Guci | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Guci Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:23 Rating: 4,5

Guci

Wiwid tidak habis mengerti, mengapa mertuanya memberikan guci itu kepadanya. Bukan kepada Mbak Muti atau Tries atau menantunya yang lain. Guci itu diletakkan Wiwid tepat di tengah ruang tamunya yang mungil, setelah ia tidak tahu mau ditaruh di mana lagi. Benda itu terlalu besar untuk diletakkan di lemari tetapi terlalu kecil bila ditaruh di sudut. Lagi pula, bentuknya begitu aneh: pendek gendut, bulatan-bulatan timbul seperti anggur (di mata Wiwid seperti kutil) memenuhi seluruh permukaannya. Dan ada dua buah gagang pada masing-masing tepinya yang dipenuhi ukiran wajah-wajah makhluk aneh, kadang membuat Wiwid bergidik bila agak lama memandangnya!

Mertuanya tiba-tiba saja mengirimkan benda itu kepadanya lewat sopir. “Oleh-oleh dari Purwakarta,” begitu pesannya di secarik kertas. Wiwid yang menata rumahnya dengan penuh selera merasa tak punya tempat untuk guci itu. Karena bingung tak tahu di mana harus meletakkan guci itu, Wiwid sempat berpikir untuk membuang atau menjual saja benda itu pada tukang loak. Tapi, niat itu hanya sedetik hinggap di kepalanya. Ia tahu, mertuanya pasti akan menanyakan hadiah istimewanya itu bila ia berkunjung ke sini. Dan Wiwid bisa membayangkan betapa marahnya beliau bila tidak menemukan guci itu. Apalagi sejak awal mereka memang tidak cocok. Ada saja cacat Wiwid di matanya. Mulai dari cara berdandan, bekerja, bahkan latar belakang pendidikan Wiwid yang seni rupa. Mertuanya mengira bahwa seniman itu semuanya jorok dan tidak tahu aturan. Tentu saja ia tidak peduli bahwa foto-foto hasil jepretan Wiwid pernah mendapatkan medali emas. Atau, rumah Wiwid pernah difoto dan fotonya dimuat dalam rubrik griya di suatu majalah karena keunikannya.

Bagi mertuanya, yang terpenting di dunia adalah bahwa kemeja Pri tersetrika rapi, sepatunya dilap sampai mengilat dan setiap hari selalu ada makanan hangat di meja. Benar-benar tradisional. 

Sepanjang hari di kantor, kepala Wiwd hanya dipenuhi masalah guci itu. Ia terus memikirkan cara yang tepat untuk menyingkirkannya, tanpa menyinggung perasaan mertuanya maupun Pri. Wiwid menatap tumpukan slide di meja serta jadwal tenggat yang mesti dipenuinya. Melihat semua itu, sekonyong-konyong ia naik pitam. Belum cukup repotkah ia sehingga masih juga digerecoki urusan guci mengerikan itu?

Bunyi dering telepon membuat Wiwid terlonjak.

“Halo!” teriaknya spontan. Suara Pri di seberang sana terdengar kaget.

“Astaga, Wid. Kau sedang sakit gigi atau apa?”

Wiwid langsung menyesal.

“Ah, nggak. Aku cuma sedang kesal, banyak pekerjaan dan waktunya sudah semakin sempit,” katanya dengan nada meminta maaf. “Ada apa, Mas?”

“Aku sudah menemukan tukang memperbaiki atap itu. Dia juga bisa memasang kertas dinding. Kau mau kamar bayi ditutup dengan kertas dinding, ‘kan?”

Tiba-tiba saja kekesalan di dada Wiwid lenyap seketika digantikan rasa hangat yang nyaman. Matanya tersenyum menatap ke bawah, ke perutnya yang mulai membuncit di balik blus. 
“O, ya bagus sekali. Berapa bayarannya, Mas?”

“Tak penting itu. Katakan saja, kapan kau mau dia memulai pekerjaannya?”

Selagi menimbang-nimbang bersama Pri kapan kiranya mereka akan mulai mendandani bilik mungil di rumah menjadi kamar bayi yang manis, mendadak saja Wiwid mendapat ide tentang guci itu. Hatinya terasa lega.

Seminggu kemudian, tukang yang hendak merombak kamar protes. Ia merasa guci besar itu menghalangi pekerjaannya.

“Kagok, Bu. Saya tak bisa membongkar dinding yang ke ruangan utama. Lebih baik gucinya dipindahkan saja,” usulnya.

“Jangan. Guci itu hadiah dari mertua saya. Saya tak mau benda itu sampai rusak,” balas Wiwid.

Sang tukang menggaruk-garuk kepalanya putus asa. “Tapi, Bu, kalau terus di situ nanti tersenggol tangga, kena adonan semen, atau tertimpa pecahan dinding.”

“Pokoknya saya takmau guci itu dipindahkan. Biar saja di situ,” tegasnya.

Selama dua minggu penuh Wiwid memperhatikan pekerjaan si tukang. Setiap kali terdengar bunyi dentaman palu, hati Wiwid ikut berdebar penuh harap. Hampir setiap lima belas menit sekali Wiwid menjenguk ke kamar dan berseru, “Hati-hati guci saya!” Si tukang tembok dan asistennya terheran-heran. Bila guci itu memang demikian berharga, mengapa tidak disimpan saja di tempat yang aman?
Pekerjaan membongkar dinding dan mendandani kamar selesai juga akhirnya. Tapi, bukannya senang, Wiwid malah kecewa berat. Masalahnya, guci itu masih berdiri gagah di tempatnya, tak tergores sedikit pun.

Wiwid tak tahu lagi mesti berbuat apa. Dia masih memandangi guci itu ketika terdengar seseorang menyerukan namanya di pintu dapur. Ternyata Heni Triono, tetangganya sebelah rumah. Ia baru menikah dan kesukaannya bertandang untuk mengobrol. Suaminya bekerja pada suatu perusahaan infrastruktur telekomunikasi milik keluarga. Yono selalu pergi pagi-pagi sekali dan pulang selepas senja. Akibatnya, istrinya yang tidak bekerja, senang berkunjung ke tetangga untuk melepaskan sunyi.

“Mbak Wiwid, sedang apa?” sapa Heni cerah. Diacungkannya majalah yang dipinjamnya seminggu lalu. “Ini, lho, majalahnya. Terima kasih. Artikelnya bagus-bagus, ya?” Lalu mata wanita itu tertumbuk pada guci yang diletakkan Wiwid di tengah meja makan.

“Wah, guci baru, ya, Mbak? Dapat dari mana? Bagus sekali!” ujarnya antusias. Tangannya dengan lembut menyentuh guci itu. Wiwid mengangkat bahu.

“Sebetulnya terlalu besar untuk di ruang tamu.”

“Apanya yang terlalu besar? Justru manis sekali, Mbak. Di atas meja seperti ini juga bagus.”

Wiwid melirik Heni. Ia tampaknya begitu berminat pada guci itu. Mendadak saja Wiwid mendapat ide.

“Hmm apa betul guci ini cukup bagus untuk ditaruh di sini, Hen?” Heni mengangguk-angguk yakin.

“Iya, baguuus sekali. Apalagi kalau diisi dengan bunga porselen warna-warni,” sahutnya.

“Uh … aku tak punya bunga porselen. Jadi, agaknya guci ini terpaksa kusimpan saja di gudang. Sayang sebetulnya. Tapi, mau bagaimana lagi?” ujar Wiwid, berkacak pinggang dan menghela napas, seolah menyesali sesuatu yang tak dapat diubah lagi. Heni terbeliak.

“Aduh, jangan ditaruh di gudang, Mbak! Sayang, dong, guci semanis ini disembunyikan di gudang yang gelap! Lebih baik buat saya sajalah!” serunya. Wiwid menatap Heni, bibirnya tertarik menyembunyikan senyum. Reaksi Heni tepat seperti yang diinginkannya.

Wiwid pura-pura ragu. Dielusnya guci itu dengan sikap menyayang. “Atau dijadikan jambangan bunga segar saja, ya?”

“Jangan, Mbak, takkan cocok. Lebih cocok untuk bunga porselen,” tukas Heni buru-buru.

“Ya, tapi aku tak suka bunga porselen ….”

“Kalau begitu bagaimana kalau guci ini untukku saja, Mbak. Aku janji akan merawatnya.”

“Mm ….”

“Ya, Mbak? Biarlah buatku. Mbak Wid masih bisa melihatnya di rumahku, kalau Mbak kangen,” bujuk Heni sekali lagi. Wiwid menelengkan kepala, menggigit bibir.

“Yah … kalau kau begitu ingin,” katanya.

Heni terpekik senang.

“Aduh! Terima kasih, Mbak! Terima kasih!” Diambilnya guci itu, dipeluknya seperti memeluk bayi. 

“Boleh kubawa sekarang, Mbak?”

“Ya, bawalah.” Wiwid mengantarkan Heni sampai ke pintu. “Hen, hati-hati ya.”

“Iya Mbak, tenang sajalah!” seru Heni sumringah. Wiwid memandangi Heni yang menggendong guci hingga ia menghilang di balik pagar tembok. Begitu Heni lenyap, seketika itu juga Wiwid melonjak kegirangan. Ia merasa lega sudah lepas dari guci mengerikan itu. Kalau mertuanya menanyakan, ia bisa mengatakan bahwa Heni sangat mengagumi keindahannya dan ia tak tega menolak ketika Heni memintanya. 

Tetapi, kelegaan Wiwid tak lama umurnya. Ia baru saja hendak mempersiapkan makan malam untuk Pri ketika Heni kembali, dengan guci itu di tangannya. Tanpa basa-basi disodorkannya guci itu ke tangan Wiwid.

“Ini, Mbak. Kukembalikan gucinya,” katanya lesu.

“Lho, kenapa? Kau suka guci ini, kan?”

“Tidak, Mbak. Aku tak bisa menerimanya,” jawabnya.

“Kenapa?”

“Mas Yono bilang guci itu pemberian ibu mertua Mbak Wid, tak pantas aku memintanya pada Mbak. Karena, pasti guci itu besar sekali artinya buat Mbak Wiwid.”

“Tapi Hen, tidak apa-apa, kok, sungguh. Aku ikhlas memberikannya padamu!”

“Tidak Mbak, jangan. Mbak begitu baik hati, mau memberikannya padaku, tetapi aku tak boleh egois. Guci itu tanda kasih sayang mertua Mbak Wid, di rumah inilah tempatnya yang paling sesuai.” Heni membalik, hendak pulang. “Maaf, ya, Mbak, aku sudah merepotkan Mbak Wid.”

“Hen …!”

Wiwid terduduk putus asa, guci itu ada di hadapannya lagi. Dengan sebal ditentengnya guci itu ke dapur, dijejalkan dalam kabinet di bawah bak cuci.

“Tinggallah di situ. Kalau sewaktu-waktu Ibu datang, kau bisa kukeluarkan dan kupajang kembali.” Dengan geram Wiwid membanting pintu kabinet itu. Sekilas didengarnya suara berderik, tetapi tak dihiraukannya. Pintu lemari itu dikuncinya dua kali.

Malam itu Pri pulang dengan wajah tertunduk lesu.

“Cepat ganti baju, Wid. Kita menengok Ibu,” ujar Pri sebelum Wiwid sempat bertanya apa-apa.

“Ibu?” Wiwid tercengang. Wiwid tahu mertuanya sudah tiga atau empat hari ini merasa tak enak badan, tetapi beliau memang sering sakit kepala dan biasanya akan sembuh sendiri. Wiwid mengira kali ini pun akan demikian.

“Mas memangnya ada apa?”

“Ibu pingsan tadi sore. Mas Pras yang bilang. Sekarang Ibu sudah sadar, tapi ingin ketemu aku dan kau,” sahut Pri dengan suara tertahan. “Cepat Wid, perjalanan kita cukup jauh.”

“Ya ya, Mas.” Akhirnya Wiwid hanya mengenakan jas sekadar melapisi dasternya.

Sepanjang jalan menuju Bogor, Pri tak banyak berbicara. Rahangnya terkatup rapat, bibirnya memucat. Wiwid tak berani mengganggunya. Pri memang sabar, tetapi ia bisa meledak macam mercon bila merasa terganggu, lebih-lebih dalam keadaan tegang begini.

Sampai di depan rumah tua berpilar banyak itu Pri cepat-cepat memarkir mobilnya. Tanpa menunggu Wiwid ia buru-buru menghambur masuk ke rumah.

“Bagaimana Ibu, Mas?” tanya Pri cemas. Pras tersenyum lesu.

“Sudah lebih baik. Ayolah, masuk. Dari tadi Ibu menanyakan kalian. Terutama kamu, Wid.”

“Aku?”

Wiwid tak sempat tercengang. Ia terpaksa setengah berlari mengikuti Pri yang menarik tangannya, bergegas menuju kamar tidur utama. Kamar berlangit-langit tinggi itu penuh orang. Ayah dan keempat abang Pri ada di situ bersama istri masing-masing, demikian juga si bungsu Nindya yang masih kuliah. Ayah Pri bersila di samping istrinya yang terbaring di ranjang dibungkus selimut tebal.

“Ah. Ini Pri,” kata Pram, abang Pri yang berdinas di Angkatan Darat. “Sini, Pri, dekat-dekat sini.”

Pri menurut, menyeret Wiwid di belakangnya. Wiwid kaget setengah mati saat melihat wajah mertua perempuannya. Wajah bulat telur yang jelas menyiratkan kecantikan di masa muda itu pucat sekali. Matanya yang terpejam tak dapat menyembunyikan kantong hitam yang menggayut. Tiba-tiba Ibu membuka mata.

“Pri,” suaranya lirih, “mana Wiwid?”

Tanpa berkata apa-apa Pri mendorong Wiwid ke depan.

“Bu,” panggil Wiwid. Sekali lagi ia terkejut, karena mertuanya tiba-tiba menggenggam tangannya. Sikap mesra yang belum pernah diperlihatkan wanita itu selama ini.

“Ah, Nduk. Anakku ayu,” katanya. “Sudah kau terima guci yang Ibu beli? Kau suka?”

Wiwid tergagap, tetapi mertuanya sudah berbicara lagi.

“Aku tahu kau akan suka. Di antara kalian semua, memang cuma kau yang mengerti seni. Karena itu, kubeli guci itu untukmu.” Bibir kering yang mengeriput itu merekah, tersenyum. “Waktuku tak banyak, Nak. Ke sinilah, Ibu beri tahu kau suatu rahasia.”

Wiwid mendekatkan kepalanya, mengikuti tarikan ibu mertuanya.

“Dulu aku ingin sekali menjadi seniman,” bisiknya lirih, tapi membuat mata Wiwid terbelalak.

“Waktu umurku tujuh belas, ada seorang pelukis yang tinggal di paviliun rumah kami di Gowongan. Sehari-hari ia melukis ayam yang berkeliaran di bawah pohon sawo kecil, atau mengukir tupai-tupai kecil yang lucu. Kadang-kadang ia meminjamiku kuas dan mengajariku melukis. Siapa, ya, nama pelukis itu aku tak ingat lagi. Tapi, aku ingat bunyi semua sajak yang pernah ditulisnya untukku. Ngomong-ngomong pelukis itu tampan sekali.” Ibu tersenyum menatap Wiwid. Wiwid tak tahu harus berkata apa.

“Ayahku tak suka aku berkawan terlalu akrab dengannya, apalagi waktu Bapak mendengar keinginanku untuk belajar menjadi seniman. Bapak marah besar. Menurutnya, tak ada gunanya mempelajari hal-hal semacam itu, apalagi aku ini perempuan. Aku diungsikan ke Solo, ke rumah kakek dan tiga bulan kemudian aku dipertemukan dengan ayah Pri.” Ibu tersenyum lagi.

“Zaman itu zaman sederhana. Karena harus segera kawin, kukubur dalam-dalam cita-citaku menjadi pelukis. Tetapi, jauh di dasar hatiku, keinginan itu masih tetap ada. Dan ketika kutahu Pri akan menikahi seorang seniman, aku sangat gembira. Begitu gembiranya sehingga iri.” Wiwid merasakan tangannya yang digenggam mertuanya dipijit perlahan-lahan. Senyum wanita tua itu begitu lembut, begitu tulus. “Kau mewakili segala hal yang pernah kucita-citakan ketika muda, Nduk.”

Wiwid tergugu. Entah kenapa, tenggorokannya mendadak terasa pedih, seperti tersekat serbuk gergaji. Ia tak pernah tahu bahwa mertuanya mempunyai rahasia hati seperti itu. Rahasia hati yang disimpannya sendiri selama berpuluh tahun.

“Aku bangga padamu, Nak. Bangga karena kau begitu berani, begitu bebas meraih cita-citamu tanpa menghiraukan pendapat lain orang. Alangkah senangnya kalau aku bisa begitu. Tapi, tak mungkin.” Ibu menghela napas. “Jagalah Pri baik-baik, Nduk. Aku percaya padamu—seniman seperti kalian—dengan perasaan kalian yang lembut dan peka Pri pasti akan bahagia bersamamu.”

Lalu ia terdiam. Matanya terkatup perlahan. Rasa sakit di tenggorokan Wiwid serasa akan mencekiknya. Wiwid tak dapat berbuat lain selain menggenggam tangan mertuanya itu erat-erat, semakin erat, dan semakin erat.

Pulang dari pemakaman ibu mertuanya Wiwid bergegas menuju dapur. Dengan air mata membasahi pipinya ia berjongkok di muka bak cuci, langsung memutar kunci kabinet dan membukanya. 

Guci itu akan dikeluarkannya, dipajangnya di tempat yang terhormat di ruang depan. Heni benar. Tempayan itu adalah tanda kasih Ibu kepadanya. Ibu yang lembut, Ibu yang tak pernah lupa menyuruh Wiwid meminum vitamin E agar bisa lekas-lekas hamil. Wiwid bahkan belum sempat memberitahukan kepadanya bahwa doanya selama ini, yaitu agar Wiwid hamil, telah dikabulkan Yang Maha Esa.

Wiwid terisak sedikit, mengeluarkan botol-botol karbol dan cairan pembersih kaca, meraih ke bagian belakang mencari guci itu. Segera ditemukannya, dan ditariknya ke tempat terang agar dapat dilihat dengan lebih baik. Namun, seketika itu juga jantungnya berdetak cepat. Guci itu sudah cacat. Bibirnya somplak sepotong besar. Retakannya memanjang hingga ke bagian dasar, merusak seluruh permukaannya. Saat itu barulah terlihat oleh Wiwid bahwa sebotol karbol yang diletakkannya agak di atas ternyata terjatuh, menggeletak di lantai kabinet dekat bekas tempat guci itu berdiri. Wiwid teringat bunyi derik tajam yang didengarnya ketika menutup pintu lemari waktu itu. Agaknya pada saat itulah botol karbol itu terguling, menjatuhi guci di bawahnya dan meretakkannya. (f)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ch. Kasintoe
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Femina" No. 17/XXVII 6 – 12 Mei 1999

0 Response to "Guci"