Pengasah Batu - Hikayat Pohon Nur | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pengasah Batu - Hikayat Pohon Nur Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:51 Rating: 4,5

Pengasah Batu - Hikayat Pohon Nur

Pengasah Batu

/1/
kami menggali tanah
seperti malaikat penjaga kubur
bersedekap di lobang liang lahat

batu-batu yang kau sembunyikan
di sepanjang jalan-jalan kecil di lereng-lereng
bukit
kami kenali kembali urat dan warnanya
seperti membacai prasasti kisah-kisah cinta
para ratu
/2/
kami mencokel semua urat dan warna
lantas mengasah dan menggosoknya
seperti para lelaki menggosok bini-bininya
agar kelak di rahimnya tumbuh bunga-bunga
batu
/3/
belajar pada ibrahim
kami menandai lantas mengasah batu-batu
mengingatkan sejak pertama kita lahir
hati kita telah diwarnai dengan tajam
oleh dusta-dusta kekal dan bebal
: serupa batu!
lantas, dengan pongah, bodoh dan bangga
menggedongnya di punggung dan pamerkan
kemanapun kita pergi.

grojogan-danaraja-

Hikayat Pohon Nur

Bermula dari bijimu yang secuil sawi aku
belajar mengeja tuhan
mengenal degup yang berharap lembut
tumbuh menyubur
bersama dahan-dahan penampung ranting
dan rimbun daun
maka, melangitlah.melangit pohon nur.
ranting, dahan, daun cahaya
tempat segala anak mendongak takjub pada
kehidupan

dahan-dahan perkasa menyimpan teduh
tempat para burung tiitipkan cericit pada
sulur matahari
menebar benih-benih pesona.takjub tak
putus-putus:

di sinilah cahaya itu menjadi lampion
tempat sabda Tuhan disimpan
kelahiran, taksu, pupus dan kewajiban

begitulah para nabi menggantungkan kitab-
kitab di dahan itu
menjadi ranum buah-buah bercahaya
abadi tak pernah matang namun selalu segar
seperti senyum para bidadari yang bibirnya
lafalkan nur nur nur

pohon itu tubuh terus meninggi melangit
dahan, ranting, daun dan buahnya bercahaya
seperti pesona puisi-puisi yang ditulis para
darwis

pohon itu tumbuh meninggi bertabik kepada
awan
akarnya menjalar ke pusat semesta
seperti berkah yang meluncur ke langit
lantas melesak ke bumi
menyusupkan rumbai-rumbai cahaya ke
ceruk paling gelap

demi kun fayakun
pohon itu meninggi
dahan ranting berimbun cahaya
seperti mantra wartakan lambang dan
tembang
petanda tuhan selalu tersenyum di setiap
bilangan sepertiga
memandang kita yang pongah menaksir
berapa tinggi cahaya
terlampau bebal berharap sanggup
menampung daun-daun nur

pohon nur itu kian meninggi
rimbun cahaya tumbuh meruah
bersama masa dan mantra-mantra

Bumi Ketanggi, 2016

Tjahjono Widarmanto, tinggal di Ngawi, Jawa Timur. Antologi puisinya a.l. Sejarah yang Merambat di Tembok-Tembok Sekolah (2014), Mata Air di Karang Rindu (2013). Buku nonfi ksi terbarunya Marxisme dan Sumbangannya ter- hadap Teori Sastra: Menuju Pengantar Sosiologi Sastra (2014) dan kumpulan esainya Masa De- pan Sastra: Mozaik Telaah dan Pengajaran Sastra (2013).




Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tjahjono Widarmanto 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 6 November 2016


0 Response to "Pengasah Batu - Hikayat Pohon Nur"