Sapi-Sapi Kuning Langsat - Pesta Besar di Pasar Silungkang - Kereta dari Kamang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sapi-Sapi Kuning Langsat - Pesta Besar di Pasar Silungkang - Kereta dari Kamang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:21 Rating: 4,5

Sapi-Sapi Kuning Langsat - Pesta Besar di Pasar Silungkang - Kereta dari Kamang

Sapi-Sapi Kuning Langsat

Sapi-sai kunging langsat
di pinggang gunung beraur lebat

tertidur aku emmelukmu
dengan kaki masih berlumpur.

telah aku katupkan jendela kandangmu
seperti mengatupkan dua kancing baju

lewat celah yang ternganga itu
aku mengintipmu:

pasar-pasar yang melimpah ke jalan raya
-- orang-orang dan baju warna-
warni membawa berhektar-
hektar ladang tebu di atas kepala

Sapi-sapi kuning langsat
di pinggang gunung berkabut pekat

terjaga aku mencium pahit gula pada napasmu
- pada keranjang-keranjangmu yang berat.

Pesta Besar di Pasar Silungkang

Telah rebah kerbau sore tadi
malam nanti akan rubuh tubuh
untuk itu kita berkhidmat  di sini
menyusun siasat dalam remuk hasrat
"sebab kita tak makan nasi dari sawah kita lagi
sebab di halaman kereta arang lewat tiga kali sehari!"
untuk itu rudus dan kelewang harus terus melayang
meski akan terdengar juga ratap
kau menyebutnya litani
tetapi apa litani bagi kami?
hanya suara dari leher berderak patah
di tiang panjang pada tali rumit simpul
dengan doa yang dibaca diam-diam
"ke mana akan kau bawa kami
bersama kereta ini?"
ke mana akan kau bawa mereka
bersama kereta nasibnnya?
kereta malang bara-arang
ke kapal-kapal mereka menuju
ke laut berombak besar, katamu
ke pulau-pulau angin berkisar, tampuk nasib terbuhul
pada tahun-tahun gasal oh nasib sial
"apakah kita, adinda, masih akan bersua
dalam hangat-asmara yang menua?"
pada tali rumit simpul itu, kakanda
seperti bandul, bergoyang suaramu

Kereta dari Kamang

Attar, borjuis kecil, berpose di atas bugi.

"Kuda ini, satu-satunya,
yang selamat dari amuk beriberi!"

Attar melihat kepul asap pada sepur
bersama kabut petang yang hablur

di atas bugi warisan leluhur
Attar saksikan masa lalu setengah kabur.

"Dari jendela aku lhat kereta liwat!"

Dari jendela gedong itu kau lihat petaka,
Attar, orang-orang terkebat pada rantai besi
menuju tangsi terbuka di pulau-pulau baru.

"Di mana itu, di mana itu, Digul, Engku?"

Dan senja datang lebih cepat dari biasa
bersama senyap kelenong gelang-gelang baja
serupa genta tembaga pada leher kuda.

"Kuda ini, satu-satunya,
yang tersisa dari kecamuk masa Pidari!"

Sebab itu, Attar, kau lambaikan tangan: selamat jalan!




Deddy Arsya lahir dan tinggal di Sumatera Barat. Buku puisinya berjudul Odong-odong  Fort de Kock (2003).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Deddy Arsya
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 5 November 2016 

0 Response to "Sapi-Sapi Kuning Langsat - Pesta Besar di Pasar Silungkang - Kereta dari Kamang"