Elsa dan Inah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Elsa dan Inah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:24 Rating: 4,5

Elsa dan Inah

Senin 9 Desember ‘91

Aku masuk kantor agak terlambat. Pukul 9 lewat sepuluh menit aku baru sampai di mejaku. Untung big boss lagi ke luar negeri. Sepanjang hari susah konsentrasi.

Pukul tiga lebih seperempat, Kemal telepon. Aduh, senang sekali mendengar suaranya, padahal baru malam Minggu ketemu. Di bilang lusa akan ke Manado untuk mencek pemasaran di sana. Kok Manado ya ... tiba-tiba aku tidak bisa kerja lagi dan pukul empat kurang lima aku sudah sampai di lift.

Selasa 10 Desember ‘91

Kemal datang pukul setengah delapan malam. Kita ngobrol sebentar, lalu makan ke Gandy. Dia rupanya tidak mengerti bahwa aku agak kurang suka dia pergi ke Manado. Dia tenang saja makan dan ngobrol macam-macam sambil sekali-kali mengomentari penyanyi yang bertugas malam itu.

Penyanyinya oke sekali dan lagu-lagunya juga bagus. Sayang mood lagi nggak baik.

Rabu 11 Desember ‘91

Pagi-pagi Kemal menelepon, bilang, “Baik-baik ya, selama aku tidak ada. Awas kalau kencan sama orang lain.”

Siang sampai sore aku sibuk di kantor. Banyak klien baru yang perlu penjelasan.

Malamnya entah kenapa rasanya sediiiih sekali. Jangan-jangan Kemal bakalan rujuk kembali dengan eks istrinya?

Buku harian Elsa masih tergeletak di samping tempat tidur. Di atas meja onxy kecil berwarna hijau muda. Hari Minggu ini ia bisa berlama-lama menikmati tidurnya. Tidak ada acara dan ia sedang tidak tertarik membersihkan rumah seperti yang biasa dilakukannya pada hari-hari libur. Sebodo, rumah mau bersih, mau kotor ... toh selama seminggu ini tidak akan ada tamu. Lho, ia terkejut dengan jalan pikirannya sendiri. Memangnya kalau Kemal ke luar kota, tidak ada orang lain yang akan bertamu? Elsa tersenyum sendiri.

Pukul sembilan kurang beberapa menit Elsa keluar kamar. Dilihatnya di meja makan terhidang sepiring bubur ayam. Hm ... cukup membangkitkan selera juga. Tak lama kemudian terdengar Inah menyeret-nyeret sandalnya turun dari loteng, tempat menjemur baju.

“Nggak sakit ‘kan, Bu? Kok bangunnya siang? Inah sudah buatkan bubur ayam, mudah-mudahan Ibu suka.”

“Ya suka toh Nah ... baunya saja bikin aku ngiler. Mana kopinya?”

“Mau air jeruk peras Bu, biar segar?” tanya Inah sambil meletakkan secangkir kopi panas.

“Boleh deh, tapi jangan sekarang. Kamu bikin aja, taruh di kulkas dulu. Nanti kuminum setelah mandi.”

“Saya nggak belanja hari ini, Bu. Di kulkas masih ada daging sedikit dan sayuran. Ibu mau dibuatkan apa?”

“Sudahlah Nah, terserah kamu saja,” jawab Elsa sambil meraih koran Minggu. Sebentar kemudian ia asyik terbenam dalam korannya.

Di dapur Inah sebentar-sebentar melirik ke arah Elsa. Kok aneh, biasanya hari Minggu pagi-pagi Ibu sibuk membersihkan rumah, terus main tenis dengan Pak Kemal. Ini kok naga-naganya nggak akan ke luar rumah? Terus beberapa hari ini Ibu juga murung saja. Nonton teve saja nggak sampai selesai, malah sebelum warta berita sudah masuk kamar. Kecapean atau ada sesuatu?

Ah, takut ah, kalau tanya, nanti Ibu marah. Mending aku bersih-bersih kamar Ibu saja.

Di kamar secara tak sengaja Inah menemukan buka harian Elsa yang masih terbuka. Dibacanya dan mengertilah Inah kenapa Elsa murung beberapa hari ini.

Ah, kasihan juga Ibu ini. Umurnya sudah tiga pukul delapan baru ketemu jodoh. Untung Pak Kemal orangnya baik walau duda. Cakep lagi. Tetapi kenapa ya, Pak Kemal ke Manado aja kok Ibu curiga, ‘kan biasanya sebulan sekali beliau pergi ke luar kota. Ya Medan, ya Ujung Pandang, ya Surabaya, ya Denpasar, malah kadang ke luar negeri juga.

Setelah tiga perempat isi koran dilahapnya, Elsa bangkit dari kursi makan dan siap-siap untuk mandi. Di depan cermin besar di lorong yang menuju ke kamar mandi, Elsa berdiri sejenak. Seperti biasa, ia menyikat rambutnya yang sepanjang bahu dan agak ikal. Dilihatnya Inah sedang bersiap membersihkan cermin dengan cairan pembersih.

“Sebentar ya, Nah, aku nyisir di sini dulu.”

“Ya, Bu, nggak pa-pa. Eh, Ibu rambutnya masih bagus, ya. Mana tebal, hitam lagi. Orang lain seumur Ibu mungkin sudah beruban.”

“Sebentar lagi Nah, ‘kali. Biasanya umur berapa sih timbul uban. Aku ‘kan sudah tiga puluh delapan. Idih ... tua ya Nah, mana belum kawin ....”

“Eh ... Ibu nih ... nggak boleh merasa tua. Ibu ‘kan kelihatannya baru tiga puluh. Benar lho Bu, Ibu awet muda karena suka olahraga. Ibu langsing dan kulitnya masih bagus, lagipula ... hm ... sebentar lagi ‘kan sepertinya Ibu mau menikah ya ....”

“Maunya begitu, Nah. Nggak apa-apa ‘kan dapat duda, habis umur sudah segini mana ada perjaka yang mau ya, Nah?”

“Lho dudanya ‘kan baik to, Bu. Orangnya halus, penuh perhatian, dan ganteng lagi ....”

“Iya sih ....”

“Rencananya kapan, Bu?”

“Maunya Januari tahun depan. Ya tidak ramai-ramai Nah, malu .... Di kantor Catatan Sipil saja, lalu sedikit selamatan di rumah Ayah-Ibu. Sudah.”

“Tanggal berapa, Bu?”

“Belum ada kepastian ... kira-kira tanggal dua puluhan gitu .... Kenapa, Nah?”

“Eh ... nggak, saya ‘kan juga perlu bikin kebaya baru, Bu. Itu ‘kan hari istimewa Ibu ....”

“O ... jangan khawatir, Nah, aku belikan kamu dua setel kebaya baru. Warna merah dan kuning ya, kesukaanmu.”

Senin 16 Desember ‘91

Pukul dua belas sebelum istirahat makan siang, Kemal menelepon dari Manado. Belum bisa pulang Selasa besok, mungkin baru Jumat atau Sabtu. Huh ... kesal juga. Ada apa sih lama-lama di sana?”

Kamis 19 Desember ‘91

Nina bekas sahabatku di SMA ke rumah, sore sehabis mengantar anaknya les. Dia bilang gembira akhirnya aku akan menikah. Terus terang kuceritakan padanya kekhawatiranku Kemal ke Manado dan pulangnya diundur. 

Nina cuma tertawa. Katanya khawatir itu tanda cinta dan kecemburuanku pada eks istrinya tak beralasan. Toh ia sudah menikah lagi.

Jumat 20 Desember ‘91

Kemal muncul pukul sembilan malam, langsung dari airport. Walaupun kelihatan lelah, nampak juga ia tidak bisa menyembunyikan rasa kangennya. Ah, bahagianya aku .... Kebahagiaan yang pernah kurasakan waktu tingkat satu dulu, sebelum putus dengan Coki.


Sabtu 21 Desember ‘91

Sejak sore aku menyiapkan diri buat malam Minggu. Bangun tidur pukul 3 siang, aku mengganti cat kuku. Sambil menunggu kering, kunyalakan teve. 

Persis pukul setengah enam, Kemal sudah muncul di depan pintu, pas aku selesai nge-blow rambut.

Di Pizzaria Elsa menikmati lasagna kopi. Matanya sebentar-bentar hinggap ke tangan Kemal yang ditumpangkan di atas jemari kirinya, seolah tidak rela melepas tangan Elsa dari atas meja.

“Lagi nervous?” tanya Elsa tiba-tiba.

Kemal tersentak. “Hm ... begini Elsa, bisa nggak ya, kita majukan saja hari pernikahan kita?” tanya Kemal tiba-tiba dengan suara cukup keras. Maklum lengkingan penyanyi Filipina mendominasi seluruh area Pizzaria.

“Apa?” tanya Elsa, setengah berteriak juga. Ada rasa terkejut dan tak percaya akan apa yang baru saja didengarnya. Walaupun begitu ada juga rasa lega yang luar biasa. Jadi apa yang dikhawatirkannya selama ini--bahwa dia akan menemui dan rujuk kembali dengan eks istrinya--ternyata tidak benar.

“Kita selesaikan saja yuk makannya, kita ngobrol di rumah saja,” ajak Kemal. “Di sini berisik sekali.”

Setiba di rumah Elsa, belum sampai Kemal meletakkan pantatnya di kursi, Elsa memburunya dengan pertanyaan, yang telah berjubel di kepalanya sejak di dalam mobil. “Kenapa dimajukan? Kamu takut berubah pikiran?” suaranya penuh nada menyelidik.

“Bukan begitu, justru kupikir kenapa kita tunggu sampai pertengahan atau akhir Januari, kalau sekarang pun kita sudah siap? Dengar Elsa, aku sudah empat puluh enam dan kau tiga puluh delapan. Kita sudah sama-sama tua, tidak bergantung pada orang tua lagi. Lagipula kita ‘kan sudah sepakat untuk melaksanakannya sesederhana mungkin. Asal sudah resmi, sudahlah. Tidak akan ada pesta. Kenapa nggak lebih cepat aja?”

“Tunggu dulu ... atas saran siapa ini?” tanya Elsa.

“Terus terang saja, aku ketemu Meiske, bekas istriku, di Manado tempo hari. Aku bilang bahwa aku mau kawin. Kuperlihatkan juga fotomu. Dia bilang, kamu cantik dan aku beruntung dapat calon seperti kamu. Dia yang mengusulkan kenapa tidak lebih cepat aja. Terus kupikir-pikir, benar juga usulannya. Setuju ‘kan kamu?”

“Tunggu dulu ah ... lebih cepat tuh kapan?” tanya Elsa bingung.

“Terserah kamulah. Besok? Minggu depan? Pokoknya aku siap setiap saat,” jawab Kemal dengan menadahkan kedua tangannya ke atas sambil mengerjapkan sebelah matanya. Elsa tahu benar di saat Elsa bingung, Kemal selalu memperagakan bahasa tubuh yang menjengkelkan.

“Gini deh, aku pikirkan dulu malam ini, ya,” sahut Elsa akhirnya.

Malamnya Elsa mencari-cari tanggal yang terbaik untuk hari istimewanya. Yang menjadi pikiran utamanya bukan baju pengantinnya, melainkan bahan kebaya untuk Inah yang belum dibelinya. Lalu kapan ia bisa membelikan untuk Inah?

Keesokan harinya, pukul setengah enam Elsa telah ke luar kamar, membuat kopi sendiri dan langsung mandi. Inah yang baru selesai menyapu halaman heran. Kok Ibu bangun sepagi ini hari Minggu? Jangan-jangan ....

Diketoknya pintu kamar mandi keras-keras, “Bu! Ibu!”

“Ada apa Nah?” sahut Elsa kaget sambil membuka pintu sedikit dan melongokkan kepalanya.

“Eh, enggak ... ngapain Ibu mandi pagi-pagi begini? Saya kira ada apa-apa ...” sahutnya gugup dan malu.

“Ah, kamu! Gangguin orang lagi melamun! Sana bikin sarapan. Bentar lagi ikut aku ke luar.”

Di meja makan, Elsa menyuapkan makanan dengan terburu-buru. Mulutnya yang menerima makanan harus bekerja keras membagi waktu dengan mengeluarkan kalimat untuk Inah.

“Begini Nah, kamu ganti baju terus ikut aku. Rumah dikunci aja, mungkin kita pergi sampai sore.”
“Ke mana, Bu? Ke pasar? Belanja?”

“Enggak, sudahlah kamu ikut aja, jangan banyak tanya.”

Minggu pagi itu Elsa berkeliling berdua dengan Inah. Pertama ke rumah ayah-ibu Elsa untuk memberitahukan bahwa Elsa ingin mengajukan tanggal pernikahannya. Lalu ke toko kain dan memilih dua buah kain untuk kebaya Inah, dari situ mereka ke tukang jahit Elsa.

“Turun Nah, biar diukur,” kata Elsa.

Inah ragu-ragu membuka pintu mobil. Ini ‘kan penjahit Ibu yang mahalnya minta ampun itu, katanya dalam hati.

Elsa menggedor pintu rumah yang masih tertutup rapat. Tante penjahit yang agak gemuk dan kelihatan benar belum tersentuh air sepagi itu membukakan pintu dengan agak segan.

“Tumben Elsa, datang pagi-pagi?” tanyanya tak begitu ramah.

“Tante, ini saya bawa Inah. Tolong buatkan dua kebaya. Tante ukur deh sekarang. Terus ... kapan bisa jadi?”

“Jangan cepat-cepat dong. Tante ‘kan banyak kerjaan. Kebaya kamu juga masih tiga di sini.”

“Gini deh, Tante, kebaya saya satu aja, tetapi Inah mesti dua-duanya selesai. Kali ini saya mau cepat, karena saya mesti menentukan tanggal pernikahan saya berdasarkan selesainya kebaya kami berdua ini.”

“Astagafirullah!”

“Bisa ‘kan, Tante?” tanya Elsa memelas.

“Kamu mau menikah kapan?”

“Saya pinginnya tanggal 31 Desember pas Old & New. Biar kami melupakan segala yang lewat dan melangkah ke hidup baru,” jawab Elsa dengan senyum lebar.

“Ya okelah. Tante kebut kalau begitu.”

Minggu 22 Desember ‘91

Aku terharu sekali bisa membuat Inah gembira. Kulihat matanya berlinang-linang ketika Tante penjahit mengukur tubuhnya. Tentu terpikir olehnya ongkos jahit yang pernah ditanyakannya padaku tempo hari. (Aku juga ingat ia menggeleng-gelengkan kepalanya enam atau tujuh kali, mendengar aku menyebut angka empat puluh).

Aku puas bisa mengajaknya serta dalam kegembiraan yang akan kusongsong di akhir tahun. Sudah delapan tahun ia menemaniku, mendengarkan omelanku bila aku senewen, caci-makiku bila aku kesal di kantor atau keluh kesahku waktu aku sakit.

Rabu 1 Januari ‘92

Pukul setengah tujuh pagi aku sudah selesai dirias. Memakai kebaya dan kain hanya butuh waktu tak lebih dari sepuluh menit. Ibu perias masih punya waktu dua pukul kurang sepuluh menit sebab kami akan berangkat ke rumah Ayah-Ibu pada pukul setengah sembilan. Ketika beliau kuminta untuk membantu Inah berdandan, beliau tidak keberatan sama sekali. Dan Inah tampil manis sekali dengan kebaya hijau pupus dan kain kawung. Melihat bintang-bintang yang berlarian di matanya, aku terharu .... [f]

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Threes Emir
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Femina" edisi No. 1/XX 2 - 8 Januari 1992

0 Response to "Elsa dan Inah"