Janji Bapak | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Janji Bapak Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:04 Rating: 4,5

Janji Bapak

SEORANG bapak sejati adalah lelaki paling pengertian kepada anak gadisnya. Tidak membuatnya kecewa, tulus berkorban, dan memberi rasa aman.

Nisa diajak pamannya melanjutkan sekolah jenjang SMA di Kota Yogyakarta. Nisa berasal dari desa, dari keluarga biasa. Bapaknya pembuat batu bata. Dulunya perajin perabot rumah tangga yang terbuat dari bambu dan kayu. Kini perabot semacam itu sudah tergantikan buatan pabrik yang tentu lebih praktis dan awet.

”Nis, Bapak belum yakin.“

Nisa hanya terdiam. Keingiannya tidak bisa terbendung lagi untuk bisa sekolah di kota pamannya.
”Anak perempuan dijaga dengan sangat hati-hati. Bapak belum tega melepasmu. Khawatir dengan pergaulan di kota. Lebih-lebih di kota besar.“

”Bapak tenang saja. Nisa kan ikut Paman dan Bibi sendiri. Nisa pasti bisa jaga diri.“

Beberapa saat kemudian, ”Baiklah. Bapak mengalah. Bapak selalu menyayangimu, Nis. Jadilah gadis yang kuat pendirian. Sekolah ya sekolah, tak perlu banyak tingkah.“

”Terima kasih, Bapak.“ Nisa mencium tangan bapaknya.

***
BIAYA sekolah Nisa dibantu pamannya. Di luar jam sekolah Nisa hanya perlu membantu beres-beres rumah dan menjaga anak pamannya. Nisa sering ditinggal paman dan bibi keluar kota. Hanya pulang seminggu sekali atau dua kali. Nisa mulai merasakan jenuh. Nisa ingin merasakan atmosfer kota yang sebenarnya.

Nisa ditelepon paman, seminggu ini tidak pulang ke rumah. kesempatan bagi Nisa, sepulang sekolah bisa jalan-jalan. Di sekolah Nisa mulai dekat dengan Galih. Galih pun sering menjemput dan mengantar Nisa.

Malam mingguan di taman kota. Mereka berdua asyik menikmati gemerlap kota di malam hari.

Lambat laun Nisa merasa tidak nyaman dengan perilaku Galih. Ia tahu selama ini hanya dimanfaatkan. Suatu hari Galih tertangkap polisi saat razia pelajar. Ia dan temannya digerebek saat pesta sabu-sabu. Nisa akhirnya sadar jika selama ini di-PHP Galih.

Kini giliran Ryan mendekati Nisa. Cowok ganteng dan tajir itu terpikat para Nisa yang natural. Awalnya Nisa menolak, tetapiluluh juga. hal itu diketahui teman kelas. Manda telah lama suka Ryan. Ia mrasa Nisa merebut Ryan darinya. Ia membuat perhitungan. 

”Berani sekali cewek kampung merebut gebetan orang. Nisa harus diberi pelajaran. Kita buat dia celaka. Biar dia nyungsep sekalian ke got,“ ucap licik Manda diamini koleganya.

Suatu pagi Nisa dikerjai. Jalan yang biasa dilewati ke sekolah dilumuri oli bekas. Saat Nisa melintas dengan motor, tergelincir. Kecelakaan itu membuatnya patah kaki.

Kejadian itu sudah didengar orangtua Nisa.

”Nis, apa kamu hendak menyeret Bapak dan Ibumu ke neraka? Bapak selalu berpesan supaya tidak bergaul yang macam-macam, apalagi pacar-pacaran. Sekarang akibatnya seperti ini,” kata Bapak Nisa.

”Paman dan Bibimu tidak sepenuh bertanggung jawab. Itu yang membuat Bapak kecewa. Bapak dan ibu ingin menjemputmu pulang. Pindah sekolah saja ke desa.”

***
TAHUN ajaran berakhir. Nisa mulai mengurus pindah sekolah. Nisa sadar telah dipermainkan teman-teman, meski kadang masih memendam cinta. Gilang, kekasih pertama yang amat ia cintai. Ryan yang hadir bak pahlawan. Mereka berdua hanya memberi harapan palsu. Apalagi si Manda yang gemar mem-bully habis-habisan dan membuatnya cacat hanya gara-gara urusan remeh-temeh bernama asmara.

***
DENGAN langkah terpincang, Nisa menemui bapaknya di ladang yang tengah membuat batu bata.
”Sebenarnya Nisa kecewa, Pak, tidak menyelesaikan sekolah di kota. Tetapi, setelah kejadian itu Nisa lebih menyesal. Harusnya Nisa tidak memaksakan diri sekolah di sana.”

”Jadilah gadis yang tidak cengeng, Nis. Pakai akal yang benar!” kata bapak dengan tangan masih belepotan adonan tanah liat.

”Hanya Bapak laki-laki sejati yang ngerti perasaan Nisa.“

”Janji laki-laki itu harus pasti, Nis, tidak boleh plin-plan.“

”Nisa sedih, terkenang guru dan teman-teman Nisa.”

”Bapak janji akan menebus semua kehilangan itu. Kita tak perlu menyesali yang tidak bisa diwujudkan.“

”Nisa telah banyak merepotkan Bapak. Nisa malu jadi gadis pemalas, harusnya rajin bantu Bapak bantu Ibu. Mohon maafkan Nisa. Nisa sayang sama Bapak dan Ibu,“ ungkap Nisa.

Ibu Nisa mengantar makan. Ia mendengar perbincangan itu.

”Pasti tidak akan tega, Nis. Senakal dan seburuk apa pun perbuatanmu, selalu ada kata maaf. Cinta Bapak dan Ibu tulus, setulus matahari menyinari. Memberi tanpa henti, tanpa pamrih,“ ungkap ibunya.

”Bapak janji bisa mewujudkan keinginanmu, Nis. Mudah-mudahan Gusti Allah memberi jalan. Rezeki hari ini kita syukuri dulu,” ajak bapaknya sambil mencicipi hidangan.

***
SUATU hari seseorang dari kota memborong batu bata bapak Nisa. Nominalnya memang tidak besar, tetapi cukup untuk membantu mewujudkan keinginan Nisa. Setidaknya Nisa bisa menerapkan keterampilan yang didapat di sekolah. Bisa melipur kemurungan hati.

”Nis, janji Bapak membelikan mesin jahit telah terpenuhi. Dan, kamu tak perlu minder. Setelah kamu lebih dewasa, Bapak akan carikan laki-laki yang siap menjagamu. Menggantikan peran Bapak. Bapak siap mencarikan jodoh yang ikhlas dan menerima dan mencintaimu.“

Nisa terisak dan memeluk bapaknya erat. Janji bapak pasti akan ditepati. Seperti  matahari, siap terbit sekalipun mendung menggelayuti. •

Teguh Wibowo. RT 014 RW 04 Desa Bodag Panggul Trenggalek 66364

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Teguh Wibowo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 25 Desember 2016

0 Response to "Janji Bapak"