Sepahit Kopi - Pagi yang Dingin - Terasing | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sepahit Kopi - Pagi yang Dingin - Terasing Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:46 Rating: 4,5

Sepahit Kopi - Pagi yang Dingin - Terasing

Sepahit Kopi 

hamparan masa terpampang mengernyit
sesempit ejaan sepahit kopi seduhan jemarimu
peristiwa kehidupan berjalan bertubuh legam
adakah kenangan bertubuh tenang
adakah pesan sampai di waktu berkesan

teropong ini kulekatkan pada mata
memandang jauh memasung panorama
bayangan membatu membusung lengang
warna-warni kuncup mencecap lelap
di ujung mata emmandangi warna-warni kelam

Pagi yang Dingin

dinginnya pagi ini mirip tatapan matamu
banyak tanya hendak kutuang di kopi sisa minummu
lalu kuhidangkan kembali padamu

sepatah kata tak mampu kulepas
menawar luka yang kita gores
di rumah yang meleleh kecemburuan

Terasing 

tersiar kabar riwayat negeri tumbuh kembang mimpi
melumat janji menjarah segenggam fitrah
pun padi yang mulanya pongah merunduk
serendah tiupan peramu puisi fakir

pada menara gedung yang paling tinggi
setinggi layang-layang yang benangnya putus
berlari bilamana angin memberi restu


Aswita Simarmata, lahir 4 Agustus 1992. Menyukai dunia literasi khususnya puisi dan cerpen. Kuliah di Universitas Negeri Medan Jurusan Sastra Indonesia.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aswita Simarmata
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" edisi Minggu 16 Oktober 2016

0 Response to "Sepahit Kopi - Pagi yang Dingin - Terasing "