Tawil | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tawil Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 22:14 Rating: 4,5

Tawil

TUBUH lelaki itu tambun dan tinggi. Kacamata minusnya bulat tebal, bertengger di hidung jambunya yang gempal, dan menutup matanya yang sipit. Setiap kali bicara,  suaranya terdengar sengau sambil tertawa atau mungkin lebih tepat disebut senyum. Dan ia selalu melapor entah kepada siapa kalau melakukan sesuatu. Misalnya kalau ingin tidur di ruang kosong sebelah, sambil tertawa dengan suara sengaunya, ia berkabar kepada orang-orang di ruangan. “Ah ngantuk,” katanya menguap. “Tidur dulu sebentar. He he he.” Tak lama kemudian dengkurannya pun mulai mengoyak siang.

Kami tersenyum. Awalnya kami memang tertawa mendengar dengkurannya, tapi lama kelamaan menjadi terganggu karena bunyi itu semakin kuat dan semakin bervariasi. Mulai bunyi guruh sampai bunyi rem truk fuso. 

Aku pernah satu kamar dengannya saat mengikuti kegiatan di luar kota. Pada tengah malamnya aku terbangun. Aduh, tak henti-hentinya aku berdoa supaya hari cepat pagi. Napasku amat sesak mendengar dengkurannya. Aku merasa hari seolah-olah mau kiamat.

Semula aku bergabung di ruangan ini, aku melihat ia seorang lelaki dingin karena selalu di meja komputer dan sibuk mengutak atik komputernya tanpa menoleh kiri dan kanan. Tapi hebatnya, walaupun begitu, hampir setiap saat Pak Kasubbag (Kepala Sub Bagian) memanggilnya. Sepenting apakah orang ini? Pikirku. Setelah sekian lama sama-sama bekerja, tahulah aku kalau ia memang penting bagi Pak Kasubbag. Dan kawan-kawan yang lain pun memanggilnya kasubbag dua kalau ia lagi keluar. Dan hampir semua kebijakan Pak Kasubbag bersumber atau berasal dari usulannya. Jadi, kalau mau dapat lokak (order) macam-macam dari Pak Kasubbag, maka baik-baiklah pada Tawil.

Iseng-iseng, aku pun mengintip dan mencari tahu kenapa Pak Kasubbag begitu tergantung dan terpengaruh pada Tawil. Setelah sekian lama kuintip, kuamati dan kuperhatikan secara serius gerak-gerik dan sepak terjangnya, rupanya lelaki yang bernama Tawil Lisani itu memang pandai, sekaligus juga pandai-pandai. Rupanya, ia pandai sangat mengambil muka dan hati atasan kami itu. Contohnya, kalau tak tidur siang di kursi yang terletak di sudut ruangan, maka ia pun akan masuk ke ruang Pak Kasubbag kalau Pak Kasubbag lagi di ruangan. 

Mereka rupanya main catur. Aku pun ikut duduk bersama mereka kalau tak lagi sibuk kerja. Duduk di ruangan itu ada untungnya juga, karena selain bisa melihat mereka main catur, perut pun terisi pisang goreng karena hampir setiap waktu, di meja Pak Kasubbag tersedia pisang goreng.

Tawil memang hebat dalam urusan catur rupanya. Dengan beberapa langkah saja ia kalahkan Pak Kasubbag yang terkenal paling pandai main catur di kantor kami itu. Tapi  pada permainan kedua Tawil kalah. Aku heran. Jelas benar tadi aku lihat ia bisa saja membunuh raja Pak Kasubbag, tapi kenapa tak dilakukannya?  

“Silap, Pak Tawil tadi, “ kata Pak Kasubbag sambil terkekeh-kekeh, senang. 

Tawil pun tersenyum di balik kaca mata tebalnya. “Mantap, Pak Subbag. Mantap!”

Pada game ketiga, Tawil menang lagi. Dan memang mudah. Tak berapa langkah, ia bisa menyekak raja Pak Kasubbag. Lalu pada main keempat Pak Kasubbag pula yang menang. 

Game kelima dimenangkan Pak Kasubbag lagi. Aku melihat permainan di game kelima itu jadi tertawa geli karena Pak Kasubbag girang benar. Padahal apalah artinya menang kalau hanya diberi lawan? Aku melihat betul kalau Tawil mengalah.

Semakin lama, Pak Kasubbag memang benar-benar tergantung kepada Tawil. Apa pun kebijakannya selalu berdasarkan usulan dan pertimbangan Tawil. Mulai menunjuk siapa teman-teman yang akan berangkat kerja pakai SPPD (surat Perintah Perjalanan Dinas) atau pun siapa yang kecil bagian uang lemburnya. Sampai pembagian ini dan itu pun atas usul dan saran Tawil. Pokoknya, benarlah ucapan kawan-kawan kalau Tawil merupakan bos dua di kantor kami. Dan kini aku pun melihatnya bukan saja bos kedua, tapi bos utama karena semua kebijakan Pak Kasubbag atas kehendak Tawil.

Tahun baru, perubahan struktur organisasi di kantor kami pun terjadi. Tawil pun bertambah kerja, ia kini ditunjuk Pak Kasubbag sebagai PUM (Pemegang Uang Muka) atau BPP (Bendahara Pembantu Pembayaran). Kedekatannya dengan Pak Kasubbag semakin intim. Kini ruangan kami memang benar-benar apa kata Tawil saja. Segala urusan yang sifatnya perintah kerja tidak lagi datang dari Pak Kasubbag tapi dari Tawil langsung, walaupun Tawil menyebutnya dari Pak Kasubbag. Kawan-kawan semakin pusing. Semakin hari pergunjingan pun semakin marak di ruangan kami. Kalau Pak Kasubbag dan Tawil tak di ruangan, ada-ada saja informasi yang menyudutkan mereka diutarakan teman-teman.

Ternyata, Tawil tidak hanya dekat dengan Pak Kasubbag tapi juga dengan Pak Kabag atau Kepala Bagian yang merupakan atasan Pak Kasubbag. Kabarnya, ia pula yang tukang buat, atau konseptor makalah Pak Kabag setiap menyajikan materi pada pelatihan-pelatihan di lingkungan kantor kami. Tapi menurut Tawil, Pak Kabag itu orangnya agak pelit. Semua kerja Tawil tersebut tak mendapat reward lebih dari Pak Kabag. Ia benar-benar hanya tukang. Mungkin lebih tepatnya kuli makalah karena tak pernah diberi imbalan dari kerja kerasnya membuatkan paper tersebut. 

“Paling-paling ucapan terima kasih saja,” kata Tawil. “Padahal sekali memaparkan materi, tak kurang dari dua juta akan diraupnya,” sambung Tawil lagi. 

“Kok Pak Kabag begitu ya?” 

“Itulah saya tak tahu,” kata Tawil. “Pelit,” katanya dengan suara seperti orang berbisik.

Aku mengangguk-angguk.

“Syarat jadi pejabat itu tampaknya harus pelit, Pak,” kataku lagi, tersenyum.

“Tak semuanya.”

“Pelit itu pada bawahan, tapi pada atasan ‘kan curah, Pak,” kataku terkekeh-kekeh.

Tawil diam. Sepertinya ia memikirkan sesuatu.

“Ya, kalau mau jadi pejabat, sekarang ‘kan harus curah pada yang mengangkat kita. Mungkin begitulah Pak Kabag kita itu, Pak,” kataku lagi.

Tawil masih diam. Raut mukanya kosong ekspresi.

“Benar ‘kan, Pak?” pancingku.

“Ya, mungkin Pak Heri,” kata Tawil datar.

***
“Pak Heru. Pegawai itu punya kode etik. Harus pandai menjaga mulut. Bicara jangan asal saja!”
Aku heran. Apa maksud Pak Kabag ini?

“Bapak ‘kan baru bergabung di kantor ini, jadi jaga sikap, jaga mulut, jaga segala-galanya. Kita ini abdi pemerintah. Harus sopan dan santun kepada semua orang. Harus bersangka baik kepada atasan. Dan mulai saat ini, saya tak mau dengar lagi Pak Heru memburuk-burukkan orang lain.”

Aku ternganga.

Kalimat terakhir itu mengingatkanku pada Tawil, rupanya semua perbincangan kami tentang Pak Kabag tempo hari sudah disetornya bulat-bulat kepada atasan kami itu.

Sepanjang jalan dari ruangan Pak Kabag, aku diam, pikiranku terfokus terus kepada Tawil. Aku merasa Tawil semakin tambun, perutnya semakin buncit, matanya semakin sipit saja, dan lidahnya pun semakin panjang berjela-jela, dan air liurnya menyembur-nyembur seperti ketika ia sedang tidur nyenyak.

Ah Tawil, Tawil, kesalku tak henti-henti. Aku ingin segera menemui Tawil. Geram nian hatiku padanya.

“Tawil mana, Bud?” tanyaku pada Budi ketika sampai di ruangan. 

“Abang belum tahu?”

“Belum. Memangnya ada apa?”

“Tawil diperiksa kepolisian.”

“Apa?”

“Tawil diperiksa.”

“Kok bisa?”

“Semua tanda tangan Pak Kasubbag di kwitansi dipalsukannya.”

Aku ternganga. Kini aku merasa perut Tawil sedang mengecil, matanya kuyu, lidahnya memendek, berpuntal-puntal, air liurnya menjadi kering, dan nanti malam, istrinya pasti nyenyak tidur karena Tawil mendengkur di tahanan. ***


Griven H Putera, menulis cerita pendek di sejumlah media masa. Meraih Raja Ali Haji Award dan GMDI (Gerakan Masa Depan Indonesia) Provinsi Riau tahun 2016 pada kiprahnya di bidang sastra. Bermukim di Pekanbaru, Riau.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Griven H Putera (Dikirim langsung oleh penulis, terimakasih dan apresiasi dari klipingsastra. Salam)
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Batam Pos" edisi Minggu 23 Oktober 2016

0 Response to "Tawil"