Sejak Langit Merah - Pesan Ibu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sejak Langit Merah - Pesan Ibu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:00 Rating: 4,5

Sejak Langit Merah - Pesan Ibu

Sejak Langit Merah 

Sejak langit merah
Kita seakan tidur di hari paling terjaga
Betapa tidak,
Rumah-rumah kita begitu cepat
berubah-ubah warna

Kita, kian hari merasa tiada daya
Melihat doa dan janji
yang seakan tiada beda rupa-rupanya
Seperti dada kita yang mekar
dan kempis tiba-tiba
Serupa diri kita yang bising
Lalu tiba-tiba hening dengan terpaksa
Seakan menjadi paling rahasia
Mimpi dan masa depan kita dibeli
Dengan peluru pula,
dengan begitu tragis dan tiba-tiba

Kita lihat bersama,
hari-hari semakin sia-sia saja,
katamu,
Lalu kau merasa asing dengan diri sendiri
Suaramu seakan lantang,
ditanam dengan dalih yang beterbangan
Tubuhmu seolah membara,
Dihidupkan di depan speaker
yang meledakkan janji belaka
Dan perabotan kotor yang menumpuk
Ditumbuhkan paksa di dada-dada kita
Lalu selanjutnya,
kita seakan dibuat sangat butuh tangan mereka
Menunggu renovasi dapur
Menanti tanda tangan dan stempel
Hingga semua semakin tak berujung-ujung

Sejak langit merah
Di dapur, kita kian sengsara
Bumbu-bumbunya dipalsu di mana-mana
Aroma rempah yang dulu tak bersekat di
lidah kita
Kini seakan mati-matian untuk
meminangnya

Lihatlah pula, halaman dan ladang rumah kita
Pelan-pelan disapu habis
Kita seakan semakin dipisahkan
dengan milik kita sendiri

Sejak langit merah
Kita seakan sering mengendarai
ibu kandung kita sendiri
Lalu di luar sana banyak yang bertanya,
Tunggangan seperti apa ibumu itu?
Bukankah kau yang dikendarainya?
Lihat saja, jarak dan ingatan,
kian hari semakin fi ktif-fi ktif saja
dalam hitungan-hitungan tak terduga
Lalu kini kita tiada berkeputusan,
Merah ini, warna-warna rumah kita kini
Semakin tiada bermuara,
Tak pernah benar menembus dada kita,
Apa lagi nurani
yang sering digemborkan
di panggung-panggung mereka

Kendal, Agustus 2016 

Pesan Ibu 

Sekolahlah, Nak
Agar kelak kau hidup mulia
Kau akan membalik diri sendiri
Di atas telapak tanganmu sendiri
Selepas orang lain lari pagi
Kau akan hangat pula
Dengan degub dadamu sendiri

Sekolahlah, Nak
Agar kelak kau mampu mandi
Kau akan mengerti,
Jika pagi-pagi akan tinggal serumah
dengan sore hari
Dan kau akan tersenyum manis
Melihat tanganmu sendiri
yang mengaduk secangkir kopi

Sekolahlah, Nak
Sebelum hari-harimu kacau
Memilih hidup tanpa nyali
Tinggal serumah dengan sejarah
Yang kata mereka sungguh tak pasti
Masa lalu yang terus dibuat-buat
Diulang-ulang di sepanjang momen negeri
paling ngeri
Sepanjang tahun,
kau akan kebingungan memilih mana yang
pasti
Lalu akhirnya kau akan lebih sepakat
dengan jalan mati bunuh diri

Kendal, Agustus 2016

Setia Naka Andrian, lahir di Kendal, 4 Februari 1989. Ia dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang. Dia menerbitkan buku puisi pertamanya, Perayaan Laut (April, 2016), dan saat ini sedang menyiapkan penerbitan buku puisi kedua, Manusia Alarm.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Setia Naka Andrian
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu, 16 Oktober 2016

0 Response to "Sejak Langit Merah - Pesan Ibu "