Alif | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Alif Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:07 Rating: 4,5

Alif

SOLIHIN menatap sedih ke arah putra bungsunya, Rizal. Usia putra bungsunya tersebut sudah dewasa, 27 tahun, usia yang sudah seharusnya cukup dalam berumah tangga? Atau setidaknya di usia tersebut seharusnya sudah mempunyai pekerjaan tetap, tapi bagaimana? Siapa yang mau mempekerjakan pemuda bodoh?

Benar mungkin ucap sebuah peribahasa, dalam setiap pohon akan selalu ada satu atau dua buah yang tidak semanis buah lainnya. Dua kakak Rizal, Hasan dan Husein, sudah hidup bahagia dengan istri dan anak mereka. Hasan kini mengajar di salah saut universitas terkenal di Malaysia, sedangkan Husein mengurus pesantren milik mertuanya.

Dulu saat usia Rizal di bawah lima tahun, bisa membaca Iqra dengan lancar, bahkan etrgolong cerdas. Namun, entah mengapa suatu ketika, selepas Maghrib, saat usianya menjejak di angka enam tahun mendadak ia buta huruf. Dia hanya mengeja alif dan alif.

Awalnya Solihin menganggap Rizal hanya ingin bermain, tetapi besoknya saat disodorkan  Alquran karena memang awalnya sudah bisa membaca Alquran, putra bungsunya tersebut malah menangis kencang, saat dipaksa membaca lagi, malah tergagap-gagap melafalkan alif. Solihin pun mengganti Alquran dengan buku Iqra jilid enam, putranya kembali hanya menggelengkan kepala kuat-kuat.

"Alif, Yah. Alif," ucapnya dengan mimik aneh.

"Ba, Nak. Ini huruf Ba." Solihin menunjuk huruf ba.

"Alif, Yah. Alif"

Selalu seperti itu setiap hari. Sejak merasa kewalahan mengajari anaknya tersebut, Solihin memanggil guru ngaji dari berbagai kalangan, bahkan ustaz-ustaz terkenal. Nihil, tetap saja tidak membuahkan hasil. Bahkan, pada akhirnya dia dan istri harus menelan pil kecewa saat semua tetangga tahu kondisi putra bungsunya tersebut. Para santri di pesantrennya diam-diam bergosip di belakang, membicarakan kebodohan putranya.

Suatu waktu terdengar kabar bahwa di Kampung Seberang ada seorang guru mengaji terkenal yang bisa mengajari siapa pun untuk belajar membaca Alquran dalam waktu singkat. Betapa bahagia hati Solihin. Dia pun pergi ke sana.

"Jadi, mulai kapan putra saya bisa belajar mengaji kepada Ustaz?" Solihin penuh harap.

"Kapan saja boleh, Pak," jawab Ustaz muda tersebut dengan yakin.

"Tapi, putra saya sudah dewasa, Ustaz tidak keberatan, bukan?"

"Tentu saja tidak, saya pasti bisa mengajarinya. Tidak terhitung jumlah murid saya yang usianya di atas empat puluh tahun. Mereka kini sangat mahir membaca Alquran." Ustaz muda tersebut terkesan jemawa.

"Kira-kira berapa lama sanak saya bisa membaca Alquran? Bahkan, dia hanya tahu huruf Alif."

"Sebulanlah, saya pasti bisa membuatnya membaca Alquran dengan lancar."Solihin merasa sangat lega.

***
"Tsa! Ba! Tsa!" Ustaz muda tampak kesal, mengulang-ulang membaca huruf yang ditunjukkannya.

Mata Rizal hanya bisa fokus di alif. Lembaran buku Iqra yang tergelar di hadapannya seolah hamparan kosong dan berwujud satu saja.

"Kau sungguh bebal! Aku benar-benar tidak menyangka mendapat murid sepertimu. Kau terlihat normal masa tidak bisa terus? Sudah hampir tiga pekan aku mengajarimu, harus dengan cara apa lagi agar kamu paham?" Ustaz muda tersebut membentak Rizal.

"Maaf Ustaz. Saya memang tidak bisa memahaminya. Anda boleh mengatakan apapun, beginilah kenyataannya. Pikiran saya bahkan belum bisa mencerna huruf-huruf  di sini. Semuanya sangat sulit, tapi saya mohon Ustaz mau mengajari saya." Rizal merasa sangat bersalah. Rasa perih merayap.

Ustaz tersebut sangat marah. Dia berdiri kesal dan meninggalkan Rizal  begitu saja.

Sejak kejadian itu, Solihin sangat malu dengan keadaan putra bungsunya. Harapan dalam hatinya sudah padam, sedang Rizal berubah murung, dia merasa gagal.

***
Solihin menatap tidak percaya ke arah tamunya. Apa yang baru saja didengarnya seolah sebuah kemustahilan.

"Bukankah kita sudah lama bersahabat? Aku sengaja menyempatkan datang ke sini untuk melihat putra bungsumu itu. Biarkan dia belajar di pesantren yang kupimpin." Tamu itu tersenyum tulus. Dia seorang syekh dari sebuah pesantren di Jawa Barat. Pesantren Assalam. 

Solihin membisu, tidak mengira sedikit pun bahwa kondisi putra bungsunya sudah menjadi buah bibir orang satu provinsi.

"Aku sebenarnya sangat tertarik dengan putramu, bahkan sejak saat mendengar kabar bahwa dia tidak bisa membaca huruf hijaiyah selain alif. Tidak ada maksud lain selain membantu." Syekh tersebut meyakinkan niat tulusnya.

Solihin tidak menyangka Syekh di depannya, yang merupakan sahabat lamanya, mau repot-repot meminta Rizal untuk diajari.

"Aku takut Syekh tidak tahan menghadapi Rizal." Solihin menatap ke arah Rizal yang duduk di sampingnya.

"Insya Allah, kalau Allah berkehendak, aku bisa mengajarinya maka putramu akan bisa memahami semuanya. Andai pun memang jika nanti gagal lagi, pasti akan ada hikmah di balik semuanya. Aku selalu percaya setiap manusia terlahir dengan berbagai kekurangan dan kelebihan, apalagi aku lihat Rizal anak yang baik. Mungkin kita hanya perlu bersabar untuk membuat dia bisa belajar dengan caranya."

Rizal pun akhirnya resmi menjadi santri di Pesantren Assalam. Walau mendapat perlakuan kurang nyaman dari sesama santri lain, dia mencoba bertahan. Tidak ingin pulang dengan sebuah kegagalan.

Di pesantren tersebut Rizal sama sekali tidak dipaksa membaca atau mengenali huruf hijaiyah di buku Iqra. Syekh Rasyid bahkan tidak mengizinkannya menyentuh buku Iqra ataupun Alquran.

Pada hari pertamanya menjadi seorang santri, Rizal hanya diberi beberapa tugas yang terkesan aneh. Syekh rasyid menugaskannya membersihkan masjid, menyiapkan karpet untuk shalat berjamaah dalam keadaan bersih, menata kitab-kitab di perpustakaan pesantren. Pukul dua pagi Rizal harus sudah bangun, dia ditugaskan mengisi penuh bak-bak air di kamar mandi untuk wudlu para santri lain dan tentu saja membersihkan lantai kamar mandi. Bahkan, ia juga mendapatkan tugas mengurus hal di dapur santri. Membantu para ibu yang memasak, mencatat bahan makanan apa yang kurang, memastikan semua jenis bahan makanan terpenuhi tiap harinya.

Awalnya Rizal merasa agak heran,  apalagi tugas dia lebih mirip pembantu dibandingkan seorang santri. Tapi, dalam hatinya selalu terpatri keyakinan bahwa gurunya tahu yang terbaik. Bukankah sebagai murid tugasnya harus patuh terhadap guru selama dalam koridor wajar dan tidak bertentangan dengan perintah-Nya?

Para santri lain sering mencemooh, tapi Rizal tidak peduli, hingga mereka capek sendiri dan berhenti. Lambat laun para santri memperlakukannya lebih baik, bagaimanapun sosok Rizal sangat membantu, tiap pagi kitab-kitab yang akan mereka kaji sudah tersusun  di meja masing-masing. Sandal-sandal tersusun rapi di halaman, memudahkan mereka saat mau keluar.

Seberat apa pun tugas yang diembannya, Rizal tidak pernah mengeluh. Dia pun tidak berkeinginan bertanya lebih atas perintan Syekh Rasyid hingga tak terasa sudah setahun dirinya tinggal di pesantren tersebut.

Rizal tampak gugup duduk di ruangan Syekh Rasyid. Tadi pagi gurunya tersebut mengabarkan orang tuanya menelepon akan mengunjungi. Selain itu, sehabis Zhuhur dia disuruh menghadap ke ruangannya, ada beberapa hal yang ingin dibicarakan.

"Apa kamu gugup, Zal?" Syekh Rasyid duduk di kursinya, tatapannya teduh dan berwibawa.

"I... iya, kalau boleh tahu, ada apa Syekh?" dengan segan dia menatap guru yang tidak pernah mengajarinya satu huruf pun huruf hijaiyah, tapi telah mengajarkan banyak hal yang tidka pernah dibayangkan.

"Rasanya pelajaranku untukmu sudah memasuki tahap akhir, Rizal. Sebelum melanjutkan ke tahap selanjutnya, aku ingin bertanya hal sederhana padamu, Nak."

"Semoga saya mampu menjawab pertanyaan Anda, Syekh."

"Aku hanya ingin tahu pandangan dan pemahamanmu tentang huruf alif."

Rizal agak tercengang, tetapi kemudian dia tersenyum dan mencoba mengutarakan pendapatnya, pemahaman, dan sudut pandang pikirannya dalam membaca alif. Syekh Rasyid mendengarkan dengan takjub, lantas dia menepuk pundaknya.

"Nanti jadilah imam di waktu shalat Maghrib, lalu pimpinlah yasinan dan bacalah beberapa surah yang kamu inginkan. Pakailah ini." Syekh rasyid mengulurkan gamis putih ke arah Rizal, matanya tampak berkaca-kaca.

***
Semua pasang mata menatap heran sosok bergamis putih dengan pandangan tidak percaya, apalagi sosok itu digandeng Syekh mereka dan berdiri di tempat imam. Pertanyaan memenuhi kepala mereka.

Rizal dengan penuh percaya diri menjadi imam. Suaranya sangat merdu, selesai membaca surah Al-Fatihah di rakaat pertama dibacakannya penuh khusyuk surah al-Anfal. Dia begitu tenang melaksanakan tiap rakaat, di rakaat kedua surat al-A'raf dibaca sangat fasih.

Selepas shalat Maghrib, di sudut belakang kanan masjid terlihat jelas Solihin menangis haru. Dia tidak pernah menyangka putranya bisa sefasih itu dalam melafalkan tiap ayat milik-Nya.

Setelah khatam membaca al Waqi'ah usai shalat, Syekh rasyid memberi kode ke Rizal. Saat itulah seluruh pasang mata menatap Rizal. Mereka masih tidak mengerti bagaimana mungkin seseorang bisa berubah dalam waktu singkat.

"Dalam hati kalian yang hadir di sini pasti kaget dengan apa yang terjadi pada Rizal. Sebenarnya begitulah yang terjadi padaku sendiri saat pertama kali mengetahuinya. Tentu timbul pertanyaan mengapa selama ini dia hanya bisa membaca alif, sedangkan terlihat sangat kesulitan membaca huruf lainnya. Sekarang jelaskan pada kami semua mengapa hanya huruf alif yang mampu kamu baca, Nak?" Syekh Rasyid tersenyum.

"Sebenarnya sampai detik ini saya belum bisa membaca alif sepenuhnya. Alif menurut pandangan saya menggambarkan Allah yang Ahad, melambangkan satu kesatuan dari perwujudan alam maupun ciptaan-Nya. Alif berdiri tegak melahirkan huruf lainnya. Sebagai permulaan wujud. Dia berdiri sendiri. Saat saya hidup di sini, menerima cibiran dan penghakiman, nyata sudah hal tersebut pun terbentuk sebagai alif ketentuan-Nya yang bisa dihadapi dengan wujud kesabaran. Alif adalah kehidupan. Alif adalah perwujudan keesaan-Nya, alif pun adalah bagian dari diri saya dan Anda semua. Kira-kira sampai di situlah pengetahuan saya mengenai alif. Memang benar kiranya selama ini saya belum bisa benar-benar membaca huruf hijaiyah selain alif." Rizal mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru masjid.

"Dengan kata lain, kamu sebenarnya bisa membaca Alquran hanya belum bisa memahami ilmu-Nya secara kaffah, begitu, Nak?"

""Iya, Syekh. Terima kasih selama ini sudah mengajari saya banyak hal."

Tiba-tiba saja semua yang hadir mengucapkan tasbih dan puja-puji pada-Nya, keharuan melanda. Banyak pasang mata berkaca-kaca. Rahasia Allah sungguh indah, siapa sangka orang yang selama ini mereka anggap bodoh, hina, rendah, pemahamannya melebihi mereka. ***

El Cavega Terasu adalah nama pena dari Elis Umi Jamilah, penikmat sastra sekaligus ibu rumah tangga. Kelahiran Bandung, 31 Desember. Aktif di berbagai komunitas menulis.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya El Cavega Terasu
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" Minggu 4 Desember 2016


0 Response to "Alif"