Sarapan Pagi Paling Menyenangkan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sarapan Pagi Paling Menyenangkan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:18 Rating: 4,5

Sarapan Pagi Paling Menyenangkan

DI kamarnya, sebelum menikmati sarapan pagi, Naila sudah membuka kotak tua itu kembali tanpa pertimbangan apa-apa. seperti yang selalu dilakukan ibunya setiap kali hendak menyentuh apalagi membuka kotak tersebut. Sebab dia belum paham betul, bahwa kotak itu telah membuat ibunya menjadi sinden terkenal. Dia hanya tahu bahwa kotak itu tidak ada bedanya dengan kotak mainan miliknya.

Naila  hanya memejamkan matanya saja lalu mengucapkan bismillah. Itupun tidak terlalu khusyuk, dan ini biasa ia lakukan setiap kali akan memulai sesuatu.

“Setiap memulai sesuatu dengan kalimat bismillah, maka sesuatu itu akan berkah.“ Begitu kata seorang ustadz di madrasah tempat ia sekolah.

Lalu dibukalah kotak kayu yang wangi itu diam-diam. Sebuah cincin tua dengan manik unik menyita perhatiannya.

Ia tidak begitu peduli lembaran kertas putih yang sudah berubah warna. Tulisan yang tertera di sana sangat tidak bisa dibaca. Bagi Naila tulisan itu tidak lebih bagus dari tulisannya ketika baru masuk sekolah dasar. Ia meletakkan kembali kertas bertuliskan aneh itu. Lalu mengambl cincin itu dan hampir saja ia memakainya kembali. Tapi tiba-tiba ibunya memanggil.

”Naila, sudah hampir setengah tujuh, Nak!”

Naila buru-buru menutup kembali kotak tersebut, takut diketahui ibunya. Bukankah ia memang diam-diam mengambil kotak yang sengaja oleh ibunya dikubur selamanya? Ia tergesa menyimpan kotak itu di tempat yang mungkin hanya dirinya saja yang mengetahui. Tidak di dalam lemari. Tidak di bawah ranjang. Tapi di atas langit-langit kamar.

”Naila...“ Sekali lagi ibunya memanggil. Kali ini suaranya lebih tinggi.

”Iya, Bu. Ini Naila sudah siap.“

Hampir saja ibu membuka daun pitnu kamar Naila. Tapi gadis kecil yang sepagi ini bibirnya mekar melebihi bunga melati di samping rumahnya sudah keluar lebih dulu.

”Apa yang kamu lakukan di kamar, sampai di panggilan kedua kamu baru menjawabnya?“

Naila diam. Ia tidak ingin berbohong pada ibunya. Ia belum pernah melakukan. Tapi kalau itu aku lakukan, yang akan terjadi justru berakibat tidak baik untukku, pikirnya dalam-dalam.

”Dik, tidak usah dipermasalahkan. Kasihan makanan ini nanti kehilangan rasa nikmat bila dibiarkan dingin. Lagi pula Nailah kan sudah di sini. Mari....“ Halimah mengajak Naila duduk di meja makan di mana suaminya sudah menunggu.

Naila duduk, menatap makanan. Menu makanan memang tidak ada yang lebih, kecuali beberapa sayur dan sambalnya. Tapi bagi Naila, sungguh pagi ini sarapan pagi paling menyenangkan. Tidak seperti sebelum-sebelumnya. Sarapan pagi yang terhidang di meja makan selalu membuatnya merasa kenyang sebelum satu suapan melewati tenggorokan. Sayur kangkung, sambal terasi, tahu, tempe, telur selalu tidak bisa menggugah selera makan. Bukan karena menu itu, tapi karena menu tambahan yang tidak terhidang di piring-piring dan tidak tertata rapi di meja makan seperti pagi ini.

Sebuah pagi dengan hidangan yang sudah siap dinikmati.

Naila mengurungkan suapan pertamanya ketika sebuah pertengkara tiba-tiba meledak dari kamar ibunya. Pertengkaran yang membuat semua rasa makanan begitu hambar. Hilang rasa nikmatnya. Dan tiba-tiba perutnya pun seperti mengerti betul, makanan itu tidak lebih menyebalkan dari sebuah pertengkaran di pagi hari.

”Pagi ini membuatku semakin mengerti, Mas. Kamu sudah benar-benar bisan hidup bersamaku dan Naila!“

Naila hanya berusaha tidak mengerti setiap kata yang didengarnya dari tadi, tapi sayang ia sudah cukup umur untuk bisa mencerna apa saja yang orangtuanya bicarakan. Apalagi kata-kata kasar yang akhir-akhirini memang sangat sering didengar, kalau tidak mau menyebutnya setiap pagi, setiap dia akan menikmati sarapan pagi.

”Sebenarnya, aku sudah berusaha tidak mendengar para tetangga yang membicarakan tentang kedekatanmu dengan perempuan itu, Mas! Aku memilih percaya padamu! Tapi apa?”

Naila memejamkan matanya berusaha untuk menahan air bening agar tidak jatuh. 

”Kamu itu memang pintar mengungkap kesalahan orang lain.”

”Maksudmu?”

”Kamu sendiri tidak sadar, kenapa aku jarang pulang ke rumah? Kenapa sampai aku lebih senang bila bersama dengan dia?“

”Kenapa, Mas? Kenapa kalau ada kekurangan dari diriku tidak kamu bicarkan. Kenapa kamu menyimpannya sendiri dan malah menceritakannya pada perempuan yang lebih tidak berhak untuk semua itu. Aku istrimu, Mas.“

Plakk... plakk....

Naila sudah bisa menebak suara itu. Meski ia tidak bisa memastikan. Bukankah suara seperti itu yang sering dibicarakan Ririn, teman kelasnya? Suara itu yang membuat pipi ibunya memar kemerahan. Dan ternyata itu pula terjadi pada ibu Naila. Bahkan ini tidak hanya satu kali. Dan Naila pun melihat ada memar kemerahan persis seperti yang diceritakan Ririn.

”Perempuan itu lebih mengerti diriku daripada dirimu.”

”Aku tidak paham, Mas. Setelah bertahun-tahun menikah, dan kita punya Naila, cintamu justru harus runtuh di mata perempuan yang belum tentu seperti apa yang kamu bayangkan,Mas!“

”Setidaknya telingaku tidak panas karena selalu mendengar kata sinden!“

Halimah mengerti permasalahannya, kecuali Naila. Ya, ia memang masih keturunan sinden dari neneknya. Bahkan ia masih mewarisi kotak keramat itu. Tapi ia belum pernah melakukan. Ia tidak pernah nyinden. Ia tidak pernah digandrungi banyak lelaki di pentas-pentas.

”Bila ini akar permasalahannya, Mas, aku bahkan tidak tahu harus dengan cara apa lagi mempertahankan kamu di hatiku. Sebab aku yakin, kamu tahu segalanya. Termasuk diriku yang belum pernah satu kali pun membuka kotak itu dan memakai selendang untuk menari dan menarik banyak lelaki!“

Plakk... plakk.... suara itu kembali menampar telinga Naila. Ia benar-benar geram dan tiba-tiba ada rasa tidak suka pada bapaknya yang begitu mudah menampar ibunya. Makanan di depannya benar-benar kehilangan rasa. Naila mulai berdiri untuk berangkat ke sekolah. Meninggalkan pertengkaran yag semakin berkobar. Namun baru beberapa langkah saja dan belum sampai di pintu keluar, ia mendengar kalimat yang menyakitkan.

”Ah. Omong kosong semua itu. Entah kenapa aku merasa rumah ini sudah tidak cocok untukku lagi. Mulai hari ini, aku putuskan dirimu bukan lagi istriku dan aku bukan lagi suamimu. Kita berpisah sampai di sini!“

Langkah Naila tiba-tiba berat. Sangat berat. Air matanya sudah tidak bisa dibendung. Tumpah ke seragam sekolah yang dipakai, ke lantai. Ia bergitu tersentak suara keras bantingan pintu dan barang-barang lain yang menimbulkan suara mengerikan.

Dengan mata yang sangat basah, ia harus rela melihat bapaknya pergi tergesa meninggalkan rumah. Mungkin pergi selamanya. Bahkan lelaki itu tidak menghiraukan anak gadisnya sebelum pergi. Sekadar menatapnya, menghapus air matanya, mengecup keningnya dan berkata ”jaga dirimu baik-baik, Naila!“ Tidak.

”Naila....“ Tiba-tiba suara itu membuatnya terkejut. Ia kembali menatap makanan di depannya.

”Naila, apa yang kamu pikirkan? Kenapada dari tadi Ibu perhatikan matamu kosong?“

”Tidak apa-apa, Bu. Naila hanya terharu sarapan pagi ini. Sudah begitu lama Naila mendambakan sarapan pagi seperti ini. Sarapan pagi tanpa pertengkaran.“

Halimah memeluk anak gadisnya. Ia tidak bisa lagi menahan tangis berlama-lama dalam dadanya. Dan lelaki yang kini duduk di depannya hanya tersenyum. Dalam hati kecilnya ia berjanji, di rumah ini setiap pagi dia akan menyediakan sarapan sederhan tanpa pertengkaran. Ya, meski ia paham tidak mudah memenuhi semua itu, mengingat orang-orang yang pernah dekat dengan istrinya seperti benar-benar tidak menerima mereka bersama.

Tapi sebagai suami, menyediakan sarapan pagi tanpa pertengkaran adalah hal yang lebih menyenangkan daripada mengingat foto-foto senonoh istrinya saat menjadi sinden yang hampir setiap pagi nyasar ke HP-nya. Dan ia selalu menghapusnya sebelum istrinya tahu.

Dan pagi ini, tepat di depan istri dan anak gadisnya, HP itu kembali berbunyi. Pesan singkat nyasar kembali: ”kami akan mengembalikan Haliah ke dunianya menjadi sinden. Kalau tidak, anak gadisnya. Ia tersenyum menutupi satu kecemasan.

Ia juga istrinya tidak tahu kalau kotak warisan itu tidak lagi di dalam tanah. Kotak itu kini sudah merencanakan sesuatu di kamar Naila. • (k)

Bandungan, 2016

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Faidi Rizal Alief
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 23 Oktober 2016

0 Response to "Sarapan Pagi Paling Menyenangkan"