Stigma | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Stigma Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:55 Rating: 4,5

Stigma

KATA ayah, dulu waktu aku lahir seperti bayi laki-laki pada umumnya. Tak mempunyai ciri-ciri khusus. Semua normal. Cuma, kata ayah, suara tangisanku yang sedikit berbeda. Sedikit aneh. Suara tangisanku terdengar seperti orang terkekeh akibat melihat kejadian lucu.

Waktu pun berjalan dan tak bisa dihentikan. Keanehan mulai muncul pada diriku. Umur 10 tahun kumisku sudah tumbuh lebat. Bayangkan, bocah berumur 10 tahun berkumis! Dan itu bukan kumis seperti pada umumnya. Kumisku hanya sepanjang jarak dua lubang hidung, persis seperti kumisnya Adolf Hitler. Mulailah muncul stigma pada diriku. Aku adalah bocah aneh. Keturunan setan. Aku mulai dimusuhi.

Ayahku juga pernah bercerita, bahwa aku lahir pas bersamaan ketika Adolf Hitler mengarahkan pistol otomatis Walther ke pelipis kanannya, dan menarik pelatuknya. Itu terjadi di suatu sore pada 30 April 1945. Ketika Adolf Hitler tewas, aku pun lahir.

Kepribadian seseorang bisa terbentuk karena anggapan-anggapan masyarakat. Stigma sosial. Orang-orang itu menganggap aku adalah jelmaan Adolf Hitler, laki-laki yang mampu menjerumuskan peradaban pada jurang kekelaman. Semula aku tidak tahu, siapa Adolf Hitler. Kenapa orang-orang itu menganggap aku jelmaan Adolf Hitler, dan mereka ingin membunuhku? Lambat laun, akhirnya aku tahu siapa Adolf Hitler, dan karena anggapan itu, akhirnya aku menganggap bahwa aku adalah Adolf Hitler. Jadi siap yang salah? Aku, atau orang-orang itu?

Kejadian yang tak pernah aku lupakan adalah ketika orang-orang itu menggeruduk rumah kami. Aku berumur 12 tahun saat itu. Orang-orang itu memaksa orangtuaku agar aku diserahkan pada mereka untuk dibunuh.

”Sebelum kekacauan itu terjadi di negeri ini, serahkan anak itu pada kami!“ teriak pemimpin rombongan.

Bergetar tangan ayah memelukku. Ia tak mengira akan mengalami peristiwa itu. Aku anak satu-satunya, tak mungkin ayah menyerahkan aku pada mereka. 

Penyakit paranodi memang menakutkan. Bayangkan, mereka takut pada seorang bocah yang mereka anggap akan menjelma menjadi mesin pembunuh.

Saat peristiwa penggerudukan itu, ayah terlihat berpikir keras mencari jalan keluar menyelamatkan nyawaku. Wajah ibu juga terlihat pucat sambil menahan tangis. Untunglah saat itu hari sudah malam, keadaan di luar gelap. Ayah lalu memutuskan menyelinap keluar rumah lewat pintu belakang.

Ayah tak memikirkan lagi soal rumah dan isinya. Mengendap-endap, ayah menggandengku keluar rumah. Ayah berbisik padaku, jangan banyak tanya, dan jangan berkata-kata. Aku menuruti perintah ayah. Pelan kami berjalan di antara alang-alang yang tumbuh liar di belakang rumah kami. Langit terlihat bersih berhias bintang. Kami terus berjalan hingga kami memasuki hutan yang belum aku kenal. Keadaan menjadi gelap. Bintang-bintang itu sinarnya tak mampu menembus lebatnya dedaunan. Aku ketakutan. 

”Kita harus terus berjalan. Fajar, mungkin kita sudah keluar dari hutan ini,“ kata ayah ketika merasakan aku enggan melangkah lagi.

”Aku ingin istirahat,Ayah,“ kataku pelan dan suara bergetar akibat rasa letih.

Ayah menghentikan langkah. Aku rasakan tangan ayah mengusap-usap kepalaku. ”Baiklah, kita istirahat sebentar.“

Kami bertiga duduk bersampingan di bawah pohon yang akarnya menonjol. Aku dengan ibu menangis pelan. Ayah diam. sepertinya otaknya dipenuhi pertanyaan.

”Siapa Adolf Hitler?“ tanyaku pelan.

”Mesin pembunuh,“ jawab ayah. 

”Kenapa mereka menganggapku Adolf Hitler?“

”Kumismu dan potongan rambutmu.“

Kami terdiam dengan pikiran masing-masing. Suara binatang-binatang malam memenuhi telingat kami. Suara-suara burung hanti terdengar bersahutan di atas kami.

***
BENAR yang dikatakan ayah, fajar kami sudah berhasil keluar dari hutan. Sinar matahari mulai memerlihatkan wajah kami. Wajah ayah dan ibu terlihat letih. Ketegangan masih menyelimuti wajah mereka. Kedua mata ayah memerah akibat tidak tidur semalaman. Aku pun merasakan keletihan yang sebelumnya belum pernah aku alami.

”Kita istirahat sebentar,“ kata ayah sambil melihat keadaan sekeliling.

Tanpa menunggu waktu, aku segera menaruh pantatku di atas rumput yang masih basah oleh embun. Seandainya rumput itu tidak basah, aku akan merebahkan tubuhku ke atasnya. Rasa lapar mulai menghampiriku, tapi aku tak berani bilang pada ayah. Aku mulai merenung tentang diriku. Tentang kumisku. Aku raba-raba kumis anehku.

”Ini hanya kumis!“ pekikku dalam hati. ”Ini hanya kumis yang kebetulan tumbuh pada seorang bocah. Itu memang kejadian aneh. Dan karena itu, aku akan dibunuh?“

Tiba-tiba muncul ide di benakku. ”Ayah, jika mereka memersoalkan kumisku, kenapa kumisku tidak dicukur saja?“

Ayah mendekatiku dengan tatapan sedih. ”Percuma, anakku, setelah dicukur nanti akan tumbuh lagi. Rambut itu seperti rumput. Dipotong, tumbuh lagi.“

Ternyata kami istirahat cukup lama di tempat itu. Bahkan aku sempat tertidur dengan cara duduk, kepala terapit di antara dua kakiku. Pelan ayah membangunkan aku. Aku tergeragap, dan kedua mataku terasa pedih.

”Ayo, kita lanjutkan perjalanan ini. Ayah takut, mereka ada di belakang kita.“

Aku masih termangu karena tiba-tiba pening menyerang kepalaku.

”Cepatlah!” bentah ayah, “apa kau ingin mati di tangan mereka?!”

”Kita akan ke mana?” Tiba-tiba ibu yang semula diam,kini bertanya dengan suara serak. 

“Ke rumah Kakek.”

Tertatih-tatih kami mulai melanjutkan perjalanan. Entah sudah berapa kali kakiku terantuk batu. Luka lecet pada kedua telapak kakiku karena gesekan telapak kaki dengan tanah dan batu, mulai muncul. Rasanya perih sekali. Rasanya aku sudah tak sanggup melangkah lagi.

”Tempat Kakek sudah dekat....“

Kalimat itu selalu diulang ayah, sekadar memberi aku semangat untuk berjalan lagi. Entah sudah berapa kali ayah mengucap kalimat itu.

***
AKHIRNYA kami sampai di rumah kakek dengan tubuh terasa terpotong-potong. Kakek terkejut melihat kedatangan kami. Tapi aku lihat tatapan kakek terlihat aneh ketika menatapku. Rupanya kakek sudah mendengar kejadian yang kami alami.

Hari itu kami bisa tidur nyenyak. Hari-hari selanjutnya juga begitu. Tenaga kami pulih kembali. Sejenak aku bisa melupakan kejadian yang menakutkan itu. Cuma ada satu yang mengganjal di hatiku, selama aku berada di rumah kakek, tak sekali pun kakek menyapaku.

Suatu malam aku terbangundan mendengar percakapan ayah dan kakek di ruang depan. Mereka sedang membicarakan aku.

”Anak itu akan membawa bencana untuk keluarga besar kita.“ Jelas itu suara kakek. ”Sebenarnya aku enggan kalian menginap di sini. Tetangga mulai kasak-kusuk.”

Tak ada jawaban dari ayah.

”Aku yakin, berita akan segera akan menyebar ke mana-mana. Jika sudah demikian, dan kalian tetap tinggal di sini, maka mereka gantian akan menyerbu rumah ini, serahkan anakmu pada mereka.”

Kakek seakan mengancam ayah, dan sekali lagi tak ada jawaban dari ayah. Aku merenung. Kakek sudah teracuni anggapan-anggapan itu. Aku adalah cucunya, darah dagingnya, dan kakek tak bersimpati pada nasibku. Ia lebih memilih aku mati.

”Semua demi keselamatan kita.”

Semua lalu menjadi hening. Mudah-mudahan ayah tak terpengaruh pendapat kakek. Jika ayah terpengaruh, maka tamatlah riwayatku.

Dan puncak kejadian hingga membalikkan keadaan, terjadi. Ruang depan sudah tak ada suara lagi. Mungkin, ayah, ibu, dan kakek sudah tidur. Aku masih terjaga akibat desakan kakek pada ayah. Korden pintu kamar aku tidur, dibuka. Rupanya kakek. Aku pun pura-pura memejamkan mata. ”Kakek ingin menyapaku?” tanyaku dalam hati.

Tidak. Ternyata kakek ingin membunuhku. Tangan kanan kakek menggenggam sebilah belati. Suara kakek mendesis tertahan di tenggorokan. Tuhan berkehendak lain. Ketika kakek hendak menikamku, kakek terpeleset. Kakek jatuh terjerembab, dan pisau yang ia bawah menusuk ulu hatinya sendiri. Kakek mengerang kesakitan. Aku sendiri tidak menyadari situasi itu. Mendengar kegaduhan di tempat aku tidur, ayah masuk. Betapa ayah terkejut melihat kakek tergeletak bersimbah darah.

”Anak itu memang membawa bencana,“ desis kakek menahan sakit. ”Singkirkan anak itu!”

Ayah mulai terpengaruh. Ayah mulai percaya yang dikatakan orang-orang itu, bahwa aku titisan iblis yang nantinya akan menjadi mesin pembunuh. Ayah mulai berteriak padaku. Dan untuk pertama kali, aku merasakan tamparan ayah.

”Pergi dari sini, atau kau aku bunuh?!“

Itulah terakhir kali aku bersama ayah dan ibu. Sebenarnya ibu sudah berusaha menahan kemarahan ayah. Sepertinya ayah sudah tidak bisa dinasihati. Kemudian ibu berbisik kepadaku, agar aku pergi. Maka dengan perasaan berat yang entah bagaimana menggambarkannya, aku pergi meninggalkan mereka.

***
UMURKU kini sudah 30 tahun. Aku berdiri di depan cermin. Menatap tubuhku sendiri dengan seragam ala Adolf Hitler. Aku sudah menganggap bahwa aku adalah Adolf Hitler. Aku terbentuk karena stigma-stigma itu. Jadi siapa yang salah? Aku, atau orang-orang itu? •

Rumah Mimpi, 2016 

Basuki Fitrianto: Lahir di Yogykarta, pernah belajar teater di SMKI Yogya. Kini mukim di Solo. 

Rujukan:
[1] Disalin dari  karya Basuki Fitrianto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 30 Oktober 2016 

0 Response to "Stigma"