Gadis Kecil dan Lolipop | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Gadis Kecil dan Lolipop Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:44 Rating: 4,5

Gadis Kecil dan Lolipop

GADIS kecil itu berdiri di muka pagar rumahnya, tangannya yang mungil menggenggam sebatang lolipop berbentuk hati dengan pita kecil yang mengilap dan sebuah kertas yang tampak terikat di pangkal batang. Permen itu hanya digenggamnya erat-erat. Sementara pagar rumah itu masih tergembok. Gadis kecil itu telah mengetuk gembok itu beberapa kali, namun tak ada sahutan dari dalam. Ia tampak gusar dan putus asa.

Beberapa jenak kemudian, seorang wanita ceking dengan piama biru muda membuka pintu depan dan berdiri di teras. Ia berteriak pada gadis kecil itu, “Apa yang Mama katakan tentang pulang terlambat? Bukankah kau sudah berjanji akan pulang tepat waktu, seharusnya kau sudah sampai rumah pukul setengah empat tadi. Sekarang sudah pukul berapa? Sudah hampir pukul lima. Kau pasti main-main dulu tadi ….”

Gadis kecil itu melambai-lambaikan lolipopnya, namun perempuan itu seperti tidak menggubris, ia malah memekik, “Sebagai hukumannya, Mama tidak akan membukakan pagar langit gelap nanti, tetaplah di situ dan renungkan kesalahanmu.”

Perempuan itu kembali masuk dan menutup pintu depan. Gadis kecil itu menghela napas, ia terduduk sedih dan bersimpuh menyandarkan tubuhnya di pagar. Ia kembali menekuni lolipopnya dan memutar-mutarnya. Sementara langit begitu gelap dan mencemaskan. Suara guruh sesekali terdengar. Aku menutup pintu dan jendela. Sementara korden kubiarkan tetap terbuka. Aku masih ingin mengamati gadis kecil itu dari balik jendela kaca.

Setiap berangkat sekolah di pagi hari, gadis kecil itu tidak pernah diantar oleh ibunya, meski hanya sampai pagar depan rumah. Ia selalu berangkat sendiri. Selepas menutup pagar, ia itu akan berjalan setengah berlari menuju ujung gang. Di sana ia akan menunggu angkot yang akan membawanya ke sekolah. Kami pernah berpapasan dalam satu angkot, namun ia tak peduli. Pada hari Rabu dan hari Sabtu—seperti hari ini, ia pulang pukul tiga atau empat sore. Mungkin ada pelajaran tambahan di sekolahnya. Dan ibunya juga tak pernah menjemputnya. Ia akan pulang sendiri dengan angkot yang sama dan berjalan dari ujung gang sampai ke depan pagar rumahnya.

Gerimis pun mulai turun. Gadis kecil itu mendongak menatap langit, lantas ia berdiri dan mengitarkan pandangan putus asa ke dalam rumahnya. Ibunya tidak juga muncul dari balik pintu. Titik gerimis mulai membasahi bajunya. Ia segera memeluk lolipopnya erat-erat. Seolah tak rela benda itu basah. Hujan mulai mengguyur dan terus mengguyur. Dan aku hanya terdiam di balik kaca jendela, menjadi penonton setia: seorang gadis kecil yang kedinginan di depan pagar rumahnya. 

Mendadak aku merasa iba dan kurang manusiawi. Maka, entah siapa yang menyuruhku, tiba-tiba aku mengambil payung, membuka pintu dan pagar, menyeberangi jalan kecil yang memisahkan rumah kami. Aku meminta gadis kecil itu berteduh di teras rumahku. Tapi gadis kecil itu menolak. Ia memeluk lolipopnya lebih erat lagi. Raut wajahnya menyiratkan takut yang sangat. Karena tak bisa memaksanya dan tak ingin membuatnya takut, aku pun balik ke rumah dan kembali berdiam mengawasinya dari balik jendela, seperti semula.

Beberapa saat setelah aku masuk rumah, ibunya muncul dari balik pintu. Ia membuka gembok dan menarik tangan gadis kecil itu masuk sebelum menutup pagar. Lolipop yang digenggam gadis kecil itu terjatuh dan ditimpa guyuran hujan. Gadis kecil itu berontak, ingin berusaha mengambil lolipopnya. Namun tangan ibunya terus menyeretnya masuk. Pintu depan ditutup dengan kasar. Sejurus kemudian, dari dalam rumah itu terdengar suara jeritan yang disusul tangisan panjang, suaranya sayup-sayup ditelan gemuruh hujan. Sesekali jeritan itu terdengar serak dan melengking, menciptakan fluktuasi yang mengerikan di hari hujan.

Sebenarnya jeritan dan tangisan serupa itu bukanlah hal baru. Pada hari-hari lain, aku pun sering mendengar jeritan dan tangisan serupa itu. Jeritan yang membuat siapa pun yang mendengarnya menjadi cemas. Namun, seperti juga para tetangga di kanan-kiri rumah kami, aku tak pernah ingin tahu lebih banyak tentang mereka, meski suara-suara tangisan itu terkadang sedikit mengganggu. Aku tak pernah berniat mencampuri urusan keluarga lain. Namun entah mengapa, hari ini aku begitu mencemaskan gadis kecil itu, cemas yang tidak seperti biasanya, hingga aku tercenung lama di depan kaca jendela, menajamkan telinga untuk memastikan bahwa jeritan dan tangisan itu sudah berhenti.

Hari telah menjadi gelap dan hujan telah sempurna reda. Rumah di seberang menjadi sangat hening, namun lampu di teras tidak juga dinyalakan. Sekitar pukul sepuluh malam, aku mendengar derit pagar digeser. Serat dan nyaring. Aku menengok dari balik jendela. Lampu teras rumah di seberang sudah dinyalakan. Dan perempuan ceking di sana tampak terburu-buru. Ia mengeluarkan sepeda motor dan menyangking dua tas besar. Terasa aneh, karena gadis kecil itu tidak kelihatan sama sekali. Perempuan itu berjibaku dengan tasnya sebelum menyalakan sepeda motornya yang terdengar ribut. Setelah tas-tas itu ditata dengan rapi, motor itu pun segera melaju. Suara derumannya menghilang di kejauhan. Dan rumah di seberang mendadak tampak begitu pucat dan menggigil.

Esok paginya, sekitar pukul delapan, rumah itu masih terlihat sepi dan lampu terasnya masih menyala. Pada minggu-minggu biasa, jam segini, gadis kecil itu pasti sudah berjibaku menyiram bunga di depan rumah. Namun kali ini tampak sepi. Sepi yang berbeda.

Karena curiga, aku mencoba mengetuk pagar yang ternyata tidak terkunci itu. Aku masuk dan memencet bel. Tidak ada jawaban. Aku coba mengetuk pintu. Sama, tidak ada jawaban. Aku mengetuknya lagi beberapa kali dan masih sepi. Aku coba mengintip dari balik jendela. Dan dari balik korden putih bening yang merumbai di dalam, aku melihat tubuh gadis kecil itu tergeletak miring. Seperti tertidur tanpa bantal. Matanya terbuka. Namun ia tak bergerak. Rambutnya sedikit berantakan. Aku mengetuk pintu lebih keras lagi. Gadis kecil itu masih pada posisi yang sama. Aku menggebrak-gebrak pintu dan jendela. Sampai para tetangga keluar dan bertanya-tanya. Kuceritakan pada mereka apa yang kudengar dan kulihat semalam. Juga apa yang barusan kulihat di dalam sana. Lantas salah seorang dari mereka menelepon polisi. Dan gadis kecil itu ditemukan sudah tidak bernyawa. Tiba-tiba aku merasa sangat bersalah.

Polisi segera memasang garis kuning di pagar-pagar rumah itu dan menggiring kerumunan orang-orang untuk pergi. Sebelum kami semua pergi meninggalkan rumah itu, aku sempat memungut lolipop yang dijatuhkan gadis kecil itu di depan pagarnya kemarin sore—yang sudah rusak dan retak-retak. Di batang lolipop itu tergantung sebuah kertas mungil dengan tulisan tangan yang kurang rapi dan nyaris tak terbaca karena telah rusak. Aku mencoba mengejanya: BUAT MAMA, SELAMAT ULANG TAHUN.***

(N) MALANG, 2014

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mashdar Zainal 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tabloid Nova" edisi 1379/XXVII 28 Juli – 3 Agustus 2014

0 Response to "Gadis Kecil dan Lolipop"