Pohon Buku | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara
Pohon Buku Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:15 Rating: 4,5

Pohon Buku

1

LAKI-LAKI itu datang dengan penuh keyakinan. Melangkah ke dalam rumah seakan ia telah mengenal pemiliknya dengan baik. Setelah mengamati sekeliling, ia bertanya, “Kalian sudah mendengar tentang pohon yang berbuah buku?” 

Papa Zamaradra--pemilik rumah yang dari tadi diam karena tahu laki-laki ini bukanlah orang sembarangan--hanya menggeleng tak mengerti. 

“Pohon itu tersembunyi di antara pohon-pohon besar yang tumbuh di hutan ini. Awalnya ia akan berbuah seperti buah pada umumnya. Bulat dan berwarna cerah. Semakin lama bentuknya berubah menjadi sebuah buku.” Nada suara laki-laki itu memelan beberapa oktaf. “Kulit buah itu seakan menjadi sampul buku, isinya yang biasa kita makan menjadi halaman-halaman buku, dan bijinya yang hitam menjadi tulisan yang memenuhi lembaran-lembarannya.” 

“Lalu,” suara Papa Zamaradra terdengar, “maksud kedatangan Tuan ke mari?” 

“Tentu aku ingin memintamu meng-ambil pohon itu untukku. Bukan sekadar buku-bukunya, tapi seluruh pohon itu seutuhnya.” 

Papa Zamaradra tampak ragu, “Tapi... kami tidak....” 

Laki-laki itu memotong cepat, “Aku sudah mendengar reputasi keluarga ini. Hanya kalian yang sudah melakukan pekerjaan-pekerjaan luar biasa. Aku sudah mendengar bagaimana kalian memindahkan sebuah rumah besar....” 

Papa Zamaradra menggeleng, “Itu berbeda. Pekerjaan kami hanya mengirim barang. Rumah yang dulu kami kirim itu hanya rumah kecil yang dibangun di atas batu....” 

“Memindahkan pohon lebih mudah dari memindahkan itu. Bukankah kalian sudah memiliki segalanya: kuda-kuda, para pekerja, alat-alat pendukung dan tentu...” laki-laki itu menyentuhkan ibu jarinya ke kening, “otak kalian.” 

Selepas mengucapkan itu, laki-laki itu mengambil sesuatu dari balik baju dan melemparkannya di meja. “Itu sebagian upahnya. Kau akan mendapatkan separuh lagi saat berhasil.” 

Demi upah itu Papa Zamaradra mengirim dua anaknya untuk meninjau tempat di mana pohon itu berada. Si sulung, laki-laki dengan tubuh kurus yang terkenal pandai menaiki kuda. Si bungsu, perempuan dengan sinar mata yang membuat orang segan padanya. 

Setelah mencari seharian, keduanya akhirnya bisa menatap pohon buku itu di depan mereka. Besar batang utamanya mungkin hanya satu pelukan orang dewasa. Bila dilihat dari dekat, tak ada yang tampak berbeda dengan pohon ini. Tapi bila dilihat dari jauh, terlihat di beberapa cabangnya buku-buku beraneka warna bergelayutan ditiup angin. 

“Laki-laki itu memang orang bodoh,” seru si sulung. “Bagaimana bisa ia menghabiskan ratusan keping emas hanya untuk buku? Dengan 10 keping emas saja aku bisa membelikannya ratusan buku.” 

Si bungsu tersenyum sinis, “Apa kau tak pernah berpikir bila buku-buku itu bernilai sangat tinggi? Jelas sekali bukan, buku-buku itu bukan ditulis oleh manusia? Bisa jadi pencipta alam ini yang menulisnya. Menurutku ratusan keping emas itu tak berarti apa-apa untuk pohon seperti ini.” 

3

Ada tujuh orang yang selalu hadir di meja bundar. Papa Zamaradra selalu duduk di kursi utama. Di sebelah kirinya ada ayahnya yang tak pernah bicara. Ia bukan tak ingin bicara, tapi memang tak bisa. Semasa muda lidahnya telah dipotong saingan bisnisnya karena telah membocorkan rahasia. 

Di sisi lain, duduk dua adik Papa Zamaradra. Keduanya diam-diam selalu ingin duduk di tempat Papa Zamaradra. Tapi mereka tak pernah menampakkannya. Semua orang tahu, bila tiba waktunya, mereka pasti siap menyungkurkan Papa Zamaradra. Adik pertama selalu tampak beringas. Ia selalu memain-mainkan belati di tangannya. Bila ada lalat yang mendekat, dengan cepat ia akan membelah lalat itu. Ini tentu upayanya menakutnakuti siapa pun yang duduk di meja bundar ini. Tapi bagi Papa Zamaradra itu tak berarti apa-apa. 

Berbeda dengan kakaknya, adik keduanya tak banyak bicara. Ia tipe laki-laki yang suka mengamati, dan bertindak paling akhir. Namun, istrinya yang duduk di sebelahnya, selalu bicara mewakilinya. Ia perempuan cerdas yang sebenarnya dulu pernah dicintai oleh Papa Zamaradra. Tak ada yang tahu bagaimana kisah cinta mereka. Tapi sisa-sisa perasaan itu masih dapat dilihat dengan jelas di meja bundar ini. Hanya pada perempuan ini Papa Zamaradra tak pernah meluapkan kemarahannya. Kemarahannya reda bila perempuan ini sudah menenangkannya. 

Di sebelah ayah Papa Zamaradra, duduk kedua anaknya, si sulung dan si bungsu, yang sejak beberapa tahun terakhir ini menjalankan usaha pengiriman barang milik keluarga ini.

“Aku sudah melihatnya Papa,” ujar si sulung. “Pohon itu dikelilingi pohon-pohon lain yang besar dan rapat. Kita sepertinya harus terlebih dahulu memotong dan meratakan pohon-pohon itu.“ 

Papa Zamaradra melirik pada anak bungsunya. Ia lebih percaya dengan analisa anak perempuannya ini. Tapi kali ini si bungsu hanya mengangguk menyetujui ucapan kakaknya. 

“Papa sebaiknya meminta bayaran lebih. Kupikir buku-buku itu bukan buku-buku sembarangan. Bisa jadi ini....” Si bungsu mengambil jeda beberapa saat, “pesan dari pencipta alam ini.”

Upaya pemindahan Pohon Buku segera dilakukan. Laki-laki itu tak menolak saat Papa Zamaradra meminta bayaran lebih. Ia tak punya pilihan lain. Ia sudah menyiapkan semuanya, termasuk membangun sebuah taman indah di belakang rumahnya yang megah. Beberapa pohon sudah ditanam, kolam-kolam sudah diisi dengan ikan-ikan berwarna-warni. Sebuah bangunan perpustakaan besar ada di tengah-tengahnya, tepat berhadapan dengan Pohon Buku itu nantinya. 

Maka dengan membawa puluhan pekerja dan kuda, Papa Zamaradra memimpin sendiri upaya pemindahan pohon itu. Tapi saat tiba di tempatnya, pohon itu ternyata telah lenyap. Tak tersisa apa-apa di situ, selain tanah kosong.

Papa Zamaradra tahu semua orang yang duduk di meja bundar ini bisa dicurigai. Mulai dari ayahnya, adik-adiknya, anak-anaknya, bahkan perempuan yang dulu pernah dicintainya. Maka ia pun segera meletakkan pistol di atas meja. 

“Sebelum aku semakin marah, kuminta kalian yang telah berani mengkhianati keluarga ini mengaku saja!” ujarnya pelan. “Mungkin... aku masih bisa berbaik hati.” Semua wajah tampak beku. Termasuk wajah adik pertamanya yang biasanya tampak beringas. 

Semua tahu sebagian besar keping emas yang sudah diterima sudah dibagi dan terpakai. Jadi bila laki-laki itu datang meminta kembali uangnya, tak akan ada yang bisa dikembalikan. 

“Kalian memang keluargaku. Kalian berbagi cerita di sini. Kalian juga yang menghabiskan makanan di meja ini. Tapi, pengkhianat harus tetap mati!” 

Ayahnya menyentuh tangan Papa Zamaradra, tampak berusaha mengucapkan sesuatu. Tapi Papa Zamaradra menepisnya. 

“Kau terlalu terburu-buru menyimpulkan!” Istri adik keduanya mencoba menenangkannya. “Bisa jadi ini dilakukan oleh orang lain.” 

Tapi kali ini Papa Zamaradra tak bereaksi. Ia melirik anak perempuannya. Menyadari pendapatnya ditunggu, si bungsu akhirnya bicara, “Aku berpikir, bisa jadi ini dilakukan laki-laki yang memberi kita pekerjaan ini. Ia sebenarnya keberatan dengan bayaran yang kita minta, dan menemukan orang lain yang mau bekerja dengan bayaran di bawah itu.” 

Si bungsu menarik napas panjang, “Tapi kita tak bisa membuktikan apa-apa, Papa. Ini kesalahan kita karena tak menjaga pohon itu sejak awal. Kupikir, kita memang harus mengembalikan uang yang sudah diberikan.” Lalu si bungsu mengeluarkan kantong uangnya dan melemparkannya di meja. 

Papa Zamaradra hanya bisa menggemeretakkan giginya. Ia mungkin akan memutuskan seperti yang diusulkan putri bungsungnya itu, tapi ia tak akan pernah berhenti mencari tahu siapa yang telah berani menusuk dari belakang. Ia siap menembak siapa pun, termasuk perempuan yang pernah dicintainya! 

Tak ada yang menggubris sosok Cyliana! Perempuan itu salah satu pembantu di rumah besar Papa Zamaradra. Tugasnya mencuci baju. Walau dikenal sebagai perempuan baik, tapi beberapa orang mengganggapnya malas, kerena terlalu sering membaca buku. Selepas bekerja, ia akan mencari tempat sepi untuk membaca buku. 

Hari itu, saat ia menyajikan minuman di meja bundar, ia mendengar sedikit tentang Pohon Buku itu. Ini adalah impian sejak masa kecilnya. Ia kerap membayangkan bila di halaman belakang rumahnya yang sempit, tumbuh sebuah pohon yang berbuah buku. Ia tak perlu ke toko-toko loak. Ia hanya perlu menunggu di depan jendela. Menunggu buku-buku itu ranum di ranting-rantingnya. 

Dengan rasa penasaran yang meluap, Cyliana mendatangi hutan di mana pohon itu berada. Betapa takjubnya ia saat melihat pohon itu ternyata benar-benar ada. Buku-buku bergelantungan di ranting-ranting. Cyliana segera memanjat pohon itu. Ia memetik satu buku yang ranum, lalu membacanya sekilas. Ini membuat senyumnya rekah. Bagai kesetanan, Cyliana kembali memetik buku yang lain. 

Buku-buku itu dilemparkannya ke bawah hingga menumpuk. Namun saat ekor matanya tanpa sengaja melihat tumpukan itu, Cyliana baru menyadari pohon yang dipanjatnya ternyata menjadi lebih pendek. Ia kemudian sadar, kalau setiap buku dipetiknya, ternyata membuat pohon itu semakin menyusut. 

Kini Cyliana hanya perlu melangkahkan kakinya untuk menjejak tanah. Pohon itu sudah begitu pendek. Batang utamanya hanya seukuran pergelangan kakinya. Saat itulah sebuah pikiran muncul di kepala Cyliana. Ini membuatnya menyentuh pohon itu, lalu dengan sekali tarik, dicabutnya pohon itu dari tanah. 

Cyliana menatap pohon di tangannya dengan mata berbinar. Seiring impian masa kecilnya yang kembali muncul. *** 

Yudhi Herwibowo. Aktif di buletin sastra Pawon, Solo. Novel terbarunya Cameo Revenge (2016).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yudhi Herwibowo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 20 November 2016


0 Response to "Pohon Buku"

Post a Comment