Epitaf Ikarus - Logika Amphora - Bejana Hermes | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Epitaf Ikarus - Logika Amphora - Bejana Hermes Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:51 Rating: 4,5

Epitaf Ikarus - Logika Amphora - Bejana Hermes

Epitaf Ikarus

Selengkung jalan di tepi detak jam
dinding, jeda yang menjelma lubang
di samping wajah lesi itu, keheningan
jejak karbon menembus tirai angkasa;
dan apa pun yang lesap dari lubang itu
menjelma heksadron kosong, kartografi
awan-awan hijau pada seraut topeng
arkaik yang melekat di kulit wajahmu,
di luar waktu, juga jutaan wajah lainnya,
sedingin pecahan es di dasar gelas kristal;
kini mereka melompat, menyanyikan
gelombang pikiran baru: kebahagiaan
monokromatik, lonceng di dalam batu, 
denting biru luka-lukamu; dan larik-larik
sajak luput dibaca diam-diam gemetar
dalam perpustakaan tua itu, lalu kau pergi
menyalin kisah lain pada halaman buku
kehidupan yang tak selesai kautuliskan,
dan kini, di tengah badai itu, pelan-pelan
setiap kata mulai merentangkan sepasang
sayap hitamnya, bersiap menerbangkan
mimpi-mimpimu, meski langit tak lagi di situ.

Logika Amphora

1
Di akhir labirin, benang sutra itu
Menjelma angin dan, di depan cermin,
Ariadne tertawa - semua hanyalah dusta

2
Setelah terakota hanya batuan
Magma, pasir silika, plus bara api --
Sekarang, penafsir buta itu bisa kembali
Membakar mimpinya di kawah Vesuvius.

3
Kau tak memiliki apapun
Para dewa keranjingan menculik
Menjelang pagi, embun turun --
Satu kota telah menjelma tungku keramik

4
Kau emmang tak sempat melihat
Perahu antik itu berlayar di angkasa --
Kau sekadar membayangkan sepasang 
Sayap Ikarus terbakar di jantung nebula.

5
Cukup, Sokrates. Tutup mulutmu, buang racun itu!


Bejana Hermes

Ia, lelaki penafsir itu, tertawa
Setelah mencuri domba, memotong
Dan emnguntai ususnya - demi
Dawai lira - sebelum cemas pun
Terjaga dan menghapus setiap tanda.
Namun, menjelang tengah malam itu
Masih juga tersisa jeda pada alun
Musik dalam cangkang kura-kura
Sebelum ia teringat warna kelam
Pada bahu, juga jurang di bawah kakinya.
Hanya mereka terlanjur mencatatnya
Sebagai lelaki dengan sepasang sepatu
Bersayap, ketika rintik hujan kembali luruh
Bersama separuh tafsir dalam kitab yang lain
Atau semacam aforisma, sebuah cara
Untuk lari, dan kau bisa menyebutnya
Wabi-sabi pada sebuah cawan retak
Yang direkatkan kembali dengan lelehan
Emas atau hanya batuk-batukmu dini hari.

Ia, dewa penafsir itu, menoleh sebentar
Hanya agar dapat melihat takdirnya yang lain.
Di sana, selepas kelahiran, sebagai pencuri
Sebuah tafsir atau sepotong sajak yang dingin
Dan ia mulai berpikir, mungkin semua ini
Mesti berakhir, tak ada yang sempurna kecuali
Sebuah karakter yang rudin dalam selarik
Sajak yang menolak selesai, atau dikutuk
Selepas abai, merelakan semacam rasa haru
Diam-diam hinggap di tangkai pohon buah tin itu,
Di sana, di sisi yang dingin, dalam kitabmu yang lain.

Ia, tabula hijau itu, terkubur
Dalam sebuah gua, ketika juru bisik yang bau
Menyaru sebagai angin, atau mata panah
Yang patah melukai kaki kijang di balik rimbun
Semak, atau mungkin hanya seuntai sajak.
Dan lelaki dalam bait pertama mulai tergerak
Menafsir sebaris pesan dari dewa yang membisu
Dan melepas topinya, tanpa sepasang sayap,
Dalam larik di stanza kedua, tetapi memang
Ia tak dapat melihatnya, pembawa pesanmu itu
Tak ada di sana, tak ada api, tak ada hutan hujan
Atau rawa yang terbakar atau suara-suara aneh
Di dalam lubang tua itu, ia memejamkan matanya
Dan gemetar mendengar sisa kabar yang sedih
Atau selarat ingkar yang pulih, jauh di dasar jiwanya.




Ahmad Yulden Erwin lahir di Bandar Lampung, 15 Juli 1972. Ia telah menerbitkan kumpulan puisi Perawi Tanpa Rumah (2013) dan Sabda Ruang (2015).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahmad Yulden Erwin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Sabtu 17 Desember 2016


0 Response to "Epitaf Ikarus - Logika Amphora - Bejana Hermes"