Elegi Cikgu Leman | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Elegi Cikgu Leman Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:30 Rating: 4,5

Elegi Cikgu Leman

SUARA muazin yang melaungkan azan terdengar parau, di tengah ratusan orang yang tegak mematung tanpa tudung kepala dan duduk mencangkung di atas semak-semak di pinggir sungai yang memadati tepian. Mereka tegak memaku dengan perasaan bermacam bagai sata matahari bersinar garang tepat di pucuk ubun-ubun.

Tiga perahu motor baru saja ditolak ke tengah sungai. Perahu pertama berisi orang-oranng patut, seperti Pak Ustaz, Tuan Syekh, Tuan Kadi, Pak RT, Kepala Desa, dan pejabat penting yang bertebak bak barau atau orang terpandang di kampung itu. Perahu kedua berisi kaum kerabat mendiang yang agak jauh. Perahu motor ketiga berisi mendiang Cikgu Leman dan karib-kerabat dekat, seperti ibu, adik-kakak, istri, dan anak-anak yang ditinggal mendiang beserta mendiang sendiri yang terbaring kaku di bagian belakang.

Usai azan, muazin terisak. Begitu pula dengan beberapa orang di sampingnya. Sebagian melaung. Tangis mereka pecah. Di depan mereka, di sungai perahu-perahu motor mulai bergerak pelan. Bunyi mesinnya meraung, menenggelamkan raungan sebagian orang yang sayang pada mendiang.

Baru beberapa depa meninggalkan tepian, semua perahu motor tertahan karena tertabrak beting, pasir yang agak naik ke permukaan sungai akibat kemarau panjang. Orang-orang yang tinggal di tepian terkesima. Sebagian yang tidak menangis ingin mengarungi sungai, ingin menolak perahu motor ke tengah agar mendiang cepat sampai ke rantau kebun. Rantau tempat orang kampung dikuburkan. Sementara yang di dalam perahu motor juga resah. Turun tak mungkin. Walaupun kini musim kemarau, kedalaman air masih melampaui kepala orang dewasa.

Bunyi perahu motor terdengar semakin melolong karena volume gasnya terus digenjot juru mudi. Asap mesin perahu motor mengepul ke udara. Beberapa orang di perahu motor segera ambil pengayuh dan galah serta sembarang alat dalam perahu untuk bisa menolak perahu bermesin itu ke tengah, membantu perahu agar lepas dari jeratan pasir. Gelombang bergolak hebat. Air menjadi keruh karena bercampur pasir merah yang timbul akibat pusaran kipas mesin perahu motor.

ENtah berapa lama terhenti di tengah panas siang berdentang itu, pelan-pelan perahu-perahu motor bisa melepaskan diri. Semua perahu motor menghala ke hulu, menuju ke arah rantau kebun, ke tempat orang-orang kampung istirahat abadi.

Malam tadi lelaki bernama Suleman allias Cikgu Leman yang merupakan kepala sekolah dasar itu meninggal di rumah sakit umum di ibukota kabupaten. Tak ada yang tahu pasti apa sebab-musabab pria berumur 45 tahun itu meninggal. Kata istrinya, dua pekan yang lalu ia hanya demam biasa. Namun, kala tidur, ia meracau.

Lalu oleh keluarga, Cikgu Leman dibawa ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, dokter memvonis Cikgu Leman mengidap komplikasi. Smeua keluarga terhenyak. Selama ini Cikgu Leman tak pernah terindikasi mengidap penyakit berbahaya. Tak memiliki riwayat penyakit macam-macam. Tapi?

Satu pekan ellaki itu tersekap di ruang gawat darurat. Satu pekan dirawat di kamar biasa. Lalu malam tadi, malam Rabu, pukul 00.45 tengah malam, lelaki itu pulang. Pulang ke kampung abadi. Meninggal.

Pihak keluarga waham, sak wasangka, dan berbisik-bisik kecil kalau penyebab meninggalnya Cikgu Leman karena ada kesalahan obat. Kesalahan tenaga medis. Sebab, sebelum dimasukkan darah ke tubuhnya, kondisi Cikgu Leman demam biasa saja. Tetapi setelah tranfusi darah dilakukan pihak rumah sakit, keadaan Cikgu Leman malah bertambah parah, bahkan di lengan sebelah kirinya, di tempat jarum ditusukkan muncul warna biru. Lalu beberapa hari kemudian berubah hitam seperti bekas terpanggang.

Kuat dugaan keluarga kalau telah terjadi malpraktik di rumah sakit itu. Tapi, sebagian penduduk yang kurang suka pada Cikgu Leman menyebutnya lain. Mereka mengatakan Cikgu Leman terkena sihir hantu setan. Kata mereka, Cikgu Leman pernah korupsi duit bantuan sekolah atau dana BOS (Bantuan Operasional Skeolah) sehingga ada wali murid yang tak senang dan mengupahkan sihir kepada dukun.

Semasa hidup, Cikgu Leman bekerja sebagai pendidik. Terakhir menjadi kepala SD. Selain menjadi guru, ia juga dipercaya menjadi ketua RW. Ia terkenal memiliki pergaulan luas, humoris, dan berpenampilan menarik. Sehingga tidak hanya dikenal di kampung sini, tapi juga oleh penduduk kampung lain, Tidak hanya dikenal aparat kabupaten, tapi juga pihak perusahaan yang ada di sekeliling kampung itu.

Cikgu Leman meninggalkan seorang istri dan empat orang anak. Anak pertama Mawar Utami, baru kuliah semester satu di ibu kota provinsi. Anak kedua Dara Kamboja, baru kelas tiga SMP. Anak ketiga Bulan Sri, kelas lima SD. Anak terakhir Bungsu Perwira, baru berumur lima tahun.

Sehari sebelum meninggal, di rumah sakit, Cikgu Leman berkata pada istrinya.

"Er, Abang sayang padamu," katanya menilik lembut pada mata istrinya yang selalu sembap beberapa hari terakhir.

Erda mengelap air mata yang merebak di pipinya. Ia coba tersenyum pada Cikgu Leman. Coba mendengar kata-kata suaminya. "Lama nian Er tak dengar kata-kata Abang macam itu."

Cikgu Leman coba tersenyum. Hambar. Erda pun tersenyum. Hencut.

"Erda perempuan yang hebat. Abang berterima kasih padamu."

Erda tertunduk mendengar pujian suaminya. Lalu ia pandang lekat-lekat. Ia lihat wajah suaminya sudah berubah dari biasanya. Tak setampan dahulu. Matanya membesar. Merah. Rambutnya kusut. Ke mana perginya wajah tampan lelaki tergagah di kampung itu? Hari Erda mulai tak sedap.

"Mengapa Abang cakap ebgitu?" tanya Erda terdengar menggigil.

Cikgu Leman mengalihkan pandang ke botol infus.

"Bukankah sudah menjadi kewajiban istri melayani dan mendampingi suaminya, Bang?" sambung Erda sambil mengusap kening Cikgu Leman yang terus berkeringat dingin dengan handuk yang sudah bacin.

Cikgu Leman tersenyum lagi. Ia coba tersenyum semanis-manisnya, tapi tetap hambar di mata Erda.

"Mawar sudah besar. Ia sama pintar dan hebatnya sepertimu. Ia akan bisa...." Cikgu Leman terbatuk.

Erda mulai tak dapat bersuara, hanya air mata yang kian melelah  di pipinya. Ia menutup mulut dengan sapu tangan yang digunakan untuk mengelap kening suaminya agar tangisnya di ruang gawat darurat itu tak didengar keluarga yang ada di luar.

"Andai kata...." Cikgu Leman berhenti lagi. Suara Cikgu Leman terdengar berat dan mulai kurang jelas.

Erda merebahkan kepalanya did ada Cikgu Leman. Ia peluk tubuh Cikgu Leman kuat-kuat. Ia lupa lelaki itu sedang dalam keadaan darurat. Ia tumpahkan air mata di dada lelaki yang telah hidup seperempat abad dengannya tersebut.

"Hidup pasti ada akhir. Semua orang akan begitu," suara Cikgu Leman seperti berbisik.

"Jangan Abang teruskan lagi. Jangan, Bang. Jangan!" teriak Erda ditahan-tahan.

"Maafkan Abang ya." Cikgu Leman diam lagi. "Besarkan anak-anak kita," terus Cikgu Leman tak memedulikan sedu sedan istrinya dengan suara terbata-bata.

"Beri tahu anak kita agar jangan menyakiti hati orang kampung. Jangan terlalu memikirkan dunia ini." Cikgu Leman mencoba menarik napas.

"Kalau mereka nanti jadi pegawai negeri seperti abang, hiduplah dari gaji dan kerja yang bersih. Jangan korupsi. Jangan macam-macam. Hidup ini pendek, Dik."

"Abang!" Erda menangis sesenggukan.

Cikgu Leman semakin lesu. Matanya kian kuyu.

Cikgu Leman terbatuk lagi.

"Nanti suruh Wira sekolah agama, Dik, agar kelak bisa mendoakan kita." Suara Cikgu Leman mengecil seperti berbisik.

Isak tangis Erda kian kuat.

"Kalau masih ada duit, bayar utang-utang kita," napas Cikgu Leman semakin sesak. Suaranya mulai kurang jelas.

Erda menutup wajahnya dengan sapu tangan.

"Bayar utang di sekolah, masyarakat, pada Alex. Juallah tanah." Bisik Cikgu Leman terpatah-patah.

Cikgu Leman masih coba berpesan pada Erda, tapi semakin lama semakin tidak jelas. Hanya komat-kamit mulutnya yanng tampak di mata Erda. Mata sudah tertutup. Napas Cikgu Leman mulai tak teratur, sudah seperti orang tercekik.

"Abang. Abang!!" Erda mengguncang-guncangkan tubuh Cikgu Leman.

Melihat tak ada reaksi dari Cikgu Leman, Erda berlari menuju meja perawat yang jaraknya kira-kira tiga depa dari tempat Cikgu Leman terbaring. Melihat itu, para perawat pun mulai sibuk dengan Sfigmomanometer, mengukur tensi darah Cikgu Leman. "50/70?" terdengar gumam perawat.

"Panggil dokter," kata perawat tersebut menyuruh temannya.

Erda meraung keras. Keluarga di luar ruangan berkejar ke dalam, tetapi hanya beberapa orang yang boleh masuk. Pada malamnya, Cikgu Leman pulang. Pulang ke kampung abadi. Pulang untuk selamanya.

***
Beberapa hari setelah Cikgu Leman dikebumikan, di tengah sedih yang masih mengimpit batin, semua pesan Cikgu Leman tak pernah lepas dari ingatan Erda, terutama tentang tanah dan utang. Tapi, tanah mana lagi yang akan dijual untuk membayar utang? Bukankah semuanya sudah tergadai?

Sebuah mobil Fortuner hitam berselimut debu tebal tampak berhenti di ujung halaman rumah Erda. Tiga orang lelaki berkacamata hitam, bercelana jins, dan berbaju kemeja kotak-kotak, turun dengan langkah tergesa-gesa menuju rumah Erda.

Bungsu Perwira berlari ke arah ibunya, memberi tahu kalau ada orang datang.

"Dengan Bu Erda? dengan istrinya almarhum Pak Cikgu Leman?" tanya yang paling tua setelah membuka kacamata.

"Ya, Pak," jawab Erda penasaran.

"Saya Hendri. Ini Herman dan ini faisal, Bu. Tujuan kami datang ke sini, pertama mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Pak Cikgu Leman. Kedua, menyampaikan ini buat Ibu. Ini sesuai dengan pesan pak Wali pada waktu almarhum meninggal kemarin, Bu." Lelaki itu menyodorkan sebuah amplop kuning besar dan gemuk pada erda.

"Apa isinya 'ni, Pak?" tanya Erda polos.

Lelaki itu memandang ke arah dua kawannya. "Mungkin almarhum pernah bercerita pada ibu tentang tanah kampung sini. Inilah...."

Erda ternganga. Tanah? Tanah itukah yang disebut abang dahulu?

"Pernah kan, Bu?"

"Apa, pak?"

"Almarhum mungkin pernah bercerita tentang tanah pada ibu," ulang lelaki itu.

'Erda mengangguk lemah. Wajah suaminya di detik-detik terakhir kehidupannya kembali tertayang di pikiran Erda. Selanjutnya pikiran Erda kembali pada tanah yang disebut mendiang suaminya pada detik-detik terakhir kehidupannya tersebut. Tak satupun lagi kata-kata tamu itu yang masuk ke telinga Erda. Yang terpikir pada suaminya.

Setelah orang-orang itu pergi, Erda pun melupakan asal-muasal tanah itu. Kini ia memikirkan kapan harus melunaskan utang suaminya pada sekolah, masyarakat kampung, dan Alex. Tapi, cukupkah membayarnya dengan uang dalam amplop kuning tebal itu dan apakah akan lunas dunia akhirat?

Pekanbaru, 2014-2016

Kamus kecil:
1. Berbebat bak barau: orang berpangkat atau tokoh masyarakat
2. Menghala: mengarah
3. Hencut: tak manis; buruk.

Griven H Putera merupakan sastrawan Riau yang meraih Anugerah raja Ali Haji Award dari GMDI (Gerakan Masa Depan Indonesia) Provinsi Riau dan UIN Suska Mengajar tahun 2016 atas kiprah dan dedikasinya di bidang sastra. Karyanya bertebaran di media lokal dan nasional.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Griven H Putera
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" Minggu 11 Desember 2016

1 Response to "Elegi Cikgu Leman"

najwa-fikran said...

Hidup republika. Sukses always...