Amurang - Siklus Putus | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Amurang - Siklus Putus Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:44 Rating: 4,5

Amurang - Siklus Putus

Amurang

Cinta adalah lengkung teluk yang disebut "amoor"
dalam lidah Portugis. Mereka pernah berdansa
di sini, di kedai minum menghadap laut
tempat kapal-kapal berbaris
dengan palka selengkung pinggang gadis-gadis
Pinamorongan dan Kawangkoan
dari pedalaman

Waktu itu, cinta masih seranum bibir lokan
dibasuh gelora pasang
Sehingga jinak mulut meriam tapi mulut botol
jadi tambah liar. Maka yang berdansa tumbang
seorang demi seorang mulai membuka jalan
ke hutan-hutan pala perawan
Sampai pinggang gadis-gadis itu menggembung
seperti pala atau cengkeh dalam karung
Tapi lebih gembung lagi
lambung kapal-kapal
di teluk dalam


yang perlahan bergerak, pergi, angkat jangkar.
Gadis-gadis tinggal
berlutut di laut surut. Tapi di jejaknya
sebuah kota tumbuh bersama doa
dan pengharapan, ”Amoor, Amour, ya, Bapa,
Di kedai-kedai tohor torang pernah mabuk
berdansa! Amoorang, Amurang, torang serupa moyang
Toar dan Lamimuut di Watu Pinawetengan,
Lupa laut bakal murung…”

Bagai orang-orang lumpuh
yang dibangkitkan, mereka panggul sisa jangkar
sebagai salib besar
ke puncak Bukit Kasih Kanonang
di pedalaman. Dari mana lengkung teluk
dikenang sebagai pintu masuk
kidung suci Mezbah Agung.

/Minahasa-Yogya, 2016


Siklus Putus

: al-fayyadl
Tegaknya bangau sebelah kaki
Tidurnya kukang sepenuh hari
Terbangnya kuau sebatas hutan
Larinya babi berpicing mata
Menghindar luka perburuan.

Telah jinak lipan dan kelabang
Tertidur ikan sapu-sapu
Melingkar sekalian ular
Memeluk dahan-dahan
pohon kutukan.

Kura-kura sembunyi sebatas cangkang
Siput-siput beringsut di lumpur hitam
Udang-udang di sebalik batu umpama
bungkuk oleh kutuk waktu
yang sama – demikianlah, waktu yang meremuk
hewan-hewan kecil yang kita punya

bagai diremuk jangkar kapal, segala baja.
Sebab hutan sawah ladang
mata air sungai pematang
binasa sudah habis dikeruk
makhluk-makhluk besar bertanduk
yang tak ada dalam dongeng dan silsilah!

Tapi deru dan gemuruhnya, Gus
Telah tergurat sejak dahulu
Dalam kitab-kitab lama
tentang tunduk dan kalah
– dan kita abai membacanya

 /2016


Raudal Tanjung Banua lahir di Lamsano, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Ia menetap di Yogyakarta, mengelola Komunitas Rumah Lebah dan Akar Indonesia. Buku puisinya, antara lain, Api Bawah tanah (2013)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Raudal Tanjung Banua
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 17 Desember 2016

0 Response to "Amurang - Siklus Putus"