Dari Gigi untuk Gigi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dari Gigi untuk Gigi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 22:36 Rating: 4,5

Dari Gigi untuk Gigi

TEMPAT paling menakutkan di muka bumi versi Madeali adalah ruang Poli Gigi. Di ruang tunggu Puskesmas pada Selasa pagi, pemuda yang bekerja sebagai guru honorer itu menggenggam kartu antrean nomor 2 dengan tangan gemetar. Di matanya, pintu ruang Poli Gigi tampak seolah-olah meleleh dan menjelma wajah besar menyeringai dengan gigi-gigi yang tajam.

Tiba-tiba..., “Alihkan perhatianmu! Alihkan!” suara ini membuatnya menoleh.

Seorang tua gondrong beruban—kumis dan jenggot lebatnya juga beruban—duduk di samping Madeali dengan memegang tongkat kayu yang terus diketuk-ketukan ke tegel. Pakaiannya sejenis jubah berwarna merah yang kedodoran, membuat tubuhnya yang kurus tampak lebih kurus lagi. Di kepalanya, bertengger serban sewarna jubahnya, berbentuk seperti kue bolu utuh belum diiris-iris. Mulut orang itu ompong tanpa gigi depan, mengingatkan Madeali pada kandang kucing yang terbuka lebar.

“Apa?” Madeali bertanya untuk memastikan orang itu memang bicara kepadanya.

“Kamu harus mengalihkan perhatian, ke apa saja.”

Madeali terpaku. Terlepas dari benar-tidaknya, ia merasa sebuah proses kebahasaan yang unik baru saja terjadi di depan matanya. Kata ‘saja’ ternyata bisa menyebabkan kandang kucing terbuka lebar, pikirnya.

“Sudah lihat mulut saya?” si Tua sadar ia diperhatikan.

Pipi Madeali bersemu merah karena malu.

“Saya sudah berpengalaman untuk urusan satu ini, orang-orang mestinya memanfaatkan pengalaman saya,” kata si Tua bangga.

“Memangnya sudah berapa kali Bapak pergi ke dokter gigi?”

“Sebanyak gigi depan saya. Lihat,” si Tua menganga. “Yang tersisa tinggal geraham.”

“Bapak tidak takut?”

“Takut ya takut. Tapi, saya bawa aman saja dengan memikirkan hal lain.”

“Bagaimana caranya? Saya sulit memikirkan hal lain di saat seperti ini.”

“Hem.... Kalau begitu, kamu betul-betul butuh mawar kuning.”

“Mawar kuning? Itu merek obat ya? Ada sama Bapak?”

“Ada. Di sini,” si Tua menunjuk jidatnya yang keriput.

Ular! Pembual! Ejek Madeali dalam hati. Dia luruskan duduknya ke depan. Tapi cepat saja, pintu ruang Poli Gigi kembali menyeringai, membuat Madeali sadar obrolan dengan si Tua telah membantunya melewatkan situasi gentingnya beberapa lama.

“Apa maksudnya ya, Pak?” dia menoleh lagi.

“Begini, anak muda. Mawar kuning itu sudah ada di kepalamu. Kamu tinggal memusatkan perhatian untuk menyibak kabut yang menutupinya dan menemukan mawar itu.”

“Nomor satu!” teriak perawat dari balik pintu.

Tujuh detik berlalu, suara itu berulang, “Nomor satu!”

Pun tujuh detik berikutnya, kali ini lebih nyaring dan panjang, “Nooomor satuuu!”

Si Tua bangkit. “Ingat ya. Mawar kuning,” katanya.

Madeali bukan pencinta bunga. Ia buta akan jenis-jenis mawar. Pernah didengarnya, mawar merah adalah lambang cinta. Tapi mawar kuning? Ia tak tahu. Ia sudah hampir menyerah bertanya-tanya dalam hati, ketika teringat gawainya. Google pasti tahu.

Google menampilkan tiga kuntum mawar dengan mahkota berlapis-lapis, menggulung ke dalam, seperti sejenis kue kering yang akrab di mata Madeali tiap Lebaran, hanya yang ini kuningnya lebih cerah daripada kue mentega itu. Di bawahnya, tertera tautan ke sebuah situs web dengan keterangan bahwa situs itu punya 760.000 gambar mawar kuning. Madeali tak tertarik; baginya, hanya butuh tiga gambar untuk tahu penampilan fisik mawar yang kini jadi buronan pikirannya. Kini dia memburu sesuatu yang sifatnya lebih esensial, katakanlah begitu. Karena itu, ketika melihat di bawah tautan tadi ada tautan lain dengan tajuk “Arti Bunga Mawar Kuning”, tanpa pikir panjang ia membukanya.
Di situ Madeali membaca bahwa mawar kuning secara umum mengungkapkan kehangatan hati dan keindahan; bunga ini merupakan simbol persahabatan; warnanya sering dikaitkan dengan matahari; penampilan mawar ini konon membawa senyum di bibir banyak orang; dan seterusnya, dan seterusnya.

Inilah sebabnya orang tua itu suka betul tersenyum, meski mulutnya seperti kandang kucing, batin Madeali. Sebenarnya ia masih ingin membaca, tapi saat itu ia mendengar nomornya dipanggil. Ia belum banyak tahu, dan kini pengetahuannya sudah harus diuji. Pantatnya seolah membatu, berat sekali untuk bangkit.

Madeali heran, ia tak melihat orang tua tadi keluar melalui pintu. Di dalam pun si Tua tak ada.
Perawat menyilakannya duduk di depan meja dokter. Dokter itu seorang perempuan berhijab dan berjubah putih, dengan mulut tersembunyi di balik masker. Dia menanya-nanyai Madeali, yang dijawab pemuda itu enteng saja, tak ubahnya menjawab soal-soal yang telah dihapalnya tiap hari selama 23 tahun.

Berhadap-hadapan langsung dengan dokter gigi seperti itu mendesak ingatan Madeali melayang ke masa lalu, saat ia yang ketika itu masih berseragam putih-merah diantar ibunya untuk cabut gigi pertama kalinya; setelah menyuntik gusi Madeali, dokter yang juga bermasker menekan-nekan giginya dengan benda pipih dari besi; “Sakitkah? Sakit?” tanya dokter; Madeali kecil menjawab, “Tidak”, karena memang tidak sakit; tapi saat dokter menarik giginya, Alamak! Madeali mendengar gemerosak akar-akar tercabut dari pohon besar yang entah sejak kapan tumbuh di kerongkongannya; pulang dari sana, timbul keberaniannya mengumumkan kepada teman-temannya bahwa ruang Poli Gigi adalah tempat terbaik untuk uji nyali.

Sejak itu, meski berulang-kali sakit gigi, bahkan membayangkan kembali ke sana pun ia tak sudi. Tapi dua hari lalu, sakit di giginya memanjat naik ke kepala sampai Madeali tak bisa tidur.

“Sungguh beruntung orang yang tak punya ingatan,” Madeali bersungut-sungut saat kembali ke masa kini dan mendengar dokter memandunya ke kursi periksa gigi. Kursi itu mempunyai dudukan yang panjang, tempat kaki bisa selonjoran. Bu Dokter mengatur sandaran kursi sehingga Madeali bisa berbaring. Lalu dokter itu menyerahkan selembar kertas kepadanya untuk ditandatangani. Dengan teliti Madeali membacanya. Sampai di potongan kalimat yang berbunyi ‘...dapat menyebabkan kematian’ pada poin ke-2, dia tertegun. Madeali menengok ke pintu. Dia merasa seakan-akan jantungnya telah lebih dulu kabur ke sana. Karena malu bila tubuhnya ikut kabur dari situ, ia buru-buru menandatangani kertas itu dan mengempaskan punggungnya kembali berbaring.

Bu Dokter menyalakan senter besar yang terhubung dengan badan kursi dan menggerakkan kepala senter mendekati kepala Madeali. Mata Madeali terpicing silau. Cahaya menimpa kelopak matanya, mengilaskan warna kuning yang hangat. Saat itu juga Madeali teringat pada mawar kuning.

Ia mengeratkan pejaman mata, dan mencari-cari mawar itu di benaknya. Segera setelah dokter memasukkan benda metalik entah apa namanya ke mulut Madeali, pemuda itu mendengar lima kali berturut-turut bunyi seperti stapler ber-pletak-pletak. Dia hanya menduga-duga: gigiku mungkin disuntik, berkeliling. Disusul suara pikirannya merengek-rengek: aku harus meninggalkan ini, aku mau lihat mawar kuning! Ia pun mengubek-ubek benaknya, mencari mawar itu.

Lengkung-lengkung garis mahkotanya telah terlihat, dan warna kuning bunga itu telah membayang, saat Madeali diminta berkumur dengan cairan dalam gelas di sebelah kirinya, yang meruapkan bau obat menyengat. Ia membuang kumurannya ke wadah bundar berkisi-kisi di dekatnya, dan melihat seserpih kecil gigi terjatuh, seperti remah kacang, tersangkut di kisi-kisi wadah itu. Mengulang berkumur, dua-tiga serpih gigi pun menyusul. Melihat mereka, Madeali lega. Mungkin sudah selesai, pikirnya.

“Kalau terasa sakit, angkat tangan Anda ya!” kata dokter, memegang alat sejenis pinset.

Bsss!—bunyi simbal mendesis keras di kepala Madeali. Ternyata baru dimulai, pikirnya ketakutan. Secepat yang ia bisa, ia kembali berusaha memikirkan mawar kuning. Lapisan mahkota itu... bergulung ke dalam... berwarna kuning cerah.... Ia merasakan geraham kiri bawahnya dijepit dan ditekan kuat-kuat ke samping, satu-dua-tiga detik, lalu pinset ditarik keluar. Sudah selesai?

Belum juga. Letak geraham itu menimbulkan kesulitan tersendiri bagi Bu Dokter. Gagal pada percobaan pertama, ia memanggil perawat untuk memegangi kedua telinga Madeali, menahan kepalanya. Sialnya, dengan begitu, konser bunyi dalam mulutnya kian jelas didengar Madeali.

Pemuda itu berusaha lebih keras lagi: mawar itu... bermahkota... bergulung-gulung... dan berwarna kuning... ada di sebuah taman... penuh mawar kuning... aku hanya butuh satu... satu saja....

Ia mendengar pinset Bu Dokter kembali menjepit dan menekan gerahamnya. Lekas ia kembali ke mawar kuning. Sungguh beruntung, mawar itu ia temukan tepat saat ia mendengar giginya disentak. Oooh-mawar-kuniiing-aku-mendekatimu-sialaaan!—pekiknya dalam hati. Tarikan di giginya surut. Matanya terbuka.

Bu Dokter menunjukkan gigi yang masih terjepit di pinsetnya, sejengkal dari mata Madeali: bagian bawah gigi itu bercabang dua dan runcing seperti ujung sepit kepiting; bagian atasnya bagai kaldera kuning, kotor, menjijikkan. Itu dia makhluk kecil yang telah membuat dunia kacau, bikin hari serasa perang bagi Madeali. Kini telah terpisah darinya dan sebentar lagi berakhir entah di mana.

Madeali takjub, ternyata tidak sakit sama sekali. Setelah itu, semua berlalu enteng saja. Ia juga sudah lupa mawar kuning. Dokter memasukkan segulung-kecil kasa ke lubang di gusinya. Madeali menerima resep dan manggut-manggut saat dokter menyuruhnya, untuk sementara waktu, tak menggunakan gigi sebelah kiri untuk mengunyah. Madeali ingin berterima kasih, tapi ia sadar kehidupan telah mengubahnya menjadi pendiam betul saat itu. Sebelum beranjak, ia ingin menyalami tangan Bu Dokter, tapi ia merasa itu berlebihan. Akhirnya, ia hanya mengangkat jempolnya, lalu keluar.

Setelah mengambil obat di apotek, ia naik motor ke sekolah. Masuk kelas memberi tugas, dan tiba waktu pulang, ia pulang. Dunia terasa damai meski orang-orang melihat ia tampak murung.
Pada hari Jumat, melihat nafsu makan Madeali, ibunya percaya pemuda itu memang omnivor tulen, bisa makan apa saja, mungkin batu sekalipun. Dan hari Sabtu, benarlah, Madeali makan batu.

Dalam perjalanan pulang sekolah, dari atas motornya ia melihat orang tua yang memberinya mawar kuning duduk bersila di bahu jalan, tanpa alas duduk dan tudung kepala, dengan wajah teduh-segar tanpa keringat, mendongak sambil tersenyum lebar ke arah matahari siang yang panasnya bisa membikin mata menjerit. Bagai tertenung oleh pemandangan itu, Madeali menoleh beberapa lama sehingga telat melihat truk yang mengebut dari depan. Ia terkejut, hilang keseimbangan, motornya terbanting. Madeali terpelanting dengan barisan gigi depan menghantam bebatuan tepi jalan.

Esok harinya, di atas meja dalam kamar rumah sakit tempat Madeali dirawat, tergeletak sebuah koran yang ditinggalkan salah seorang pembesuknya. Berita tentang kecelakaan Madeali terpampang di satu rubrik, dalam sebuah kolom yang pendek, tak lebih dari seratus kata. Berita itu ditindih oleh kolom dengan jumlah kata lebih banyak—disisipi foto pula—mengenai profil seorang petapa pengembara dari suatu negeri yang jauh, yang nama negerinya tak rela dibocorkan oleh yang bersangkutan. Konon, petapa itu adalah murid dari seorang petapa breatharian yang baru-baru itu menggemparkan dunia, dengan kemampuannya bertahan hidup tanpa makan dan minum selama bertahun-tahun.

Tak seorang pun tahu, apakah itu fakta atau bukan. Tapi yang jelas, dari cermin kecil milik ibunya yang tegak di samping koran itu, Madeali menyadari sebuah fakta keras: kini dia punya kemiripan dengan si petapa.

Pana, Juni 2016 


Muliadi GF lahir di Bojo, 29 Mei 1986. Lulusan Pendidikan Bahasa Indonesia UNM Makassar. Tinggal di Barru, Sulawesi Selatan.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muliadi GF
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 11 Desember 2016



0 Response to "Dari Gigi untuk Gigi"