Al - Keropak - Dayu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Al - Keropak - Dayu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:22 Rating: 4,5

Al - Keropak - Dayu

Al

Kitabmu serupa sarang dengan abjad burung-burung
yang digurat dengan dawat, serupa tinta
hitam, nyata, dan sebagian tenggelam ke lubuk rahasia
- dan ceruk itu kau sebut sebagai kegaiban Sangtahu
Ketika bibirku mengeja, kudengar dengung suara
kicau doa; ada yang mengangkasa, ada yang putus asa
- Ia pun menyaru sebatang pohon khayai
lantunanku merupa kepak sayap dengan kaki-
kaki kata mencengkeram dahan-dahannya yang beranting
Ketika aku terus membalik halaman demi halaman,
kakiku berpindah ke daratan, dan memanjat ke tinggian
dan aku semakin tak tahu letak Sangtahu bertumpu
sungguhkah ia tidak satu, tetapi berjumlah sekian,
sebagaimana gugus rahasia yang bergerak
dari lembar ke lembar keropak

2016

Keropak

Dalam sajak yang kelak kau baca sebagai keropak
Duniaku semungil kelereng - benda yang mungkin
kau anggap asing
Di sepetak tanah, hanya kutanam jewawut dan rempah
Dengan lumbung yang cukup untuk bersantap semusim batih
Di sebentang angkasa, hanya kulihat gambar dan kaca
yang kadang biru, merah, dan putih
dengan kerlip kekunang yang ringkih

Kutulis keropak sajak itu dari kefakiran kata
Kefasihan bahasa yang terbata-bata
Bunyinya 'lah lesap ke bumi latah
Aku mengulang yang sudah-sudah
Serupa roda sepeda yang melintas di kerikil setapak
Di jalan-jalan kampungku
Yang sempit, sepi, dan apak

Kelak ketika ia sampai kepadamu, meski 'lah menjelma hantu
Lihatkah diksi akhirnya, bukan lelembarnya
Di situlah aku menghimpun mantra, penuh lekuk bunyi dan berbeda
Aku menyematkan kata kunci, yang dapat membuka
semesta kala - dan kau dapat bersua denganku
meski aku sedang dipanggang di atas bara
neraka penantian!

Cibinong, 2016

Dayu

di batu bulan, ketika kau gelung rambutmu nuju gerbang
galungan - kulihat janur kuning mengguratkan
hasrat purba bercocok tanam, dan kelak bertunas
tapi menemukanmu dalam balutan kain emas,
aku pun dirundung ragu dan cemas

o, dara penuh rupa pura - aku hanya petani tadah
hujan, dengan sepetak lahan warisan, bertrah rendah
dengan kenangan pahit terajah sepanjang sejarah
izinkan aku menjemput impian dengan riuh
puputan, meskipun di menu sesaji tak kutemukan harga
diri, yang telah hanyut ke kali-kali -- tersebab getar ini
perang akan mengiang melebihi sembahyan
dan kuukir diri menjadi perisai seluruh sepi...

di depan gapura, di atas banten, kuurapkan wangi dupa
dengan doa singkat yang kupenggal dari madah sutra
"datanglah takdirku, lukaku, sundalku
penuhi karmaku
yang hanya dapat ditebus dan sembuh oleh Cinta..."

2016


Mashuri, lahir di Lamongan, Jawa Timur, 27 April 1976. Buku puisinya, antara lain Pengantin Lumpur (2005) dan Munajat Buaya Darat (2013). Ia berkhidmat sebagai peneliti sastra di Balai Bahasa Jawa Timur.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mashuri
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 12 November 2016

0 Response to "Al - Keropak - Dayu "