Batik Hijau Pupus | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Batik Hijau Pupus Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:31 Rating: 4,5

Batik Hijau Pupus

“Hilang?” aku terhenyak tak percaya, memandang Asih yang kelihatan kalut. “Hilang … lagi?”

“Ya, Bu,” Asih mengangguk, menegaskan dengan gerai air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. “Sudah saya cari ke mana-mana.”

Aku bergegas ke tempat jemuran di belakang rumah, dadaku gemuruh oleh amarah, kecewa, panik, kesal, dan entah apa lagi namanya. Kain batik hijau pupus yang kuangin-anginkan dua jam lalu lenyap dari tempatnya. Tubuhku lemas, aku begitu terpukul sampai tak mampu berkata apa-apa. Ini untuk kesekian kalinya aku kehilangan koleksi kain batikku di teras jemuran.

Bagaimana bisa pencurinya masuk dan mengambil satu per satu koleksiku di jemuran? Pencuri itu seolah tahu jemuran kain batik itu sangat berharga bagiku. Hanya kain batik saja yang diambilnya, tidak jemuran yang lain.

Tempat jemuran itu terhubung dengan taman belakang, dan tertutup tembok setinggi lima meter, ada pagar kawat berduri di atasnya. Hanya orang nekat yang bernyali tinggi yang berani menerobosnya. Untuk ke tempat jemuran itu, hanya ada satu pintu sebagai aksesnya, pintu untuk ke taman belakang, ke tempat cuci pakaian dan ke kamar Asih. Orang luar yang mencurinya harus melewati dapur dan ruang makan dulu, dengan risiko kupergoki. 

Naluriku yang dibakar amarah mulai mencurigai Asih, yang sudah dua tahun tinggal bersamaku. Ketika Asih menjemput Dona ke sekolah, diam-diam aku menyelinap ke kamarnya, menggeledah kamarnya. Asih bersih dari tuduhanku, tapi aku mulai tak percaya padanya, meski Asih masih bekerja serajin dulu. Pertanyaan, siapa yang mencuri kain batikku di jemuran? Masih perlu jawaban. 

Di rumah, aku tinggal dengan keluarga kecilku, seorang suami yang setiap hari sibuk bekerja dan dua anak yang masih kecil. Asih mulai tinggal di sini sejak anak keduaku lahir. Dan nenek suamiku yang sudah tua, bongkok, pikun, dan tak bisa ke mana-mana kecuali dengan tongkatnya, tinggal bersamaku juga sejak ibu Mas Alif yang biasa mengurusnya meninggal setahun lebih lalu. 

“Sudahlah, Ma …” Mas Alif menghiburku yang masih kelihatan murung dan kesal. Bagaimana tidak kesal? Kejadian ini sudah keempat kalinya! Semua korbannya kain batik koleksiku, di jemuran! Di depan hidungku!

***
Setelah mengantar Dona ke sekolah, aku mampir ke apartemen Mbak Rosna. Aku mengenalnya setahun lalu, usianya yang hampir sebaya denganku membuatnya cepat akrab dengannya. Dia orangnya ramah, supel, pintar bicara, tidak terlalu cantik, tapi penampilannya menarik. Pernah menikah, tapi cerai tanpa anak.

Mbak Rosna bekerja di perusahaan travel sebagai guide, jadi mudah saja baginya menambah koleksinya. Aku tinggal menunggu apa yang dibawanya sepulangnya keliling nusantara dan membeli apa yang ditawarkannya.

Aku masih ingat waktu aku bertandang ke rumahnya terakhir kali, Mbak Rosna baru pulang dari Yogya dan belum sempat membereskan barang-barangnya, aku melihat kain batik hijau pupus bercorak bunga kuning kecokelatan di atas meja, berbaur dengan macam-macam buah tangannya. Naluri kolektor membuatku langsung jatuh cinta dengan kain batik hijau pupus itu.

“Waduh, Dik Mira … jangan pilih yang itu.” Mbak Rosna nampak keberatan dengan pilihanku. “Itu kain batik cuma satu-satunya, aku memburunya sampai ke pelosok desa lo. Di desa itu, warna hijau pupus dianggap warna sakral, warna terlarang. Kau tahu kan, mitos Nyi Roro Kidul, Ratu Pantai Selatan yang selalu memakai warna itu. Penduduk desa itu masih percaya mitos dan tak berani memakai warna hijau pupus.”

Setelah aku membujuknya dengan menaikkan harga tawaran, Mbak Rosna baru melepaskan kain batik itu dengan berat hati.

Mbak Rosna sedang sibuk berkemas ketika aku datang.

“Mbak mau pergi?” tanyaku.

“Ya. Aku ditugaskan ke Bali, Mataram, dan Lombok, terus ke Pulau Komodo. Mengantar turis kaya dari Spanyol, kira-kira sampai seminggulah.”

Mbak Rosna mendengarkan keluh kesahku dengan penuh perhatian, ia sangat menyesalkan kehilanganku.

“Kalau kau mau,” Mbak Rosna ragu-ragu. “Aku bisa memesankan kain batik hijau pupus yang sama dengan punyamu pada pembatik kenalanku.”

“Bisakah?” Semangatku yang tadi layu mulai bangkit.

“Ya, aku punya foto corak kain batik hijau pupus itu di komputerku. Aku tinggal mengirim foto ini dan tanya harganya. Karena besok aku pergi ke Bali, kau transfer saja uangmu ke rekeningku dulu, gimana?”

Tanpa pikir panjang aku menyetujui usulannya.

***
“Bu …” Asih memanggilku ragu.

Aku menatap gadis hitam manis bermata lebar itu dengan heran. “Ada apa, As?”

Asih meremas-remas tangannya dengan gelisah.”Saya melihatnya, Bu. Kain batik hijau pupus Ibu.”
Aku duduk tegak. Harapanku meletup. “Di mana?”

“Tadi pagi, saat saya pulang dari pasar, saya tak sengaja melihat Bu Atinah menjemur kain batik pupus seperti punya Ibu yang hilang.”

“Ayo kita ke sana.” Kutarik tangan Asih. Tersaruk-saruk Asih mengikuti.

Koleksiku yang berharga dipajang di halaman rumah Bu Atinah, dijemur di bawah terik sinar matahari langsung. Aduh … warnanya bisa rusak. Kuperhatikan corak batiknya, campuran warnanya. Sama, persis. Ini memang milikku. “Kain batiknya bagus sekali ya, Bu? Ibu beli di mana kain ini?”

“Oh, tidak beli, kain itu diberi.”

“Diberi siapa?” cecarku, pintar sekali dia mengelak.

“Bu Ghofur.”

Oke, Bu Ghofur memang orang kaya di kampung ini, sawahnya luas, usahanya banyak. Berkali-kali pulang pergi naik haji. Tapi mana mungkin Bu Ghofur yang mencuri koleksiku? Semakin tak masuk akal saja alasan Bu Atinah ingin menyelamatkan mukanya. Kini pakai bawa-bawa nama orang terpandang di kampung kami.

“Bu Ghofur memberi Ibu kain batik seharga tiga juta?” sinisku.

“Tiga juta?” Bu Atinah tercengang. “Mana mungkin semahal itu?”

“Kain batik koleksi saya seharga tiga juta rupiah hilang. Kain itu persis seperti ini.” Bu Atinah tercengang dengan tuduhanku, pucat pasi, bibirnya bergemetar.

“Saya sama sekali tidak tahu apa-apa, Bu Ghofur yang memberi.” Suara Bu Atinah terdengar tertekan oleh tangisnya.

***
Hari masih pagi, Bang Odeng tukang sayur sudah dirubung ibu-ibu pembeli di tempat mangkalnya di depan pos. Bu Ghofur yang gendut dan energik ada di sana. Ah, kebetulan sekali.

Sambil memilih belanjaan aku bertanya pada Bu Ghofur akan kebenaran kata-kata Bu Atinah.

“Bu Ghofur, kain batik punya Bu Atinah bagus sekali. Kata Bu Atinah, Ibu yang memberi, benarkah?” aku memancingnya.

“Oh, kain batik hijau pupus itu ya? Cantik sekali ya?” Bu Ghofur tersenyum. “Ya, aku yang memberi kain batik hijau pupus itu pada Bu Atinah dan ibu-ibu pengajian. Untuk baju seragamnya. Calon mantuku dari Jogja, dia yang membawanya, katanya kain batik hijau pupus itu cocok dengan tema pernikahannya.”

Jantungku berdebar-debar, jangan-jangan. “Menantu ibu beli di mana?” 

“Calon besan Ibu pedagang kain dan pengusaha batik.” Bu Ghofur mengamatiku.

Ya Tuhan … apa yang sudah kulakukan terhadap Bu Atinah???

***
Berkali-kali kuhubungi, nomor Mbak Rosna tak aktif. Ketika aku datang ke apartemennya, aku terkejut melihat garis polisi berwarna kuning menyolok melintang di depan pintu. Lama aku berdiri mematung di sana, mengira-ngira apa yang terjadi dengan Mbak Rosna.

“Cari siapa, Mbak?” Seorang pemuda yang baru datang membawa bungkusan menatapku.

“Orang yang tinggal di sini.” Aku menunjuk pintu di depanku. “Kenapa dengannya?”

“Minggu lalu polisi datang mendobraknya, tapi tak menemukan apa-apa. Apartemen ini sudah kosong.” Pemuda itu angkat bahu. “Perempuan penghuninya dicari atas laporan penipuan, penggelapan, arisan fiktif, dan kredit fiktif.”

Aku ternganga tak percaya. “Mbak Rosna melakukannya?”

“Rosna?” Pemuda itu menatapku bingung. “Kata polisi namanya Dewi, Diana, Marga, atau apalah. Dia punya banyak nama alias. Benar-benar penipu yang licin. Dia menggelapkan mobil orang, menjual emas berlian palsu, bahkan duit bank pun digondolnya.”

Aku tak sanggup mendengarnya, aku merasa lemas, terpuruk entah apa lagi. Aku baru sadar betapa tololnya aku selama ini dibutakan oleh kain batik! Minggu lalu, aku sudah mentransfer satu juta rupiah ke rekeningnya untuk pesanan kain batik hijau pupus ….

***
Aku sedang menyiapkan Dona ke sekolah, ketika Asih tergopoh datang dari kamar Eyang.

“Bu, Eyang ngompol di kasur,” lapornya. “Kasurnya basah. Eyang sudah saya mandikan, tapi saya tak kuat mengangkat kasurnya ke belakang untuk dijemur.”

“Biar aku saja.” Mas Alif yang sudah rapi dan wangi menggulung lengan kemejanya. Baru dua menit Mas Alif masuk kamar, terdengar dia memanggilku. “Lihat itu.” Mas Alif menunjuk dipan yang kasurnya sudah digulung, aku terbelalak.

Empat kain batiku yang hilang! Rupanya Eyang mengambilnya di jemuran, melipatnya, dan menyimpannya di bawah kasurnya. Karena sudah pikun dia tak ingat barang yang disembunyikannya.
Kuambil kain batik hijau pupus kesayanganku, masih utuh dan sewangi seperti yang kutinggalkan di jemuran. Aku ingat semua yang kualami karena kain batik hijau pupus ini, aku membayar kain ini seharga empat juta, bahkan menuduh orang yang tak bersalah mencurinya.

Air mataku mengalir. Ya Allah … ampuni aku.***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sophia Rodiah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tabloid Nova" edisi 1409/XXVIII 23 Februari – 1 Maret 2015

0 Response to "Batik Hijau Pupus"