Jenggot | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Jenggot Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:41 Rating: 4,5

Jenggot

SEJAK pertama melihat Kamdu di pesta itu, hal yang paling menarik sekaligus memualkan saya adalah jenggotnya. Terus terang, jenggot inilah yang membuat saya melihat Kamdu lebih saksama. Mula-mula saya melihat jenggotnya biasa-biasa saja, sejenis rambut keriting kecil-kecil yang tumbuh lebat di janggut. Panjangnya sekitar sepuluh atau mungkin sebelas sentimeter. Lumayan panjang memang untuk ukuran jenggot kebanyakan.

Tapi, setelah saya perhatikan pelan-pelan, jenggot Kamdu jadi tampak mengerikan. Ini misalnya ketika teman kami, Saski, yang tengah merayakan ulang tahunnya, menghidangkan kue-kue basah di piring. Seperti tersedot magnet, setiap helai jenggot Kamdu tiba-tiba meliuk-liuk seperti radar dan serempak menghadap ke piring yang berisi kue-kue itu. Melihat kejadian ini, saya curiga jangan-jangan Kamdu memang keturunan kecoak atau jangkrik yang memakai dua sungutnya sebagai radar. Tidak. Tidak hanya dengan kue di piring itu. Jenggot Kamdu juga meliuk-liuk ke cangkir kopi yang tadi dihidangkan oleh pembantu Saski.

Dari semua itu, yang cukup mengagetkan saya adalah ketika beberapa helai jenggot Kamdu juga diam-diam meliuk-liuk ke dada Linda yang duduk tepat di sebelah Kamdu. Ini sungguh memalukan. Apalagi setelah saya amati, Kamdu juga tampak sengaja merunduk-runduk ke bawah untuk menggesekkan jenggotnya ke dada Linda. Melihat ini sungguh saya ingin menampar Kamdu dengan sepatu. Tapi tidak. Saya tetap menahan diri. Saya paksa otak dan hati saya untuk percaya bahwa jenggot Kamdu yang menggesek-gesek ke dada Linda itu sekadar jenggot genit belaka. Saya bayangkan Tuhan menciptakan jenggot dengan jenis-jenis berlainan. Dan jenggot Kamdu adalah yang dirancang khusus sebagai jenggot yang menjengkelkan.

Saya tetap menghibur diri. Namun, yang membuat saya hampir-hampir tak mampu bersabar adalah ketika jenggot Kamdu meliuk-liuk ke arah saya, seolah seluruh helai jenggotnya menjelma jadi seribu tentakel kecil yang hendak merampok rokok saya. Jika demikian adanya, sunggut jenggot Kamdu termasuk golongan jenggot yang kurang ajar. Satu-satunya yang bisa dianggap lumayan adalah Jenggot itu tidak tampak kedodoran di janggut Kamdu, sebab bentuk wajahnya yang kelewat lebar, dengan mulut menyerupai dompet dan leher bergelambir tebal.

Selain itu, yang membuat Kamdu dan jenggotnya tampak menonjol adalah tabiatnya yang suka mencari-cari perhatian. Sungguh saya tidak mengada-ada. Kalau saja hari itu Anda datang ke ulang tahun Saski, Anda akan tahu bahwa Kamdu memang golongan manusia semprul yang suka cari muka. Ini misalnya terjadi saat Saski membuka acara dengan ramah-tamah dan sedikit sambutan, mengucap rasa syukur kepada Tuhan dan terima kasih atas kehadiran teman dan handai tolan. Namun, alih-alih diam mendengarkan dengan betul seperti jamaknya para undangan, Kamdu malah asyik neyeletuk dengan celotehan, kemudian ditambah guyonan, lalu berganti puji-pujian atas segala minuman dan makanan yang dihidangkan. 

Perbuatan tengil macam inilah yang menjadikan Kamdu sebagai pusat perhatian. Beberapa hadirin yang duduk berdekatan dengan Kamdu sudah sempat mengingatkan agar Kamdu duduk tenang dan menyimak sambutan Saski, namun Kamdu tak peduli. Mulutnya yang mirip dompet itu tetap saja mengeluarkan celotehan, kemudian ditambah guyonan, lalu puji-pujian. Dan, jika satu dua hadirin terpaksa melihat ke arah Kamdu berkat celotehan, guyonan, dan puji-pujian itu, Kamdu langsung bereaksi dengan mengelus-elus jenggotnya sambil bersiul-siul ringan. 

Tentu tabiat Kamdu yang demikian itu menimbulkan bermacam-macam tanggapan. Umar Ballah yang mengidolakan Serj Adam Tankian, vokalis System of a Down itu misalnya, tampak kagum dengan Kamdu yang jenggotnya memang sepadan dengan vokalis band rock Amerika keturunan Armenia itu. Tapi Rosidi, pacar Saski yang kebetulan seorang polisi sangat terganggu, sebab di pesta ulang tahu pacarnya itu ia seperti kodok sekarat, terbebat jenggot kamdu yang lebat. Sementara itu, Joki yang bermental penjilat memuji-puji Kamdu sebagai sosok kharismatik dan cocok bila hendak menjadi pemimpin sebuah partai besar. Tentu Joki tidak berkata jujur dengan pujian itu. Saya tahu, dengan memuji begitu, Joki hanya ingin diberi tumpangan oleh Kamdu saat pulang nanti, sebab hanya Joki satu-satunya tamu yang datang ke pesta itu jalan kaki. Berbeda dengan Amin yang langsung melotot ke arah Kamdu lalu meludah ke luar jendela saat Kamdu tersenyum akibat pujian si Joki.

Dan, dari sekian kejadian itu, satu yang tidak diketahui para hadirin adalah saat seekor cicak jatuh ke cangkir kopi Kamdu. Khusus karena cicak ini, dalam hati saya berucap syukur dan teirma kasih kehadirat Tuhan Yang Maha Mengerti. Sungguh cicak itu jatuh pada saat yang tepat. Peristiwa itu terjadi ketika Saski selesai memberi sambutan ramah tamah dan kembali ke tempat duduknya. Dan Kamdu – tentu tanpa disuruh siapa pun – langsung berdiri dan dengan penuh percaya diri berpidato, mengimbau kepada Saski bahwa ia harus lekas-lekas menikah sebab usianya telah genap tidak puluh tahun.

Sambil mengutip pendapat seorang tokoh yang kata Kamdu pakar terkenal, ia memaparkan posisi orang ketika usianya memasuki tiga puluh tahun. Kamdu berpidato perihal usia tiga puluh sebagai usia pemantapan. Tentu kata-katanya yang berapi-api itu tak hanya ditujukan kepada Saski tapi kepada kami sekalian. Dengan tangan mengepal, seperti gaya orator tersohor, Kamdu mengatakan bahwa usia tiga puluh adalah usia di mana seseorang perlu memantapkan diri menuju kematangannya nanti, saat usianya mencapai empat puluh tahun. Dan untuk itu, kata Kamdu, jalan yang harus dilewati dan tak boleh dilewatkan adalah menikah. 


MENDENGAR petuah Kamdu itu, tentu Rosisi yang paling tersinggung. Sebagai pacar Saski, ia merasa wajahnya telah diludahi. Karena ini, Rosisi berbisik ke kuping saya bahwa ia berniat menabrak Kamdu di jalan. Atau paling tidak mengempesi ban mobil Kamdu bila datang kesempatan nanti. Namun, Joki yang berwatak penjilat bertepuk tangan cukup keras yang kemudian disambut Kamdu dengan senyum puas. Dan – sekali lagi sukur pada Tuhan – persis saat ini seekor cicak yang sedari tadi mengintip di atas langit-langit rumah Saski terjatuh. Tentu Kamdu yang masih mabuk oleh pujian dan tepuk tangan Joki tak melihat ini. Setelah tepuk tangan Joki berhenti, dengan mantap Kamdu kemudian menyesap cangkir kopinya yang telah terisi cicak. Kendati mendapati ada yang aneh di mulutnya, Kamdu hanya kaget sedikit lalu menelan cicak itu seketika.

Anehnya, setelah menelan cicak itu, perilaku Kamdu bertambah semprul dan menjadi-jadi, seperti habis minum obat kuat. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan digosok-gosokkan di jenggotnya dengan kasar sehingga menimbulkan bunyi seperti kuku kucing mencakar-cakar batu. Inilah yang menambah jengkel Rosisi. Pacar Saski itu bahkan sempat mengusap pinggangnya yang sebelah kiri penuh arti. Tentu dengan itu, Rosisi ingin menggertak Kamdu yang amat kurang ajar. Rosidi seperti hendak berkata bahwa pinggang sebelah kiri yang tampak menonjol itu berisi sesuatu yang sekali-kali bisa melubangi dengkul atau kepala Kamdu.

Namun, bukan Kamdu bila tidak berkepala batu. Ia seperti tak gentar dengan gertakan Rosidi dan malah memelintir-pelintir jenggotnya sehingga tampak seperti rambut yang dikelabang. Saya yang tidak tega melihat Rosidi terus tersiksa akibat ulah Kamdu akhirnya nekat mematikan rokok dan melempar puntungnya ke wajah Kamdu. Dari situlah saya tahu, jenggot Kamdu yang mengerikan itu ternyata menyimpan kekuatan magis. Jenggot yang sudah dikelabang itu tiba-tiba terudar dan menangkis puntung rokok itu.

Untunglah Kamdu tidak tahu jika yang melempar puntung rokok itu adalah saya, sebab saat jenggotnya menangkis puntung rokok itu, para  hadirin serempak berdiri menyanyikan selamat ulang tahun untuk Saski. Dan seperti yang bisa ditebak, dalam hal menyanyi ini, suara Kamdu yang paling kuat dan mendominasi. Mendengar suaranya yang berat dan kuat, saya curiga jangan-jangan leluhur Kamdu bukanlah kecoak atau jangkrik seperti yang saya sebut tadi, tetapi persilangan kerbau dan kambing Boer. 

Kemudian, setelah nyanyian selamat ulang tahun ini selesai, Kamdulah yang bersemangat mengusulkan menyambung acara dengan karaoke. Ia bahkan telah siap menyanyikan lagu Bang Toyip yang telah diaransemen menjadi dangdut koplo. Dan tentu bukan Kamdu jika ia tidak mau menang sendiri. Kamdu tidak sedang menunggu Saski, selaku tuan rumah merestui ia bernyanyi dan langsung saja memutar VCD player dan menyanyi Bang Toyip versi kopli. Ia lalu berjoget-joget dengan kosro dan tak lupa sesekali mengelus jenggotnya seirama joget dan lagu itu.

Inilah yang membuat musnah kesabaran Rosidi. Diam-diam Rosidi mengambil pistolnya dan menembak VCD player itu. VCD player itu pecah dan musik koplo yang mengiringi Kamdu menyanyi mati seketika. Mendengar tembakan itu, para hadirin langsung kocar-kacir menyelamatkan diri. Saski selalu tuan rumah dan pacar Rosidi bahkan langsung masuk ke kamar untuk menyelamatkan diri. Tapi Kamdu tak berhenti bernyanyi. Ia malah bernyanyi seperti orang kesurupan, berjoget dan meloncat ke kiri dank e kanan sambil berkali-kali meneriakkan “Bang Toyip“ lebih kencang, seolah ”Bang Toyip“ yang ia panggil-panggil dalam nyanyian itu adalah Abangnya yang ia harapkan turun dari langit.

Kamdu bahkan tetap bernyanyi dan berjoget lebih kosro saat Rosidi mengarahkan pistol itu lurus ke kepalanya. Namun, sekali lagi keajaiban terjadi: jenggot Kamdu yang panjangnya sepuluh atau dua sebelas senti meter itu, tiba-tiba memanjang dan menutupi seluruh wajahnya. Melihat itu, Rosidi jadi keder dan yakin kalau Kamdu mengamalkan sejenis ilmu sihir. Saya sempat melihat wajah Kamdu yang ditutupi jenggotnya itu, serupa genderuwo yang nekat muncul di siang bolong. Melihat tangan Rosisi mengacungkan pistol dengan gemetar. Kamdu tertawa seraya bertolak pinggang dan menantang Rosidi berkelahi.

Tetapi, Rosidi malah melempar pistolnya ke arah saya dan cepat-cepat melarikan diri. Mendengar tawa Kamdu yang keras sekali, saya pun segera berlari menyusul Rosidi.

Surabaya, 2016

A. Muttaqin lahir di Gresik 11 Maret 1983. Buku puisinya yang terbaru adalah Dari Tukang Kayu Sampai Tarekat Lembu (2016). Ia tinggal di Surabaya. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya A. Muttaqin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi 10-11 Desember 2016


0 Response to "Jenggot"