Sepotong Roti | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sepotong Roti Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 20:29 Rating: 4,5

Sepotong Roti

SIAPA bilang miskin itu enak? Cukup! aku sudah lelah menapaki jalan menjijikkan ini. Aroma lumpur, dan semua hal kotor ini cukup membuat kulitku alergi. Kudorong pintu reyot yang menjadi jalan masuk rumahku. Sebab rasa lapar kian menghantui perutku, kubuka tudung saji lusuh dengan harapan yang akan kulihat adalah makanan lain, bukan tempe goreng seperti biasanya.
TAPI ternyata harapanku sia-sia. Dalam angan kemarahan aku menggebrak meja.

"Brakkkkkkkkkkkk!!" 

Ibuku datang sambil membawa sekeranjang penuh tempe. Ya itulah pekerjaan sehari-harinya, menjajakan tempe goreng untuk dijual ke sekeliling kampung. "Ria, kenapa kamu nggerbrak meja, Nak? Tempenya kurang enak ya?" tanyanya dengan lembut.

"Nggak ada makanan lain apa? Tiap hari makan tempe, jadi enek tau!!" balasku dengan nada kasar. Sungguh, aku benci wanita miskin seperti ibuku.

Kubanting pintu sekeras mungkin. Puas rasanya. Aku pun keluar rumah, berjalan entah ke mana sambil berpikir bahwa aku harus keluar dari semua masalah ini. Sampai suatu saat aku berencana melarikan diri dari rumahku, mencari pendapatan sendiri di kota Jakarta ini.

Sambil memantapkan niat, aku pun berbalik arah menuju rumah yang lama kutinggali untuk mengambil ijazah SMA. Sesampainya di sana, kuambil ijazah yanng terselip  di bawah tumpukan pakaian usang milikku. Kutinggalkan rumah begitu saja, bahkan tanpa berpamitan dengan ibu. "Tuhan, katakan pada Ibuku bahwa aku menyesal telah dilahirkan dari rahimnya!" aku berucap dalam hati.

Hari demi hari kulewati dengan mengubah keringat menjadi lembaran rupiah. Pekerjaan apapun pasti kulakukan. Bermandi peluh, sudah biasa. Aku ingin menghapus kata "miskin" dari kamus kehidupanku untuk selamanya.

Sampai suatu soer, aku tak sengaja melihat seorang wanita paruh baya terjatuh di pasar. Kaena tak tega, aku menolong wanita itu. Ia sangat berterima kasih padaku.

"Gadis muda, apa yang kamu lakukan di sini? Kamu sendirian?" tanya nenek itu.

"Iya, Nek. Saya sendirian, saya sedang bekerja di sini," jawabku apa adanya.

Terus terang, aku menceritakan apa tujuanku selama ini kepada nenek itu. Karena merasa iba, ia pun menawariku pekerjaan.

"Kalau Dek Ria mau, adek bisa jadi karyawan di salah satu perusahaan milik saya. Ini tempatnya." Nenek itu menyerahkan secarik kertas kecil berisi nomor telefon dan lokasi perusahaan yang ia maksud. Aku sunguh tak menyangka

Dengan dada yang berdegup kencang kuterima kertas kecil yang bernilai ini, lidahku tak mampu berkata lagi. Aku hanya sanggup mengangguk tanda setuju kepada sang nenek.

Bulan demi bulan terlewat begitu saja. Ya, aku memang sudah memiliki penghasilan tetap. Namun, penghasilan yang kuterima hanya pas memenuhi kebutuhan makan dan tidur selama sebulan. Tapi, berkat melihat keterampilanku yang bagus dan cekatan, atasanku akhirnya menaikan pangkatku lebih tinggi. Tentuny dengan gaji yang lebih besar.

Aku telah mampu membeli rumah bak istana setelah bekerja selama beberapa tahun.

Bulan lalu aku membeli mobil mewah, perhiasan, baju-baju yang bagus, dan barang lain yang aku impikan sejak kecil. Semua ini aku dapatkan berkat jerih payah ku sendiri. Dana ku merasa puas karenanya.

Bosan rasanya berkawan dengan laptop seharian, aku berencana keluar untuk makan siang. Sekadar untuk me-refresh otak, selagi jam istirahat. Tapi entah mengapa, hari ini aku sedang tak berselera untuk makan di dalam kantor, jadi aku memutuskan untuk makan siang di tempat lain.

Di depan sebuah restoran, duduk seorang gadis kecil. Tampilannya dekil, sorot matanya menatap lurus ke arah diriku. Wajah pucat dengan ekspresi menahan lapar itu berhasil mengetuk hatiku untuk berhenti sejenak dan berbicara padanya.

Aku membungkukkan badanku. "Dik, kamu udah makan belum?" tanyaku pelan. "Belum, Kak." jawabnya dengan suara lemah. "Mau roti?" aku menawarinya sebuah roti yang berada di tanganku.

Ia pun mengangguk. Tersenyum, dicuilnya seperempat bagian roti yang aku berikan tadi. Kuamati caranya memakan roti itu dengan lahap.

Namun aku heran, mengapa ia tidak memakan semua rotinya? "Lho Dik, rotinya gak enak, ya?" tanyaku penasaran. Anak itu tersenyum sambil mengangguk kecil, "Rotinya enak Kak, terima kasih ya," jawabnya.

"Terus kenapa gak dihabisin semuanya?" aku betanya lagi.

"Sisa roti ini tinggal tiga perempat bagian." Anak itu menjawab. "Seperempat bagiannya akan aku kasih ke ibu sebagai jatahnya makan hari ini, sedangkan setengahnya lagi mau aku kasih ke ibu juga.  Tapi, bukan sebagai jatah makan melainkan sebagai hadiah ulang tahunnya hari ini. Jadi ibu berhak dapat tiga perempat bagian roti ini," lanjut dia, dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya.

Penjelasan gadis ini sontak membuat jiwaku gemetar. Kembali aku mengingat sosok ibu yang sudah kutinggalkan sejak beberapa tahun silam. Jika gadis sekecil ini saja sangat menyayangi ibunya, lalu mengapa gadis dewasa sepertiku malah meninggalkan ibunya sendiri?

Aku menyesal pernah membencinya. Dengan suara serak menahan tangis, aku mengelus kepala anak itu, "Oh, kalau gitu kakak ngucapin selamat ulang tahun ya buat ibu kamu. Ini hadiah dari kaka." Aku melepas benda yang melingkar di tangan kiriku. Sebuah arloji senilai 2 juta yang baru aku beli minggu lalu. Kutinggalkan gadis itu dan berjalan ke arah mobil. Nafsu makanku hilang, aku ingin mencari ibuku.

Sambil melambaikan tanga, tetes demi tetes air mata terus mengaliri pipiku. Hatiku sesak oleh rindu. "Aku ingin pulang...," ucapku lirih pada gadis kecil tadi.

Aku bukan ingin pulang ke rumah mewahku. Tapi aku ingin pulang ke rumahku yang sebenarnya.

Jajaran bangunan nampak berbeda dari terakhir kali aku melihatnya. Namun semua itu tak akan mengecoh dan membuatku lupa di mana tempat asalku. Setelah menempuh perjalanan cukup lama, tibalah aku di depan pintu rumah reyot berdinding kayu yang hampir ambruk.

Jantungku berdegup kencang, aku tak peduli apapun yang dikatakan ibu nanti, aku sudah siap menerima semuanya. Dengan sedikit ragu, kuketuk pintu rumah perlahan. "Tok... tok... tok..."

Tak ada jawaban. Aku tak ingin menyerah, kupanggil ibuku. "Ibu... Ibu... Inni aku, Ria. Aku sudah pulang, Bu... Maafkan aku..." Aku berteriak berkali-kali. Namun masih tak ada jawaban.

Sampai seorang wanita menghampiriku. Ia menatap tajam ke arahku, "Kamu anaknya ibu yang tinggal di sini?" "Iya," jawabku dengan suara yang lirih. Aku menatap penuh harap pada orang itu. Berharap mendapatkan petunjuk lain yang bisa membawaku pada ibuku.

Namun yang aku dengar malah sebaliknya. "Wanita itu sudah meninggal satu bulan yang lalu," ujarnya.

Nafasku tercekat, jantungku seakan berhenti berdetak, lututku melemas ketika mendengar kalimat itu.

"Ada pesan terakhir darinya sebelum ia meninggal," lanjutnya. "Katanya, jika suatu hari kau kembali, ia ingin kau melihat isi laci meja di kamarnya."

Tanpa pikir panjang, aku membuka pintu rumah yang tertutup tadi. Pintu itu tidak dikunci. Akupun bergegas menuju kamar ibuku, menuju ke arah sebuah laci yang terletak di sudut ruangan.

Segera kubuka laci itu dan menemukan secarik kertas lusuh yang terlipat rapi di dalamnya. Kupandangi sejenak setiap goresan hitam yang tertoreh di atasnya. Rangkaian kata dari tetesan  tinta di sini menjadi jejak terakhir ibuku.

"Ibu pulang dulu ya, sampai jumpa di surga...," begitulah isi surat dari ibu.

Meski hanya goresan pena, suara lembut ibu tetap menggema dalam telingaku kala kubaca rangkaian kata terakhirnya itu. Kupegang erat kertas lusuh yang kini basah karena tetesan penyesalan di antara jemariku.

Siapa diriku wahai Tuhan? Bolehkah aku pergi ke masa lalu? Sebentar saja! Tapi apakah mungkin aku kembali? Ah, terlambat sudah. Sekarang aku merintih menanggung malu setelah menatap jejak langkah hidupku. Dan terpaksa terus melaju dalam langkah perihku. Hingga membeku diujung waktu.***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Khana Sholaita 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 16 Oktober 2016

0 Response to "Sepotong Roti"