Ramalan di Halte Tua | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ramalan di Halte Tua Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 19:30 Rating: 4,5

Ramalan di Halte Tua

DINDING halte di Jalan Rendevo itu penuh coretan dan empat tiangnya penuh karat. Hanya bus-bus yang bodinya penuh dempul yang berhenti untuk menaikkan atau menurunkan penumpang di halte bercat biru kusam itu. Bus yang lebih bagus dan ber-AC memilih berhenti di halte modern yang berjarak lima ratus meter dari halte yang sesekali tercium bau pesing itu. 

Orang-orang akan bergidik sambil menutup hidung bila melewati halte yang beberapa bagian atapnya bolong itu, tetapi tidak bagi Miranti. Hidungnya sudah terbiasa dengan bau pesing, matanya sudah akrab dengan aneka coretan di dinding. Sejak kecil ia selalu menunggu bus di halte itu. Hati Miranti telah tertambat erat dan apapun yang terjadi, ia tak akan melupakan halte itu. Biasanya, hanya Miranti yang berada di halte itu, berdiri mendekap tas coklat, sementara matanya memandang pada kejauhan, menanti bus bercat merah yang bodinya penuh dempul dan sebagian kaca depannya retak. 

Biasanya, setelah setengah jam Miranti berdiri menanti, datanglah bus langganannya yang suara mesinnya berisik seperti generator dan sesekali knalpotnya mengeluarkan suara letupan, seperti orangtua batuk-batuk dimakan usia. Dan, selalu dari pintu depan bus itu, seorang lelaki kurus melambai dan saat bus berhenti, lelaki itu menyapa Miranti: ”Apa kabar, cantik?” 

Miranti tersenyum lalu menjawab, ”Apa busmu sudah minum obat batuk?” 

Pagi ini Miranti melihat seorang perempuan tua duduk di sudut halte. Duduk bertumpu pada dua kakinya yang terlipat, seperti seorang sinden. Perempuan itu mengenakan kain batik coklat tua dan kebaya coklat muda; mirip pramuka saja warna pakaian perempuan dengan rambut bersanggul kecil itu. 

Miranti menyipitkan mata dan pikirannya menduga, apakah perempuan itu pengamen? Tetapi, Miranti tidak melihat perempuan tua itu membawa siter seperti pengamen tradisional yang sempat ia temui beberapa waktu lalu. 

Pada saat bersamaan, perempuan tua itu menoleh dan menatap Miranti. Perempuan tua itu tersenyum, melambaikan tangan dan berkata: ”Kemarilah.”

Ragu-ragu, Miranti mendekat. 

”Ada apa, Nek?” 

Perempuan tua itu terkekeh. 

”Aku memang sudah tua, tetapi jangan panggil nenek. Panggil saja mama,” katanya.

”Mama?”

”Ya. Mama. Itu terdengar lebih enak daripada nenek, bukan?”

”Mm...ya,” Miranti tersenyum canggung.

”Duduklah di kursi ini. Kau duduk di kursi dan aku duduk di lantai. Kau tak perlu sungkan,” kata perempuan tua itu.

Miranti melirik kursi di halte yang berdebu. Miranti menggeleng. Siapa tahu kursi itu bekas dikencingi preman di malam hari.

”Saya jongkok saja, Mama,” kata Miranti. Miranti mengenakan celana kulot, sehingga tidak risi bila harus berjongkok.

”Coba lihat telapak tangan kananmu,” kata perempuan tua.

Miranti menyodorkan telapak tangan kanannya. Perempuan tua itu mengamati telapak tangan Miranti, dan beberapa saat kemudian tersenyum.

”Hari ini kau akan mendapatkan kebahagiaan,” kata perempuan tua.

Miranti tertegun. Dalam hati, Miranti menjawab: ”Itu mustahil!” Miranti tersenyum kecil sekadar menghormati perempuan tua di depannya. Kebahagiaan macam apa yang dikatakan perempuan tua itu? Bagi Miranti, itu mustahil, karena hari ini ia akan menghadapi kenyataan pahit: kena PHK dari kantor koran tempatnya bekerja.

Bagaimana mungkin Miranti akan mendapat kebahagiaan bila hari ini adalah hari terakhir ia bekerja sebagai juru bayar di Tata Usaha sebuah koran? Di kantor, Miranti bekerja dengan Bu Marina. Bu Marina bertugas mengurusi keuangan internal: mengatur uang saku wartawan dan sejenisnya. Miranti bertugas mengirimkan wesel atau transfer honor pada para penulis lepas. Tetapi setahun ini, kantornya kolaps. Tiras koran terus menurun, pemasukan dari iklan menurun drastis. Manajemen memutuskan untuk melakukan rasionalisasi alias PHK karyawan. Miranti harus terdepak dari kantor dengan alasan simpel: Miranti baru dua tahun bekerja dan masih muda; masih punya peluang untuk bekerja di tempat lain. Sedangkan Bu Marina sudah bekerja dua puluh tahun dan janda beranak tiga, sehingga layak dipertahankan. Kelak, tugas Miranti akan diambil alih Bu Marina.

Tetapi mustahil bagi Miranti untuk mengatakan secara terus terang pada perempuan di halte tua itu, bahwa ini hari buruk. Miranti tak ingin perempuan berkebaya yang duduk di sudut halte itu tersinggung. Miranti tersenyum sekadar basa-basi dan bertanya: ”Bahagia macam apa itu, Mama?”

”Kebahagiaan yang akan mengubah hidupmu,” jawab perempuan tua itu menatap Miranti.

Jawaban yang cukup menghibur bagi Miranti.

Sedetik kemudian ponsel Miranti berdering. Miranti membaca nama yang muncul di layar ponselnya: Bu Marina. Miranti menerima telepon itu dan wajahnya seketika berbinar.

Bu Marina mengabarkan bila ia akan mengundurkan diri dari kantor karena akan membuka usaha katering. Tugas-tugas Bu Marina di bagian keuangan akan diserahkan pada Miranti. Dengan kata lain, Miranti batal kena PHK.

”Oh, terima kasih, Bu Marina. Saya tidak tahu, bagaimana cara saya membalas kebaikan Bu Marina. Semoga usaha katering Bu Marina sukses,” kata Miranti terharu.

Miranti menyeka matanya ketika usai menerima telepon. Ia pun tertegun, ketika menyadari bahwa, ramalan perempuan tua di halte itu terwujud. Pagi ini Miranti mendapatkan kabar bahagia: ia batal kena PHK.

”Ada apa?” tanya perempuan tua itu ketika melihat mata basah Miranti.

”Tidak apa-apa, Mama,” sahut Miranti. ”Mama menunggu seseorang? Mama hendak ke mana?” tanya Miranti mengalihkan pembicaraan.

Perempuan tua itu menatap tajam Miranti. Sepasang matanya berkilat, lalu tangannya menggenggam erat tangan Miranti. Miranti tertegun, berusaha melepaskan tangannya, tetapi perempuan tua berkebaya coklat itu makin mempererat genggamannya.

”Bisa lepaskan tangan saya, Mama?” pinta Miranti dengan suara lembut.

”Oh, maaf,” jawab perempuan tua itu, lalu melepaskan genggamannya. Ia masih menatap Miranti, tetapi kali ini sinar matanya meredup. Sesaat kemudian perempuan tua itu tersedu, lalu menundukkan kepala.

Miranti kembali tertegun. Ia menyentuh bahu perempuan tua itu yang berguncang pelan.

”Mengapa Mama menangis?” tanya Miranti.

”Kau mengingatkanku pada anak Mama. Bila ia masih hidup, tentu ia seusia denganmu,” kata perempuan tua itu terbata-bata, matanya telah basah.

Miranti menyodorkan sapu tangan pink miliknya.

”Terima kasih,” ucap perempuan tua itu lirih. ”Mama yang salah. Tidak seharusnya Mama membiarkan ia naik motor sendirian. Ia belum pandai naik motor, tetapi ia memaksa. Hari itu, untuk pertama kalinya ia naik motor ke sekolah. Ia masih SMP saat itu. Lalu, peristiwa itu pun terjadi. Sebuah bus menabraknya...Oh....” ujar perempuan tua itu dengan bahu berguncang kencang.

”Sabar, Mama. Mama tidak salah. Mama sudah melakukan hal yang benar. Mama sudah melarang anak mama naik motor,” kata Miranti mencoba menghibur.

”Tetapi ia memaksa dan mama tak kuasa menolak,” sahut perempuan tua itu.

”Karena Mama sayang pada anak mama. Betul, bukan?” kata Miranti tersenyum dan berharap senyumnya mampu melunturkan kesedihan perempuan tua itu.

Perempuan tua itu, dengan mata basah dan merah, menatap Miranti.

”Siapa namamu, Nak?” tanyanya.

”Miranti, Mama.”

Perempuan tua itu terhenyak. ”Ya, Tuhan!” kata perempuan tua itu seperti memekik. ”Nama anak mama juga Miranti.”

Kali ini Miranti yang terhenyak.

Tepat pada saat itu, sebuah sedan merah berhenti di dekat halte tua itu. Dari pintu depan turun seorang lelaki muda bertubuh jangkung, dan dari pintu yang lain turun lelaki setengah baya bertubuh kurus.

”Mama?” seru lelaki muda itu, bergegas mendekati perempuan tua di sudut halte itu. Gerak bibir perempuan tua itu begitu jelas terbaca oleh Miranti seakan memanggilnya: ”Miranti, Miranti.” ❑ - o

Batang, September 2016 

)Sulistiyo Suparno, kelahiran Batang, 9 Mei 1974. Cerpen-cerpennya dimuat berbagai media nasional. Bergiat di Komunitas Pena, perkumpulan penulis di Batang. Bermukim di Batang, Jawa Tengah.  


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sulistiyo Suparno
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 9 Oktober 2016

0 Response to "Ramalan di Halte Tua"