Stasiun Terakhir Berhenti di Kelopak Matamu - Tembang Sendu - Senandung Cinta | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Stasiun Terakhir Berhenti di Kelopak Matamu - Tembang Sendu - Senandung Cinta Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:00 Rating: 4,5

Stasiun Terakhir Berhenti di Kelopak Matamu - Tembang Sendu - Senandung Cinta

Stasiun Terakhir Berhenti di Kelopak Matamu 

Dingin merayap dengan kalap
Namun hatiku menghangat
Selepas fajar pagi yang seksi
Prosesi pagi dimulai lagi

Kau raih tanganku yang menggigil dingin
Kau letakkan di dadamu yang bidang
”Lekas sayang kereta pagi akan datang”
Bisikmu ditelingaku
Seperti suara merdu kicau kenari
yang membangunkan lelapku
di pagi ini

Kita melangkah beriringan
Menuju Stasiun Palmerah setelah Stasiun Tanah Abang
Kita berdiri bersisian
Diantara manekin-manekin hidup
yang mengkhayal
yang bercanda
yang saling melirik
yang dan sibuk dengan gadgetnya
yang bayinya menangis
yang matanya sembab baru diputus kekasih
yang wajahnya berbinar karena dilamar sang pacar
saat ramai dan riuh ribuan mata dan kaki yang
terburu-buru
berebut mengejar waktu dan tempat duduk
dan pandanganku merunduk

dan aku dan kamu diantara mereka
dalam degup hati yang sumringah
berbinar di hati yang mewah

Kereta pun berhenti
Kita akan melangkah
Menjemput cita-cita dengan tujuan berbeda
Namun kita telah bersama dalam prosesi pagi
Keberangkatan kita dilangkah yang sama
Akankah kita bersua kembali

Palmerah tempat pertama kita jumpa
Inikah stasiun terakhir untukmu dan untukku
Saat kita berhenti menjemput kenangan
serta kedamaian yang selalu hadir

Semalam aku bermimpi engkau memakai jas putih
Dan seorang perempuan disisimu bukanlah diriku
Aku takut, gundah gulanaku
Berlabuhlah kekasihku
Jadikan aku stasiun dengan tujuan terakhirmu
Dalam gerbong-gerbong rindu yang mengantarkanku
di setiap peron

Palmerah, 9 Agustus 2016 

Tembang Sendu 

: Pemantik Laramu

Engkau berlayar di laut gempita
Bermuara samudera asamu
Keping luka
Kau garami menjadi tawar
Lelaki yang mendekap pedihmu
Dalam satu tarikan nafas
Dia pergi
Berkhianat

Engkau tersenyum
Bidukmu karam
Namun engkau Bersenandung
Tembang sendu
Pemantik laramu

Solo yang ranum, 25 April 2016 

Senandung Cinta 

Apakah dalam bilik hatimu
Ada ruang kosong
yang belum berpenghuni
yang nyaman dan tenang
Hingga buatku terlelap
Dalam pejam mataku

Kulihat bola matamu yang teduh
Dalam binar rasa
Terpancar kedamaian
Bilik yang hangat
Penuh senandung cinta

Pejompongan, 5 Mei 2016

Edrida Pulungan, lahir Pada 25 April 1982 di Padang Sidimpuan. Ia telah menulis 22 buku tunggal dan antologi. Pemenang Poetry Slam 10 Tahun Puisi Jerman Goethe Institute dan Juara 1 Cipta Puisi Watch Forrest Nusantara. Buku-buku kumpulan puisinya di antaranya Di atas langit Eropa Melamarmu ( 2013), Sepucuk Rindu Untuk Aisyah yang Setia, ( 2013) dan antologi bersama, Pasie Karam (2016) dalam Temu Penyiar Nusantara di Meulaboh, Banda Aceh.



Rujukan:
[1] Dislain dari karya Edrida Pulungan 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" edisi Minggu 9 Oktober 2016

0 Response to "Stasiun Terakhir Berhenti di Kelopak Matamu - Tembang Sendu - Senandung Cinta "