan di pasar itu yang bernilai hangat dan seru. Selain soal Kamsi, yang sering muncul adalah mengenai harga bahan makanan di pasar yang naik turun tidak menentu. Minggu ini telur ayam harga sekian, minggu depan bisa naik menjadi sekian, minggu depan menjadi sekian, dan minggu depannya lagi malah langka, menghilang dari peredaran. Hanya beberapa saja yang masih menjual. Begitulah harkat dan martabat pasar, riuh dengan silang sengkarut kabar, harga, dan nasib.

***
DUA bulan sudah Kamsi hilang, tiba-tiba ia muncul lagi di pasar itu. Saat itu ia datang bersama empat orang yang berperawakan sama dengan dirinya. Jadi, sekilas mata memandang, ada lima orang Kamsi. Saat muncul itu, penampilan mereka juga sama: mengenakan baju batik yang seragam, juga celana jeans yang seragam warnanya.

Pedagang seisi pasar pun heboh. Sepak terjang apalagi yang dilakukan oleh Kamsi? Apa tujuannya mengecoh orang dengan "membelah diri" menjadi lima? Jawabannya mudah saja. Sesuai pengakuannya sendiri, yang kemudian terkabarkan dari satu pedagang ke pedagang lainnya, ia sengaja seperti itu memang supaya mengecoh aparat. Ternyata, ia merasa, selama ini ia memang sudah diincar aparat. Dan para aparat itu, menunggu saat yang tepat untuk menangkapnya. Mengenyahkannya dari pasar. Mengenyahkannya sebagai benalu dan sampah masyarakat. Tapi, dengan kemunculannya bak "membelah diri" menjadi lima seperti itu, seolah-olah ia juga menantang aparat dan tidak mau pergi dari pasar itu. Setidaknya, ini adalah anggapan penilaian lainnya.

Kemunculan Kamsi menjadi lima orang saat itu pastilah membuat gerah para pedagang pasar itu. Meskipun kemunculan Kamsi dan mereka yang mirip dirinya itu belum beraksi mendatangi setiap pedagang dan meminta jatah uang keamanan, namun para pedagang yang mendengar dan tahu Kamsi datang lagi mulai menunjukkan sikap melawan. Mereka seolah memasang kuda-kuda keberanian untuk melawan Kamsi dan sejumlah orang yang mirip dirinya itu.

"Pokoknya begitu datang lagi ke lapak kita di sepanjang gang ini, langsung saja kita teriakin preman tak tahu malu. Oke?" ajak seorang pedagang.

"Oke. Tak hanya itu kita teriaki  dengan kata-kata apapun supaya dia segera enyah," respons pedagang lainnya.

"Pokoknya sikat!" pekik pedagang lainnya lagi.

"Sikat habis!" rutuk seorang pedagang perempuan.

"Gasak tanpa ampun!" hujat pedagang yang berkepala gundul.

"Sudah saatnya kita menunjukkan perlawanan. Enak saja minta-minta. Memangnya kita sendiri tidak bisa menjaga keamanan pasar ini? Kalau ada yang hilang bukankah sebenarnya hanya dia yang berulah?" ujar pedagang yang paling tua di sepanjang lapak di gang sempit pasar itu.

Benarlah, ketika Kamsi datang ke gang itu, sejumlah pedagang langsung meneriaki dirinya. Kamsi pun panik.

"Dengar dulu, dengar baik-baik.. Aku datang ke sini untuk minta maaf atas tabiatku selama ini. Setelah itu aku akan pergi merantau. Gang ini adalah gang pertama yang kudatangi, baru yang lain, hingga semua gang di dalam pasar ini. Aku sengaja mengecoh dengan mengajak sejumlah kawan lain yang mirip denganku supaya usahaku meminta maaf lancar. Kalaupun ada aparat yang menangkap yang penting bukan diriku yang asli. Diriku yang asli mau minta maaf."

Mendengar ujaran Kamsi itu, sejumlah pedagang tertegun. Mereka pun kemudian reda  kemarahannya dan memaafkan Kamsi. Kamsi kemudian juga menciumi telapak tangan para pedagang itu satu persatu.

"Doakan, seperginya aku dari sini, kehidupanku akan lebih baik. Aku malu jika berada di sini terus menerus," demikian ujar Kamsi menutup perbincangan dan pertemuannya dengan para pedagang yang kini memandanginya dengan pilu. Sorot matanya penuh dengan muatan yang berarti kasihan.***

Jipangan, Oktober 2016

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 30 Oktober 2016


0 Response to "Pungli"