Tak Perlu - Puisi Gelap - Di Hadapan Pedagang Panci Keliling - Cukup - Kerupuk Orong-Orong Tak Laku | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tak Perlu - Puisi Gelap - Di Hadapan Pedagang Panci Keliling - Cukup - Kerupuk Orong-Orong Tak Laku Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:53 Rating: 4,5

Tak Perlu - Puisi Gelap - Di Hadapan Pedagang Panci Keliling - Cukup - Kerupuk Orong-Orong Tak Laku

Tak Perlu

-- untuk Alizar Tanjung

Tak perlu kau cari
Limau purut hanyut di arir deras itu,
Yang tersangkut di bebatu
Yang terkatung-katung di sesela kayu tumbang
Atau yang terapung-apung bersama
Cirit kuning kecoklatan itu.

Tak perlu kau minta
Kepada pencuri kubur mana pun
Selembar kain tak berjahit
Yang tepinya tak bermotif
Dan serat kasarnya tak berbatik
Sebab mereka cuma  memiliki
Tali pocong pengebat pangkal lengan
Agar ketika menuruni jendela
Rumah seorang janda terkaya di kampung
Gelagat mereka terlihat berkelebat
Bagai ciuman mesra yang tak beralamat.

Tak perlu kau berlalu-lalang
Di jembatan manapun
Sambil mengintai orang gantung diri
Hanya untuk mencuri air liurnya
Yang gugur menjelang mati.

Ke rumahku saja.
Di sini ada limau purut
Berbungkah-bungkah
Gugur langsung dari pohon langit.

Ke rumahku saja.
Di sini ada kain putih yang keluar
Dari batang beringin terbelah sendiri
Bekas tengkuluk seorang bidadari
Yang lari dari alam kabut.

Ke rumahku saja.
Di sini ada liur pungguk merindukan bulan
Yang gugur di saat kabut turun gunung.

Kau pun tak perlu sampai kebarakan janggut
Menempa pisau sampai keluar air susumu di batu asah
Hanya untuk sekali membelah
Limau purut.

Di rumahku sudah ada keris
Bermotif ular sembunyi
Dicabut dari pangkal beringin
Paling tinggi di bumi
Bekas membelah mengkudu
Bekas mengupas bawang tunggal.

Kau boleh memakainya sekehendak perutmu
Asalkan sedia menjawab satu pertanyaanku:
Betina mana yang telah membuat
Jantungmu sesak-buntu itu?

Bungo, 2016  

Puisi Gelap

Puisi-puisiku gelap
Tak ada lagi kata bersayap
Hijau daun dan retak tempurung.

Pada siang-siang garang
Puisi-puisiku tergopoh-gopoh
Melintasi rima menjuluk jakun.

Tak ada lagi lagu kasmaran, luka disayat sembilu,
Jerit demonstrasi dan pawai urbanisasi
Selain kegelapan tanpa jiwa.

Aku ingin puisiku terang kembali.
Namun di hadapan harum pagi
Dadaku seakan berseteru dengan matahari.

Muarabungo, 2016

Di Hadapan Pedagang Panci Keliling

Dengan peribahasa yang lunak
Lidah ketimbang tahi gigi,
Kau bisikkan tentang panci baru ke telingaku.

Lalu gemuruh pesta seakan menemu goyang pinggul
Saat lagumu menemui titik-koma keunggulan produk itu.
Lalu sebelangan air susu seakan mengikis gurun pasir
Dan kemarau di dadaku saat tanda seru itu
Memberi tekanan pada lagumu.

Kau pastikan tak ada sembilu matahari
Di meja makan malam ini
Mengubah kembang tepung jadi pasir

Yang dapat merasuki hidungku
Dan memaksaku bergelung dengan kain setebal
Lima inci ke sudut kamar di malam Minggu
Bila aku menandai gayamu dengan kalimat aktif.

Ini kesempatan untuk memberi makan
Harimau yang bertahun hanya menemu
Sayur dalam diriku, katamu.

Kau lalu menawarkan sebilah
Kelaci apabila aku sedia membawa pulang
Lima paket sekali bungkus.

Kau beri bonus sebungkus sikat kawat
Sebagai penggerus bintik-bintik keraguan di lidah besi
Yang dapat mengubah kelezatan lemak
Menjadi susu basi.

Aku ingin membeli itu.
Namun aku hanya memiliki segelas kopi
Untuk pembayar hargamu.

-- Tapi kau melirik ke arah nyala lampu di tumit sepatumu.

Muarabungo, 2016

Cukup 

Tuan gubernus boleh saja
Menaikkan harga beras dan jagung
Seharga onthel merek Juncker
Kami tetap akan sarapan pagi.

Tak perlu telur rebus saus Prancis
Susu kuda liar Sumbawa
Untuk mengisi sampai besi serat
Otot lengan dan engsel pinggang.

Sebungkus kerupuk kampung ini
Telah cukup bagi kami untuk memadamkan
Api dalam lambung.
Ya, sebungkus kerupuk

Cukup menjadi tang bagi jemari yang akan
Merebahkan satu hektar batang tebu
Dan mencabut seribu batang ubi kayu
Usia setahun, di ladangmu.

Bungo, 2016

Kerupuk Orong-Orong Tak Laku

Bukan aku tak hendak bergayut
Di tiang gantung seperti kerupuk Belida itu

Pun bukan pula aku tak hendak
Mengadu untung di antara puluhan bus yang berlalu.

Tubuhku seujung kelingking, seperti tabung
Berelung di tengah menampakkan isi.

Tiada kayu yang bakal terpiuh
Bagai pagi runduk menampung aku.

Tiada bus yang bakal mendemum
Bagai lenguh kerbau betina bila dimasuki aku.

Bungo, 2016 

Ramoun Apta lahir di Muarabungo, Jambi. Alumbus Sastra Indoesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Padang. Kini menetap di Kabupaten Bungo.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ramoun Apta
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" 5-6 November 2016

0 Response to "Tak Perlu - Puisi Gelap - Di Hadapan Pedagang Panci Keliling - Cukup - Kerupuk Orong-Orong Tak Laku"