Burung-Burung yang Bubar dari Latar Attar | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Burung-Burung yang Bubar dari Latar Attar Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:10 Rating: 4,5

Burung-Burung yang Bubar dari Latar Attar

Burung-Burung yang Bubar dari Latar Attar

-- untuk yai amun dan munawi

Pengaduan Jalak

Burung zindik berbisik kepada jangkring:
Jangan berisik, besok kau bakal diuntal
cendet cedal yang terpental dari alas asal.

Tapi jangkrik tetaplah jangkrik.

Kepada burung zindik tersebut
beliau bilang bahwa dirinya menganut syekh perkutut,
burung salik yang hanya makan ketan dan jewawut.

(Dari syekh perkutut jangkrik mendapat amanat merapal 
larik mistik krik, krik, krik 3.000 kali
di malam Senin dan 7.000 kali di malam Jumat)

Tidak. Beliau tak percaya pada beos,
burung zindik dan tengik itu, yang amat giat
menghhujat dengan ayat-ayat hutan

dan diocehkan seperti benih kebencian.

Demikian aduan jalak kepada kiai gagak,
burung hitam sepuh, yang paham
seluk beluk kelam dan kematian

(2016)

Penciuman Gagak

Aku telah menciu bau bangkai
yang begitu nyata. Berhari-hari mendatang
pasti datang perang panjang dan pertumpahan darah

Tidak. Tidak, saudaraku. Jangan percaya perkutut,
burung salik yang licik itu. Jangan tepedaya
kalung lehernya yang menyerupai butiran berkah.

Kemarin, sang kutilang datang
dari pucuk pohon cemara dan mengabarkan
bahwa perkututlah penghasut puter dan derkuku.

Dari ketinggian sangkarnya, perkutut berkhutbah
burung-burung puter yang memekurkan kur
ter, ter, ter, ter itu pastilah kaum bidah dan bedebah.

Perkutut yakin, itu kur pembangkit berahi antar-sesama.

Itu sebabnya leluhur puter membuang kalung dilehernya.
Itu sebabnya bulu puter lebih kelabu dari bulu derkuku.
Itu sebabnya kabilah derkuku tak sudi mengawini kabilah mereka.

Kini mereka telah bersitegang dan siap berperang.
Petanda buruk telah datang, Saudaraku.
Petanda buruk telah datang.

Pohon zaqqum tengah mengaum. Damn aku melihat burung-burung
besar pencabut nyawa bersiap terbang dari pintu neraka.
Sungguh, aku mencium bau bangkai yang begitu nyata.

(2016)

Pandangan Elang

Bangsatlah para serigala yang mengajar perang
kepada kabilah-kabilah satwa di hutan sana.

Bangsatlah celeng-celeng yang mengajar rasa rakus
kepada sekalian satwa yang gampang mampus oleh lapar

Telah kutinggal kubu-kubu burung itu melanglang ke padang apsir
supaya aku tahu rahasia gurun dan angin dan gunung dan lautan.

Kutempuh cara demikian lantaran aku ingin ketemu ilmu makan
yaitu makan sekadar ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang.

Singa dan ular telah uzlah ke goa-goa gelap supaya mereka 
tahu rahasia cahaya yang membuat mata mereka tetap peka

pada warna dan rasa. Dari singa dan ulat itu aku tahu, gajih
adalah bala yang membuat sayap dan kaki burung betah di tanah

Mengapa burung-burung itu tak bersabar menunggu aku
pulang dari tualang panjang  dan mengajarkan pada mereka

laku kura-kura tua yang telah menempuh banyak jalan
dan mengikhlaskan dagingnya untuk melunaskan puasaku?

Mereka malah bertarung antar-sesama bangsa burung dan
mengurung dendam yang dikandung sampai ke indung telur.

Tidak. Jangan diteruskan. Sungguh yang demikian  itu adalah 
aniaya bagi roh burung-burung yang merenung di pohon sidrah.

Apakah kalian ingin seperti burung unta yang berlari
dan terus berlarian sambil menyembunyikan kepala,

padahal, sebagai burung, kau diteteskan untuk terbang
dan melihat lekuk-lekuk kami dari ketinggian sana?

(2016)

Kur Kabila Puter

Ter, terpujilah derkuku yang membuat bulu-bulu kami tumbuh lagi
Ter, terpujilah perkutut yang membuat empat kur kami dimengerti
Ter, terpujilah puter-puter pejuang yang bangun dari cepuk mimpi
Ter, terpujilahbulu nun terbang tinggi dan turun kembali ke bumi

(2016)

Pernyataan Perkutut

Bagaimana mungkin sang kutilang, burung penyair yang riang
dan rajin sembahyang itu mengoceh di pucuk pohon cemara
bahwa akulah yang menghasut burung puter dan derkuku.

Tidak. Sebagai burung penyair yang mahir menaksir sejarah
dan rahasia burung-burung purba, pasti ia tahu kalau leluhurku
sama belaka dengan leluhur burung puter dan derkuku itu.

Mengapa pula gagak, burung sepuh yang mengerti rahasia kelam
dan ekmatian itu, percaya begitu saja ocehan kutilang dan berfatwa
kepada jalak prihal pelik yang sungguh-sungguh tak diketahuinya

Bagaimana mungkin, sebagai burung  salik aku tega terhadap
pertumpahan darah dulur-dulurku, burung puter dan derkuku itu.
Bagaimana mungkin sekeji itu prasangka mereka terhadapku.

Sungguh, itu adalah ekbodohan yang nyata. Pun tak patut bila
mereka menghujat beo, burung latah yang setia mengocehkan
ayat-ayat hutan, sebab begitu tafsir tugas yang dilepas ke lidahnya.

(2016)

Surat Terbuka Prenjak Kepada Rajawali

Kepada Rajawali,
Tuan para burung, yang tak pernah kami temui.

Mungkin Tuanlah ratu adil untuk bangsa burung yang kerdil ini.
Turunlah dari tinggi dahan Tuan yang tersembunyi. Jadilah
penyelamat kami. Jadilah pawang bagi hati kami yang gerowong
ini. Jadilah penolong bagi bangsa burung yang teraniaya
dan terlunta-lunta ini. Jangan Tuan jadi burung jadi-jadian
yang sekadar dijasikan dongeng pengantar tidur
bagi telur-telur kami yang busuk menanti.

Demikian kiranya surat terbuka yang kami panjatkan
dari pohon keres kering ini, wahai Tuan Rajawali

untuk Tuan, di mana pun Tuan bersembunyi

(2016)


Catatan:
Rangkaian puisi alegoris ini diilhami "Musyawarah Burung" karya Fariduddin Attar, penyair sufi asal Persia di abad ke-12.


A Muttaqin lahir di Gresik, Jawa Timur, 11 Maret 1983. Buku puisinya yang terbaru adalah Dari Tukang Kayu sampai Tarekat Lembu (2016)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya A Muttaqin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 10 Desember 2016



0 Response to "Burung-Burung yang Bubar dari Latar Attar"