Bagindali | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bagindali Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 19:01 Rating: 4,5

Bagindali

TEPAT ketika telinganya menempel di lasah, terdengar suara ledakan dari arah lapan di seberang lembah depan rumahnya, dan sesuatu berwarna-warni mencuat ke langit. Jantung Bugiali berhenti berdetak bersamaan dengan berhentinya suara jangkrik, belalang, kata, dan juga burung hantu yang biasanya tidak pernah berhenti sebelum malam benar-benar larut. Semuanya kembali seperti sediakala ketika cahaya itu lenyap.

Keringat yang merayapi pelipis Bugiali memantulkan api kecil yang bergerak-gerak pelan di ujung sumbu lampu dari bekas kaleng susu di depannya. Setelah berhasil menguasai dirinya, ia langsung berteriak. Suaranya melengking tajam. Daun-daun bambu di dekat rumahnya menggerisik. Kekagetan hanya sebentar menguasai dirinya. Ia meminum tuak dari botol miliknya hingga tandas dan keberaniannya bertambah. Ia turun dan berjalan sempoyongan. Ia menantang semua bangsa jin, setean, selaq, dan semua makhluk yang ada di muka bumi.

Rumah Bugiali dan lapan itu dipisahkan oleh lembah. Sebelum ia sampai, sesuatu berwarna putih, seperti batang pohon melintang di depannya. Sebuah keranda. 

Pada hari-hari sebelumnya, ketika ia mulai mabuk, ia akan berteriak menantang siapa pun dan kemudian akan beradu mulut dengan mereka yang menjawab tantangannya di kejauhan sana. Sekarang ia berteriak-teriak di depan keranda. Dan keranda itu meluncur tepat saat tebersit niat dalam kepala Bugiali untuk menungganginya. Merasa ada yang ingin mempermainkannya, ia semakin ingin segera sampai di lapan itu.

Bugiali berjalan tersaruk-saruk. Dari mulutnya terlontar pujian kepada Bagindali. Meskipun ia selalu menyebut nama itu setiap kali ia mabuk dan mengatakan bahwa Bagindali adalah saudaranya,tak seorang pun percaya. Sebagian orang percaya Bagindali adalah makhluk jadi-jadian yang hany abisa dilihat Bugiali dan ikut serta ke mana pun dia pergi. Makhluk itulah yang membuat ia tidak takut tinggal di rumahnya sendirian. sebagian lagi percaya bahwa Bagindali adalah dewan edan-nya Bugiali. Keyakinan pertama lebih kuat, sehingga Bugiali lebih dikenal sebagai orang selaq ketimbang orang gila.

Di Lelenggo, hanya Bugiati yang tidak takut makan di rumah siapa pun. Yang lain, bahkan takut makan di rumah mereka sendiri. Sebelum meninggalkan rumah, mereka akan mengamankan makanan dan minuman mereka, lalu mengunci pintu dan menutup jebak. Bukan karena takut akan ada yang berkurang, tetapi takut akan ada yang bertambah. Mereka percaya bahwa lalat, semut, kutu, dan makhluk-makhluk tak terlihat adalah suruhan orang selaq yang ingin membunuh mereka.

Dua hari yang lalu, seorang ibu yang baru pulang dari rumah belian untuk mengobati encoknya tewas seketika di rumahnya sendiri. Ia tewas setelah meminum air dari kocor yang sebelum ia pergi ia simpan di dalam rumah yang pintunya terkunci. Seluruh tubuhnya berubah menjadi ungu dan darah terus keluar dari mulut, telinga, hidung, mata, dan akar-akar rambutnya.

Bugiali, yang datang dengan sempoyongan saat orang-orang dikacaukan oleh kematian mendadak itu, mengambil air yang tidak tersentuh itu dan menghabiskannya. Bukannya ambruk, ia justru bersendawa meminta air lagi sambil mengagung-agungkan Bagindali. Sejak saat itu, sebagian orang yang menganggap Bagindali adalah dewan edan-nya Bugiali percaya bahwa Bagindali adalah makhluk jadi-jadian. Lebih jauh lagi, orang-orang ini percaya bahwa makhluk itulah yang masuk ke dalam kocor itu. Meskipun mereka telah begitu yakin, tak seorang pun berani mengusik Bugiali. Masing-masing warga memiliki rasa takut jauh di dalam diri mereka. Mereka takut mengalami nasib yang serupa dengan nasib ibu itu dan berpuluh-puluh orang sebelumnya.

”Bagindali ayo cepat!“ katanya. ”Bagindali nomor satu, Bugiali nomor dua,“ teriaknya. Kaki kanannya yang menapak begitu yakin menginjak lubang dan ia tersungkur jatuh.

Ketika ia berhasil bangun, ia mendapatkan dirinya berdiri tepat di muka lapan itu. Di tempat nyala api biasa membara saat membuat kopra, terlihat cahaya hijau menetes-netes. Bugiali berdiri mematung melihat tetes-tetes itu jatuh dan lenyap, yang dengan cepat digantikan oleh tetes-tetes yang lain. Lalu, sepasang cahaya merah pelan-pelan muncul. Kecil, kemudian terang-benderang. Saat itu Bugiali merasa seperti ditarik ke dasar bumi.

”Bagindali nomor satu. Bugiali nomor dua,” katanya lantang. Ia bersendawa di sela kata-katanya. Ia menunjuk-nunjuk samping kanannya, tempat yang ia yakin terdapat Bagindali.

Sepasang cahaya merah itu berkedip-kedip. Bergetar. Bergerak. Bugiali mundur beberapa langkah. ”Bagindali nomor satu. Bugiali nomor dua,“ katanya lagi sambil menepuk-nepuk dada.

Daun-daun bambu di dekatnya gemerisik lagi. Angin yang sangat dingin menggerayangi tubuhnya yang tak berbaju. Sementara, sepasang cahaya di depannya bertahan, tidak terusik sedikit pun. Dan ketika angin itu memadamkan lampu di rumah Bugiali, sepasang mata itu tetap bertahan seakan-akan abadi.

Bugiali berteriak. ”Satu tambah satu sama dengan dua. Bagindali nomor satu Bugiali nomor dua.“ Sorot matanya nyalang, dan ia maju satu langkah. Meski dingin, dari dalam dirinya menguar hawa panas yang tidak ia sadari.

Sepasang mata itu tetap diam, benar-benar seperti tertancap dalam gelap. Di bawahnya tetes-tetes hijau jatuh ke atas tanah.

Angin yang berhembus semakin kuat membuat sepasang cahaya itu membesar. Besar sekali, sehingga membuat Bugiali dapat melihat isi lubang lapan itu. Ia tidak terkejut dan justru ia tertawa. Ia melihat seorang nenek tua, keriput, tampak seperti hanya rangkaian tulang, meringkuk di sudut dengan rambut tergerai, menatap ke arah Bugiali. Dan sepasang cahaya itu berasal dari matanya, sedang cahaya hijau itu dari liurnya.

Nenek tua itu hanya diam memandanginya. Meski Bugiali menantangnya sedemikian rupa. Tanpa ia sadari sedikit pun, nenek tua itu tiba0tiba saja bersiap-siap di depannya. Hanya sebentar ia terkejut, kemudian ia melanjutkan tawanya, meledak-ledak, tersedak-sedak.

”Bugiali, kamu yang tidak mati minum air dalam kocor itu. Kamu punya ilmu apa?”

Pertanyaan yang diucapkan dengan suara begitu lemah, menggiriskan, bergetar, dan terpotong-potong, membuat Bugiali semakin mengeraskan tawanya. Ia terus-terusan bersendawa.

”Bagindali nomor satu. Tidak ada yang lebih sakti selain Baginali.” Ia tertawa terbahak-bahak dan mulai menari. “Tekecodet. Tekecodet. Tekecodet,” dendangnya. ”Kenapa kamu racuni ibu itu?” ia bertanya, seakan-akan tidak sedang dalam keadaan mabuk.

Dan nenek tua itu menjawab dengan ringan. ”Dia kaya,“ katanya. Kemudian setelah diam sebentar dia melanjutkan, ”Kamu juga akan saya bunuh.“

”Kenapa saya?“ tanya Bugiali.

”Kamu lebih kuat daripada saya.“ Jawaban itu membuat kegilaan Bugiali kumat. Dan ia menari-nari lagi sambil memuji-muji Bagindali.

”Siapa dia?“ Nenek tua itu meloncat lagi. Ia bersiap terbang, mencakar-cakar, dan mencabik.

”Dia saudara saya, Bagindali yang pertama, Bugiali yang kedua,“ katanya lalu ia menengok ke samping kanannya. Dan ia mulai berbicara sendiri. ”Bagindali, ayo kita pulang.“

Lalu ia bersiap untuk pulang. Nenek tua itu teriak untuk mencegatnya. ”Diam! Kenapa kamu tidak mati meminum racunku?” sambungnya. 

”Hahahahaha.“ Bugiali membalik tubuh dan berjalan sempoyongan. ”Ayo, Bagindali. Kita pulang.”

Nenek tua itu mengamatinya dengan geram. Ia rentangkan kedua tangannya. Sesuatu seperti sayap keluar dari ketiaknya, terus keluar hingga benar-benar menjadi sayap. Sinar matanya semakin terang. Ia merasa telah dikalahkan oleh orang gila. Sukar ia menerima hal ini. Selama ini, setiap orang yang ia inginkan mati selalu benar-benar mati. ”Bugiali kami harus mati,“ teriaknya.

Sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu kasar, hitam, dan basah oleh lendir. Ketika ia memasang kuda-kuda, tumit kakinya memutar ke depan.

Sementara itu, Bugiali berjalan sempoyongan kembali ke rumahnya sambil berteriak, ”Bagindali nomor satu, Bugiali nomor dua. Tekecodet, tekecodet....“

Catatan:
Lasah, semacam ranjang bambu. Lapan, semacam rumah tempat orang mengolah kopra. Selaq, orang yang menguasai ilmu hitam. Dewan edan, sebutan untuk sesuatu yang membuat orang tiba-tiba jadi gila. Jebak, gerbang. Belian, dukun.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arianto Adipurwanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi 17-18 Desember 2016

0 Response to "Bagindali"