Amarah pada Warna Merah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Amarah pada Warna Merah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:08 Rating: 4,5

Amarah pada Warna Merah

QOMAR ingin terus menghapus warna merah di setiap penjuru kota. Bahkan ingin sekali membasmi warna itu, ketika kerap kali etrlintas dalam pandangannya. Baginya, merah warna yang menghilangkan kata bahagia dalam hidupnya. Dan karena warna merah juga, ia tak bisa mengulur derasnya air mata yang selalu saja tumpah secara tiba-tiba.

Hidupnya sangat membenci warna merah, dan tak ada yang tahu penyebabnya? Suaranya yang takkan pernah berpaling dari kata: "Hidupku akan tenang jika tak ada warna merah!" Begitulah pengakuan Qomar saat ditanya kawan atau para tetangga. Ia seperti memendam amarah pada warna merah, dan anehnya, ibunya pun ternyata juga  membenci warna  yang sama.

Sudah sejak kecil Qomar selalu diajarkan tak mengenal warna merah, bahkan menyentuh apapun yang masih berkaitan dengan warna itu. Qomar selalu tercegah dan diteruskan dengan amarah-amarah ibunya yang masih penuh tanda tanya.

Kebencian pada warna merah kini telah melekat dalam diri Qomar, ia tak pernah bisa berdamai dengan warna merah. Ia merasa terramat kejam warna itu terhadap semua keluarganya. Ayahnya yang telah tiada, dan katanya, meninggal sebab warna merah. Ibunya sering menangis ketika ia bertanya seperti  apa kejamnya warna merah. Ia merasa tak perlu tahu lebih dalam tentang peristiwa keluarganya. Hanya dengan mendengar pernyataan ibunya, ia bisa menerima dan mengatakan: "Merah itu adalah petaka bagi keluarga."

Suatu malam, ibunya datang ke kamarenya dengan wajah sedih dan kehilangan mata mencerlang. Air mata yang sudah tak tahan ingin berlinang. Qomar hanya tersenyum ketika ibunya datang dan duduk di samping ranjang.

"Tidak biasanya Ibu ke kamarku?"

"Iya Mar, Ibu nggak bisa tidur, ingat Bapakmu."

"Ibu baru saja melihat darah, pada kulit Ibu yang luka Mar, dan Ibu melihat warna merah."

"Bukankah setiap darah itu warnanya merah, Bu?"

"Namun warna itu Mar..." Suaranya melemah, diteruskan linangan air mata.

"Aku tahu ibu membenci warna merah, begitupun juga aku, namun siapa yang bisa mengubah warna darah, sedangkan itu ketentuan dari Sang Pencipta?"

Ia lalu diam, dan masih terus melirik wajah ibunya yang seperti selalu dihantui rasa rasa takutnya pada warna merah. Ia masih ingin sekali bertanya tentang bagaimana ayahnya meninggal sebab warna itu. Namun malam itu yang ada hanya kesedihan yang mendera.

***
MATAHARI sudah menyingsing di atas pekarangan rumah. Suara cericit burung-burung yang terbang di angkasa menjadi lagu paling indah untuk Qomar yang akan segera melangsungkan ujian pertamanya pagi itu. Dengan langkah yang gontai, ia mempersiapkan segalanya.

Ibunya masih tertidur pulas di kamarnya, setelah percakapan tadi malam yang telah membuatnya seperti terus diselubungi rasa takut pada warna merah. Ia hanya bisa diam dan tak bisa berbuat apa-apa, selain melakukan hal yang sama dengan ibunya: membenci warna merah.

Ibunya tak akan pernah menerima kenyataan tentang warna merah yang telah merusak seluruh hidupnya. Matanya yang selalu penuh amarah dan dendam saat melihat apa saja yang ada di sekitarnya. tepatnya ketika memandang warna merah, seperti peristiwa tadi malam. Sampai sekarang ibunya masih terus saja menggerutu dan menangis tersedu-sedu. Qomar terpaksa berangkat sekolah tanpa ada yang mengantar. Biasanya ibunya selalu mengantar dan menjemput sekolah yang jaraknya cukup jauh dan melelahkan. Dan tidak mungkin dengan seret langkahnya yang sendiri saja, ia bisa sampai sekolah dalam keadaan tidak terlambat.

Di depan rumah, dengan wajah sumringah, sesekali ia tertawa melihat kucing yang menjadi binatang kesayangannya. Mengelus-elus kepalanya. Ia masih sempat bercanda dengan kucing itu, nampaknya ia tak bisa berjarak dengan binatang lucu itu.

Qomar berangkat dengan sepeda yang sudah lama tak terpakai. Katanya, sepeda itu kepunyaan ayahnya semasih hidup dulu. Ia mengayuh sepeda secepat mungkin agar tidak terlambat, apalagi sekarang hari pertama ujian semester. Keringat di sekujur tubuhnya. mengucur di jalanan beraspal. Seragam putih abu-abu basah oleh peluh yang penuh amarah. Napasnya terengah-engah. Baru hari ini Qomar menaiki sepeda, karena tak mau membangunkan ibunya yang masih terlelap di kamar.

Satu kilometer lagi Qomar akan sampai sekolah. Padatnya kendaraan yang berlalu lalang di sampingnya memaksa berhati-hati dan bersabar. Qomar dan sepedanya terpaksa berhenti, sebab tak ada jalan yang bisa ia lalui. Terjebak macet berkepanjangan. Seluruh kendaraan terpaksa mengantre. Wajahnya menunjuk kekeceeaan. Qomar masih terengah-engah dan napasnya yang kian sesak, juga keringat yang masih basah.

Wajahnya terlihat merah saat itu. Rasa kecewa dan amarah telah penuh dalam dadanya. Kemacetan sebegitu panjangnya membuatnya tak mau ambil risiko. Ia membawa sepedanya melewati celah-celah sempitnya kendaraan, ia berjalan di jalur pejalan kaki. Dengan keterburu-buriannya, ia meloncat dari berbagai batu dan pembatas jalan sambil mengangkat sepedanya.

Entah apa yang sedang ia lakukan. Tak ada cara lain kecuali menunggu aba-aba jalan. Namun tidak untung Qomar. Ia yang seakan berlari kecil dari belakang, emmbuat para pengguna jalan heran. Mungkin ia kecewa sebab antrean sebegitu panjangnya, sedang ia masih dikejar waktu.

Kini ia sudah di garis depan, membelakangi kendaraan. Tak ada yang menyangka, Qomar tiba-tiba membalikkan sepedanya ke sisi kiri jalan. Dan kepalanya menghadap ke arah lampu-lampu aba-aba.

Sepertinya anak itu membenci lampu merah." Suara orang yang tengah menunggu lampu hijau untuk jalan.

"Lihat saja matanya saja memerah, nampaknya ia bakal ketinggalan pelajarannya sekarang." Ceracau pengendara lain.

Qomar mendengarkan yang mereka bincangkan. Ujung matanya terus menatap warna lampu yang tepat di kepalanya. Ia juga melirik salah seorang dari mereka yang tengah membicarakannya. Tetapi ia hanya abai dan tak mau bicara.

Jam pada pergelangan tangan sudah menunjuk angka 07.30. Sepertinya ia bisa mengikuti ujian pertama. Bagaimana tidak, 20 menit lalu, bel masuk sudah dibunyikan, ia menunggu lampu yang masih belum juga berganti warna. Sungguh, tak ada yang lebih sakit dari pada menunggu.

Qomar membanting sepedanya, orang-orang sekitarnya terkejut. ranselnya ia lempar jauh pada sisi kiri jalan. Ia berdiri di hadapan tiang lampu yang masih dari tadi belum juga berganti. Ia membuka bajunya yang masih basah keringat. Ia mencari sesuatu di sekitarnya. Ia mengambil bambu yang tergeletak di atas tanah yang masih basa, dan membawanya tepat di bawah ketiga lampu-lampu itu. Qomar memukul ketiga lampu itu dengan mambu. Orang-orang terkejut dan berteriak. Qomar dianggap tidak waras.''Semua lampu itu pecah. Pecahan kacanya berhamburan dan berserakan di jalan. Qomar menghancurkannya. Ia hanya tertawa di tengah keramaian pengguna jalan.

"Ibu, Qomar berhasil menghapus warna merah," katanya santai.  Kutub, 2016 (o)


A Khatib Umam: lahir di Batang-Batang Sumenep Madura, 22 April 1999.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya A Khotibul Umam
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 18 Desember 2016


0 Response to "Amarah pada Warna Merah"