Eleora dan Dewa Pengatur Cuaca | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Eleora dan Dewa Pengatur Cuaca Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:15 Rating: 4,5

Eleora dan Dewa Pengatur Cuaca

ELEORA tinggal bersama orang tuanya di sebuah rumah sederhana di Negeri Ponbeto. Seperti rumah penduduk lainnya, rumah Eleora dipenuhi bunga-bunga dan tanaman buah. Penduduk Negeri Ponbeto sangat gemar bertani dan berkebun. Mereka mempunyai ladang sayur mayur yang luas dan kebun bunga yang indah. Saat musim semi tiba, Eleora dan teman-temannya sangat suka berlarian di antara bunga-bunga yang bermekaran mengejar kupu-kupu cantik.

Namun, kini sudah berbulan-bulan hujan terus mengguyur Negeri Ponbeto. Akar-akar tanaman buah membusuk dan bunga-bunga tidak bermekaran. Padahal seharusnya saat ini sudah musim semi, matahari bersinar cerah, dan saatnya penduduk bersuka cita menyambut panen. Tapi, kini sebaliknya. Penduduk negeri itu sangat sedih, tidak ada lagi buah-buah segar dan sayur mayur untuk dimakan atau dijual. Kolam-kolam ikan juga meluap, sehingga ikan-ikan hilang terbawa banjir.

Eleora juga sangat sedih. Dia ingin merasakan hangatnya sinar matahari pagi dan berlarian di antara bunga-bunga yang indah. Pagi ini seolah-olah matahari menghilang tertelan mendung tebal.

Tiba-tiba Eleora teringat dulu kakek pernah bercerita tentang Dewa Amege, dewa yang mengatur musim dan cuaca, yang menentukan kapan waktu musim hujan tiba dan kapan musim hujan harus berubah menjadi musim panas. Eleora berjanji untuk mencari dewa tersebut, memintanya untuk menghentikan hujan yang terus-menerus turun di Ponbeto.

***

ELEORA lalu menyiapkan perbekalan untuk perjalanannya menemui Dewa Amege. Setelah meminta izin kepada orang tuanya, Eleora berangkat ke Negeri Monsun, yang menurut penduduk desa di sanalah Dewa Amege berada. Negeri itu ada di seberang Negeri Ponbeto, jaraknya memang tidak jauh. Namun untuk sampai di sana Eleora harus melewati padang-padang ilalang dan semak-semak yang anginnya bertiup sangat kencang. Orang-orang yang mencoba menemui Dewa Amege semuanya terlempar terbawa angin. Eleora tidak gentar, dia tidak ingin mengecewakan orang tuanya dan penduduk desa.

Berhari-hari Eleora berjalan menuju Monsun. Di sepanjang jalan, penduduk Negeri Ponbeto memberikan semangat kepada Eleora. Mereka juga memberikan sedikit makanan yang tersisa untuk bekal Eleora.

Tiba-tiba Eleora merasakan angin yang sangat kencang. Tidak hanya kencang tapi juga sangat dingin. Rupanya ia sudah sampai di Negeri Monsun. Benar kata orang-orang, angin di sini sangat kencang. Angin terus menerus berembus sangat kencang, menerbangkan apa saja yang dilaluinya. Kadang-kadang angin itu juga berputar-putar menyedot yang ada di sekitarnya.

Tubuh kecil Eleora terhempas dan jatuh di semak berduri, rasanya perih sekali saat duri-duri menggores kulit Eleora. Namun Eleora pantang menyerah. Dia berusaha menemukan cara untuk melewati tempat ini. Tubuh Eleora memang kecil, tetapi dengan tubuh kecil ini Eleora bisa merangkak di antara semak-semak dan ilalang, sehingga terlindung dari angin yang mencoba menerbangkannya.

Eleora terus merangkak, dia tidak merasakan bahwa lutut dan sikunya mulai berdarah. Tekadnya sudah bulat untuk bisa menemui Dewa Amege.

Sampai di sebuah bukit, angin mulai mereda dan tampak sebuah istana yang besar, Eleora menyadari bahwa dirinya telah tiba di istana Dewa Amege.

Eleora lalu mengetuk pintu istana dan berteriak, “Wahai dewa Amege, saya Eleora, saya ingin menemuimu.”

Dewa Amege sangat terkejut ada yang datang menemuinya, lebih terkejut lagi saat mengetahui bahwa yang menemuinya seorang gadis kecil cantik yang penuh luka. Belum sempat mengutarakan apa yang diinginkannya, Eleora jatuh pingsan. Rupanya dia kelelahan dan demam karena terus menerus terkena angin dingin.

Pelayan-pelayan Dewa Amege kemudian merawat Eleora dan menyembuhkan luka-luka di sekujur tubuhnya. Beberapa jam kemudian Eleora sadar, Dewa Amege sudah berada di sampingnya. Dewa itu kagum atas perjuangan Eleora untuk menemuinya. Dia berjanji akan mengabulkan keinginan Eleora.

“Apa yang membuatmu datang ke sini Eleora?” Dewa Amege bertanya bijak.

“Aku hanya ingin engkau mengebalikan musim seperti semula Dewa, aku sedih tidak ada lagi buah-buahan dan sayur-sayuran yang segar. Semua tanaman membusuk karena hujan turun terus,” mata Eleora berkaca-kaca mengatakan hal itu.

Dewa Amege terdiam sejenak kemudian berkata, “Aku pun sesungguhnya tidak ingin membuat keadaan seperti itu Eleora. Aku hanya ingin memberikan pelajaran kepada penduduk Negeri Ponbeto. Mereka telah mempunyai negeri yang subur ladang yang luas, hidup makmur. Tetapi mereka malah membuat kerusakan, mereka selalu menyalahkan hujan saat banjir datang. Padahal itu salah mereka sendiri karena membuang sampah di sungai, sehingga sungai meluap. Hutan-hutan ditebang untuk memperluas ladang, sehingga tidak ada resapan air. Saat mereka kekurangan air, mereka menyalahkan matahari karena bersinar terlalu terik. Padahal mereka yang memboroskan air saat berlimpah dan jika hutan-hutan tidak ditebang, mata air pasti akan menyediakan air yang cukup saat musim kemarau.”

Eleora merasa sangat bersalah mendengar itu. Ternyata kemakmuran Negeri Ponbeto malah menyebabkan penduduknya tidak bersyukur dan merawat alam. Mereka senang jika ladang-ladang bertambah luas, tetapi lupa kalau ada hutan yang harus dijaga.

“Berilah kami kesempatan lagi Dewa, kami berjanji untuk tidak menebang hutan lagi, tidak boros air lagi, dan tidak membuang sampah di sungai lagi,” janji Eleora.

Melihat kesungguhan di mata Eleora , Dewa Amege berkata, “Baiklah, Eleora, akan aku beri penduduk Ponbeto sinar matahari lagi, akan kuturunkan hujan saat waktunya tiba. Tapi itu kalau penduduk Ponbeto berjanji akan selalu merawat alam.”

Eleora mengangguk senang. Setelah kembali sehat, Eleora kembali ke Negeri Ponbeto dengan kendaraan angin Dewa Amege dan matahari telah bersinar cerah di Ponbeto. Penduduk menyambutnya dengan riang gembira. Setelah mendengarkan cerita Eleora, semua penduduk negeri itu berjanji akan selalu merawat alam yang telah memberikan mereka buah-buah dan sayur yang segar serta bunga-bunga yang indah.


Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Aprilia Nur Vita
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 18 Desember 2016

0 Response to "Eleora dan Dewa Pengatur Cuaca"