Bersama Kesepian | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bersama Kesepian Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:03 Rating: 4,5

Bersama Kesepian

AKU tidak berani melirik apalagi menatap tajam, lebih baik tersungkur dalam kesepian. Kesepian yang menjelma menjadi seorang bapak. Bagaimana tidak? Menurutku kebaikan dan kebebasan kesepian telah membawaku kepada ketenangan, memberiku setumpuk arti kehidupan. Menerima, bertekad, berjuang, dan memecahkan persoalan. Aku rindu sekali kepada kesepian jika aku berada di tepi jalan saat berjualan. Setiap rindu melanda, aku menutup mata membiarkan kesepian membelai lembut rambutku hingga ujung kakiku. Gara-gara hal itu, pelangganku naik pitam, mengomeliku dan mengatakan segala serapah kutukan untukku.

”Jualanmu akan sepi!“

Benar. Tidak lama aku gulung tikar. Dan aku bukan seperti orang lain yang menunduk, bertangis lama, aku tetap mengembangkan dada sembari meluapkan segala kekesalanaku kepada kesepian.

Aku takut diomeli bapak. Aku sering menyebut tubuh gempal. Aku sangat tidak menyukainya. Tubuhnya bertato, bau mulutnya tidak segar, juga sering menakut-nakuti orang. Barangkali itu sebabnya tidak ada pemuda yang berani mendekatiku karena ada tubuh gempal. Aku sungguh enggan menemuinya.

Semakin hari aku lihat tubuh gempal semakin seenaknya saja. Ia melarangku menemui kesepian, memaksaku hingga dadaku tersedak; oleh bibirnya yang nampak runcing dengan pembawanya yang lumayan menyeramkan. Sejak kecil, aku memang tidak seakrab dengannya. Aku lebih nyaman dengan hidupku yang bertumpu pada kesepian. Ia telah menemaniku 25 tahun. Aku sangat menyukai gelap, tidak ada cahaya kemudian mendapati ketenangan dan mengundang kese[ian di sampingku. Hingga pada suatu saat umurku 20 tahun, kemudian ngobrol hingga larut malam, tapi aku muak dengannya. Sama sekali membosankan. Obrolannya hanya semacam sampah yang membuatku merindukan kesepian. Aku sudah terhipnotis oleh kesepian. Ibarat penyakit aku sudah kritis terhadap kesepian. Cintaku padanya ibarat sambal yang sangat pedas; 15 cabai rawit ditambah cabai-cabai yang lain juga warnanya beraneka: merah, kuning, hijau.

Tubuh gempal sering pulang larut malam, ia akan mengamuk jika kopi tidak ada di meja makan; membanting segala apa saja yang ada di sekitarnya. Hal tersebut sering terjadi sampai-sampai aku bingung membuatnya kopi, karena sendok telah dibengkoknya, gelas-gelas dipecahkan. Tinggal gelas plastik yang ada di rak piring. 

”Besok kamu temui Pipin ya!“

”Untuk apa?“

”Lamaran. Dia akan membuat sejarah panjang. Wanita yang lebih dulu melamar. Kamu temui dan lamar dia. Tenang saja, semua biaya ia tanggung. Hanya dia ingin kamu yang melamarnya.“

Aku tergeragap, meledak segala kekesalanku.

***
ESOKNYA aku mandi bersama kesepian yang membuatku merasa nyaman. Aku bersolek dengan bedak dan pemerah bibir. Aku putuskan mengelana bersama kesepian. Mungkin akan tinggal di lorong, di  gua. Ah, tidak tahu nanti akan bagaimana, terpenting meninggalkan jejak dari tubuh-tubuh gempal. Sebelum semua bayanganku itu terwujud.

Braaaaaak!

Suara itu membuatku tercengang. Tubuh gempal menarikku dan membawanya kepada Pipin. ”Tidak mau! Lepaskan!” Tetap saja tidak peduli.

Aku didudukkan dekat Pipin. Tangannya meramasi jemariku. Hingga darahku mengalir lebih kencang, melewati pori-pori serasa akan keluar. Bukan deg-degan, tetapi aku merasa akan mati mendadak di dekatnya. Ke mana kesepian yang selama ini menemaniku? Tolong aku!

”Aku tidak mau menikah denganmu Pin, ingat itu. Tidak ya tidak!“

”Apa kamu bilang ha? Kamu tidak boleh menolak karibku ini, si Pipin, pemuda super keren juga jagoan. Orang-orang menakutinya. Kamu akan tercukup dengannya.“

”Tidak!“

”Pokoknya kamu besok bersamaku ke rumah Pipin! Melamarnya. Lihat Pipin telah menyiapkan gaun untukmu juga segala macam barang bawaan untuk kamu melamarnya.“

Tidak lama, salah satu temannya membawa tali tambang. Aku mengenali betul bau-bau yang aneh. Mereka pasti telah bersekongkol menangkap diriku dan membawa kepada pelukan Pipin.

Aku berlari menuju kamar menemui kesepian. Aku keluarkan setumpuk kekesalanku dan kesedihanku. Aku menutup gorden, memeluk segala yang ada di kamar hingga menunggu kesepian. Kesepian benar-benar tidak datang, aku semakin tidak tenang. Apa kesepian telah mati? Atau takut dengan tubuh gempal? Pikiran-pikiranku mendadak mengumpul di dalam otak. Aku semakin gelisah.
Tubuh gempal serta Pipin mendobrak pintu kamar, setelah mereka meminum botol-botol bersama teman lain tadi malam. Kartu-kartu domino berserakkan, juga kacang-kacang berceceran di mana-mana.

Biarkan mereka mencariku hingga ke kolong tempat tidurku. Aku sudah menjelma menjadi kesepian yang berada di sepanjang waktu. Darahku telah enggan bersembunyi di balik kulit, tetapi jiwaku masih berada di kamar. Terkadang di gorden duduk nangkring, juga di tempat tidur dan terbang memutari kamar dengan kesepian. Aku mengelilingi mreka yang nampak egois itu, membuat kepalanya berdenyut-denyut juga berteriak histeris dengan stumpuk kegelisahan yang menghantuinya. • 

Yogyakarta, 30 November 2016 

Rimas Vita. Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rimas Vita
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 11 Desember 2016 

0 Response to "Bersama Kesepian"