Rupa yang Terlipat di Balik Buku | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Rupa yang Terlipat di Balik Buku Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:05 Rating: 4,5

Rupa yang Terlipat di Balik Buku

BEBERAPA kali buku itu disodorkan seorang perempuan. Tepatnya, perempuan penjaga toko buku. Jika kulihat sampul dan judulnya, itu buku fiksi. Aku sebenarnya ingin mengutuk diriku sendiri. Sudah beberapa kali menghindar agar perempuan itu tak memaksa membeli buku yang sejak tadi ia ceritakan.

‘”Maaf, Nona. Saya kurang tertarik,” kataku sopan.

‘”Ini bagus, Mas. Anda bisa membaca dan menemukan inspirasi di dalamnya,” katanya lagi dengan memberikan beberapa penjelasan.

Aku berlalu tak begitu menghiraukan penjelasannya. Perempuan yang berkacamata itu, kembali ke tempat pembayaran. Kasir. Beberapa kali ia memandang ke arahku. Beberapa kali aku juga memalingkan wajah saat ia memandangku. Ia duduk di depan komputer mini. Kuperhatikan dengan sembunyi, ia seperti mengusap kristal bening yang mulai mengalir di pipinya.

Suasana toko buku sangat hening. Hanya beberapa orang pengujung yang datang. Itu pun sudah keluar semua. Kini, keadaan benar-benar hening. Aku ke toko buku memang sengaja memilih waktu sedikit pengunjung. Kutatap perempuan itu lagi. Ia juga melihatku. Beberapa kali ia membuka kacamatanya dan mengusap buliran kristal yang terus mengalir.

Aku berusaha berpaling darinya lagi. Aku susuri seluruh rak buku yang di situ berjejer karya-karyaku. Tiba-tiba, perempuan itu berada di belakangku. Tanpa terasa, aku terlena dengan rambutnya yang berombak. Di dekatku, ia lebih jelas. Sebuah kebaya yang ia kenakan sungguh menarik kelelakianku. Aku pun kembali berpaling.

”Mas, beli buku ini. Saya beri diskon delapan puluh persen untuk Anda,“ katanya memberikan sebuah kantong kertas yang berisi satu buku.

”Baiklah., Nona. Saya beli buku itu,“ kataku pasrah.

”Terima kasih ya, Mas,“ katanya dengan mengulas senyum.

Aku segera memberikan beberapa lembar uang. Ia kembali ke tempat duduknya, membuat nota pembayaran. Kutatap matanya di balik kacamata minus yang ia kenakan. Sepertinya Kristal bening itu sudah mongering.

”Kalau boleh tahu, siapa nama, Nona?” tanyaku di sela ia membuat nota.

”Shofi. Mas sendiri?”

”Aris,” kataku sesingkat mungkin.

Lalu ia memberikan nota pembayaran buku padaku. Aku melupakan buku yang sebenarnya harus kubeli. Buku materi kuliah. Pikiranku terus terbayang sosok perempuan itu. ”Mengapa ia begitu memaksaku untuk membeli buku ini?“ gumamku di tengah perjalanan menuju kos.

Bukan hanya itu. Wajah Shofi begitu lekat dalam ingatanku. Celana jins yang ia kenakan tak begitu ketat. Namun, pakaian dan rambut ikalnya yang terurai tak bisa terhapus dari ingatan. Lebih-lebih wajahnya cantik di balik kacamatanya membuatku ingin kembali ke toko buku itu.

***
SETIBA di kos, kubuka pelapis plastik buku itu. Sebuah Memori dalam Ingatan ditulis oleh Shofia Handarista. Aku tersentak membaca nama penulisnya. Sejenak, aku berpikir tentang judul buku dan nama penulisnya itu. Perempuan penjaga toko tadi. Halaman bukunya tak begitu tebal. Mungkin ada sekitar 150 halaman dan bagiku membutuhkan waktu empat jam untuk menyelesaikan bacaan.

Aku semakin terbakar membaca buku itu. Aku menemukan banyak kisah tentang perjalanan hidup yang ditulis di dalamnya. Aku terharu. Terpukau pada usaha Shofi dalam menceritakan dirinya yang hidup sederhana. Hanya aku sangat heran alasannya merekomendasikan –memaksaku—membeli karyanya. Atau ia menaruh simpatik yang besar padaku? Aku memang sering ke toko buku itu, sekadar melihat-lihat karyaku. Selebihnya, sebatas memerhatikan wajah cantik di balik kacamatanya dengan sembunyi-sembunyi. Satu buku pasti kubeli dari toko itu, dan aku tak pernah ngobrol dengan Shofi sebelumnya.

Beberapa saat kemudian, di tengah aku membaca mendekati akhir halaman, tiba-tiba ponselku berdering satu kali. Ada sebuah pesan masuk. aku kira begitu. Tapi, kuselesaikan bacaanku hingga habis.

”Bagaimana Mas menurut pendapat Anda tentang buku itu?“

Aku terdiam setelah membaca pesan itu. Pikiranku penuh tanda tanya. Tapi dugaanku pengirim pesan itu tak lain Shofi. Karena ia yang merekomendasikan membeli buku dan itu karyanya sendiri, yang berisi catatan perjalanan hidupnya. Saat aku membayar, di sana ada kertas kupon undian yang harus diisi pembeli buku dengan menyertakan nama, alamat, dan nomor ponsel.

”Ini Nona Shofi, ya?” tanyaku memastikan.

”Iya, benar. Bagaimana dengan isi buku itu?” tanyanya dengan membalas pesanku cukup cepat. Di bagian akhir pesannya, ada sebuah emotikon sedih hingga lima.

Aku lama terdiam setelah mendapat pesan singkat itu. Aku memikirkan isi buku yang kubaca antara Nona Shofi yang dalam kisah-kisah perjalanan hidupnya, ia mendambakan seorang pria tinggi, berkulit bersih, mata sedikit sipit, dan suka menulis. Itu aku. Oh, aku tidak tahu harus menjawab pertanyaan pesan singkatnya. Sudah bertahun-tahun aku menekuni dunia kepenulisan. Aku sudah menerbitkan banyak buku. 

”Boleh kita bertemu di Kafe MiniStar nanti malam sekitar pukul tujuh, Mas?” pesannya lagi setelah lama aku hanyut dalam dunia lain.

”Mmm… bagaimana ya, Nona? Aku sudah memiliki seorang tunangan,” balasku mengutarakan statusku saat ini secara langsung.

”Aku tunggu di sana, Mas. Nanti malam seperti waktu yang kubilang tadi, di sebuah meja di sebelah kiri kasir kafe,“ katanya.

Aku terdiam. Pesan singkat yang beremotikon sedih dan mengucur air mata itu kuabaikan. Sejenak aku merenung. Perawakan Shofi terus terlintas dalam pikiran. Kecantikannya tak kuragukan. Dalam catatannya – sebuah karya yang ia tulis—ia sering didekati, disukai bahkan ’ditembak‘ banyak lelaki. Tapi, ia menolaknya demi memenuhi keinginan cintanya yang ia ukur dengan standar pandangannya. Ia yakin, cintanya akan utuh dengan pria yang ia gambarkan dalam catatannya. Lelaki itu, hanya aku.
Malam itu, aku benar-benar terhipnotis. Aku memenuhi permintaan Nona Shofi. Tapi, aku tak langsung masuk ke kafe. Aku duduk di kursi luar dan memesan avocado Itali sembari memerhatikan sosok Shofi di tempat yang ia tentukan. Aku tak dapat menyangkal. Di sana, ia sudah duduk dengan segelas jus, sepertinya. Berwarna merah. Mungkin jus buah naga. Kepalanya naikturun. Aku yakin, ia mencari sosok diriku yang ia nanti. Lalu, ia menunduk kedua lengannya terjulur ke depan perutnya bagian bawah. Tiba-tiba ponselku bergetar. 

”Masuk, Mas. Jangan di situ,” katanya via pesan singkat.

Aku menatapnya dari tempatku duduk di bagian luar Kafe MiniStar. Ia menatapku agar duduk di dalam kafe. Aku pun melangkah dengan membawa avocado Itali di tangan kiri. Ia kembali mengulas senyum setelah beberapa saat ia berdiri menyilakan aku duduk di kursi tepat di depannya.

”Saya tertarik karya Nona,“ kataku sembari meletakkan avocado Itali, tepat di bagian tengah meja.

”Terima kasih, Mas Aris. Saya juga sering membaca karya Anda. Saya sangat suka dengan tulisan-tulisan itu,” katanya dengan manja dan menabur senyum yang bermekaran dari bibirnya.

Lalu, ia menyodorkan sebuah buku yang masih terbungkus plastik padaku. Warnanya pink dengan gambar dirinya yang dimodel kartun. Di sana tertulis sebuah judul Mencarimu di Lembaran Karyaku oleh Shofi.

”Boleh, aku buka?“ tanyaku.

”Boleh, silakan.“

Aku menarik bungkus plastik yang tipis. Lalu, sebuah aroma wangi menyeruak ke ujung hidungku. Tiba-tiba kepalaku terasa pusing dan pandanganku mulai kabur. Aku tak mampu memegang buku yang ada di tangan. Hingga, aku hampir roboh ke lantai lalu Shofi menghampiriku dan menopang tubuh yang mulai lemas.

”Tolong, suamiku... pingsan. Tolong bantu saya, bawakan suami saya ke kontrakan seberang jalan,” katanya dengan samar-samar suaranya kudengar. Setelah itu, pandanganku gelap.

Aku terbangun sudah tak mengenakan sehelai benang di balik selimut. Selangkanganku pun sedikit terasa basah. Aku yakin, ini pasti Shofi yang melakukannya. Kutatap seluruh isi ruangan itu setelah menyalakan lampu. Beberapa foto terpajang di dinding. Aku terhenyak. Aku dalam keadaan telanjang. Tubuhku menindih Shofi. Dan beberapa foto lain diriku yang bercinta dengan Shofi. Secepat kilat, aku menarik foto-foto itu dari dinding.

”Mas, tolong nikahi saya,“ kata sebuah suara di balik pintu kamar yang kutempati. Itu pasti suara Shofi di luar pintu.

Ia sepertinya bersandar pada pintu kamar sembari menitikkan air mata. Aku segera mengenakan pakaian. Lalu, aku duduk berusaha menenangkan diri dengan pikiran terus dipenuhi kegelisahan yang berat.

“Kenapa Nona lakukan ini semua pada saya?” teriakku dari dalam kamar.

”Aku mencintaimu, Mas,” katanya dari luar pintu.

Ia membuka pintu dan duduk di sampingku. Ingin rasanya, tangan ini kulayangkan pada pipinya yang kukagumi saat memandang dan membaca karyanya. Tapi aku bukan lelaki semacam itu. Ia duduk sembari memiringkan kepalanya ke bahuku. Aku yakin, jika aku tak menikahinya, foto-foto itu pasti disebar. Sedikit pun aku tak merespons pernyataannya. Meskipun pada akhirnya, aku menikahi Shofi dengan terpaksa dan beberapa syarat-syarat dariku yang harus ia penuhi. •

Yogya, 24 September 2016

Junaidi Khab: cerpenis asal Sumenep, lulusan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya. Bergiat di Komunitas Rudal Yogyakarta. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Junaidi Khab
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 16 Oktober 2016


0 Response to "Rupa yang Terlipat di Balik Buku "