Tiang Kosong | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tiang Kosong Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:55 Rating: 4,5

Tiang Kosong

AKU memarkirkan sepeda motor di luar halaman sekolah dasar-ku dulu. Lalu masuk ke dalam. Kupandangi tiang bendera yang ada di situ. Tiang itu begitu kokoh.

Tingginya seperti hendak menggapai langit. Tak ada yang berubah dari tiang bendera itu. Tetap berwarna putih. Talinya tampak kusut. Entah sudah pernah diganti atau memang tetap seperti ketika aku masih belajar di situ, dulu. Aku mendongak ke atas, berharap ada bendera merah putih berkibar di sana. Tapi tak kulihat bendera negaraku itu ada di sana. Hanya tampak kerekan kosong di atas.

Lalu kualihkan pandangan ke sekeliling halaman sekolah. Tampak Pak Bon, penjaga sekolah sedang menyirami bunga di taman dekat kantor kepala sekolah. Aku berjalan mendekatinya. 

”Pak Bon, masih ingat saya?“ sapaku.

Ia tertegun sejenak. Memandangiku dari rambut kepala hingga ujung kaki.

”Nak Heru ya,“ katanya setelah agak lama. Aku mengangguk.

Pak Bon menjabat tanganku, mencengkeramnya erat. 

”Bagaimana kabar Nak Heru? Sudah kerja? Sudah menikah?“ Berondongan pertanyaan Pak Bon. 

”Baik tapi saya belum kerja dan belum nikah,“ jawabku kikuk. Ia tersenyum mendengarnya.

”Boleh tanya, Pak Bon?“

”Boleh saja, Nak Heru kan dulu dikenal paling sering tanya di sekolah.“ Jawaban Pak Bon membuatku teringat kembali zaman aku masih belajar di sekolah ini. 

Dulu aku dikenal murid yang banyak tanya. Baik pertanyaan penting maupun tak penting. Salah satu contoh ketika aku kelas dua, bu guru bahasa Indonesia sedang mengajari cara menulis halus. Aku mengajukan pertanyaan yang sekarang kusadari sangatlah tak penting. 

”Bu Guru, kenapa kita menulis dari kiri ke kanan?”

Bu Guru terdiam sejenak lalu menjawab singkat, ”Karena sudah dari sananya.“

Aku puas mendengar jawaban bu guru, lantas kembali berlatih menulis halus. 

Ketika kuingat kembali jawaban bu guru itu sekarang, aku tersenyum sendiri. Kusadari itu jawaban yang singkat dan tak perlu banyak berpikir. Sama sekali tak ilmiah apalagi mendidik. Tapi jawaban ilmiah dari pertanyaanku dulu itu juga belum aku temukan. Aku pun masih terus mencari jawabannya.

”Nak Heru, jangan melamun.“

Perkataan Pak Bon membuatku tersadar dari alam lamunanku. 

”Tadi Nak Heru mau tanya apa?“ Pak Bon mengingatkanku.

Aku pun tiba-tiba teringat tadi hendak bertanya sesuatu.

”Kenapa tiang bendera tak ada benderanya, Pak?“ tanyaku.

”Sudah dari sananya,“ jawabnya.

Aku mengernyitkan dahi.

”Maksudnya?“

”Ketika tiang bendera itu dulu dibeli kan tidak sekalian benderanya.“

Aku tambah bingung mendengarnya.

”Maksudnya bagaimana? Kok saya jadi tak paham.“

”Tiang bendera itu baru dibeli setahun lalu.“

”Lha terus tiang bendera yang lama.“

”Digergaji orang yang tak suka adanya upacara bendera, setahun lalu. Benderanya dicuri. Untungnya tali untuk mengerek bendera tak ikut diambil.“

”Terus orangnya?“

”Berhasil kabur.“

Aku geleng-geleng kepala mendengar cerita Pak Bon.

”Dulu waktu beli tiangnya kenapa tak sekalian benderanya?“

”Dana tak cukup, Nak Heru.“

”Lalu kalau ada upacara bendera, bagaimana?“

”Pakai bendera pinjaman dari sekolah lain.”

Aku terkejut mendengarnya.

”Ini Pak Kepala Sekolah baru pinjam ke sekolah lain biar besok bisa upacara bendera 17-an.“

Aku hanya manggut-manggut. 

”Bagaimana kalau saya bantu belikan benderanya?“

Pak Bon menggelengkan kepala.

”Kenapa tak mau, Pak?“

”Karena saya hanya Pak Bon bukan kepala sekolah. Yang berhak memutuskan itu kepala sekolah.“

Mendengar jawaban Pak Bon, aku ingin tertawa tapi aku tahan karena tak ingin menyakiti perasaannya.

”Kalau begitu, kita tunggu kepala sekolah saja.“ Pak Bon mengangguk, setuju dengan perkataanku.

”Biasanya jam segini, Pak kepala sekolah sudah datang membawa bendera pinjaman,“ kata Pak Bon setelah dua jam menunggu. Aku juga sudah mulai bosan menunggu.

”Ya sudah, Pak. Kalau begitu saya mau beli bendera dulu.“

Pak Bon berusaha mencegahku tapi aku yang berjalan cepat tak menghiraukannya. Segera kunaiki sepeda motor yang terparkir di luar sekolah. Mengendarainya dengan kecepatan tinggi. Menuju ke tempat penjual bendera yang biasa mangkal jualan di trotoar.

”Bendera masih ada, Pak?“ tanyaku kepada seorang penjual bendera kepada seorang penjual bendera yang tampak sedang mengemasi dagangannya.

”Sudah habis, Mas. Diborong orang,“ jawabnya.

”Tumben sudah habis,” selorohku. 

”Iya, Mas. Mendadak banyak orang jadi nasionalis di bulan Agustus ini,” sahutnya.

Aku tersenyum kecut mendengarnya. Lalu kupacu pelan sepeda motorku mencari penjual bendera lain.

Ketika berbelok di sebuah tikungan sepi, muncul sepeda motor melaju kencang dari arah berlawanan. Tabrakan tak terhindari lagi. Aku dan pengendara motor yang menabrakku jatuh terkapar di aspal jalan. Aku segera bangkit, kulihat ada lecet-lecet luka di badan. Kudekati si pengendara motor yang tubuhnya tampak sudah tak bergerak.

Kuperhatikan tangan pengendara motor itu menggenggam bendera merah putih.

Tak pikir panjang, kulepas genggaman tangannya dari bendera merah putih. Lalu kuambil benderanya. Segera kunaiki sepeda motorku, berusaha menghidupkannya tapi tak bisa.

Aku tak mau membuang waktu, kutuntun sepeda motorku menjauhi tempat kecelakaannya. 

”Ini benderanya, Pak.” Aku menyerahkan bendera kepada Pak Bon sesampainya di sekolah.
Ia memandangi lecet-lecet di tubuhku.

”Itu kenapa?” tanya Pak Bon mulai curiga.

”Tak apa-apa kok, Pak. Ini tadi jatuh dari motor waktu mau buru-buru beli benderanya,” sahutku berbohong.

”Ya sudah, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu.” Pak Bon tak menjawab. Ia sibuk mengamati bendera merah putih yang aku serahkan. 

”Hei tunggu, Nak Heru.” Pak Bon memanggilku.

Jantungku terasa berhenti berdetak, takut kalau ia tahu bendera itu bukan aku membelinya. Aku menghentikan langkah, berbalik badan.

”Terima kasih karena berkat dirimu, tiang benderanya tak kosong.“ Pak Bon berkata sambil menepuk pundakku. Aku tersenyum lalu menghela nafas lega.

”Tapi baru saja, ada kabar duka Pak kepala sekolahmu dulu meninggal, tabrakan sepeda motor sepulang meminjam bendera dari sekolah lain.“ Aku tercekat mendengarnya.

”Jangan-jangan orang yang tabrakan denganku tadi itu,“ batinku tak karuan. 

Aku ingin mengakuinya tapi aku takut konsekuensi yang bisa kuhadapi nanti. Tubuhku seperti sudah tak kuasa menahan gejolak dalam batinku. Sesaat sebelum tubuhku ini ambruk ke tanah, lamat-lamat kudengar suara Pak Bon memanggilku, ”Nak Heru... Nak Heru.“

Tapi suara panggilan itu segera menghilang, tertelan kegelapan yang menyelimutiku. 

[] Yogyakarta, 2016 

Herumawan Prasetyo Adhie Pringgokusuman GT II/537 A
RT 24/RW06 Yogyakarta 55272


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Herumawan PA
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 2 Oktober 2016

0 Response to "Tiang Kosong"