Jika Anak-Anak Menangis Di Dekapanku - Jam-Jam yang Tergesa - Bulan Jemu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Jika Anak-Anak Menangis Di Dekapanku - Jam-Jam yang Tergesa - Bulan Jemu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:50 Rating: 4,5

Jika Anak-Anak Menangis Di Dekapanku - Jam-Jam yang Tergesa - Bulan Jemu

Jika Anak-Anak Menangis Di Dekapanku

Bagaimana mesti kuperbuat
jika mereka menangis di dekapanku,
air mata hangat menyentuh pakaianku,
menembusnya dan sebelum sempat
meraba permukaan kulitku, jiwaku menghangat
seketika: suara itu begitu murni.

Kulakukan sebisaku,
meski kekesalan,
bodoh dan tak berdaya,
meski sebuah kesalahan untuk
menyetujuinya; lihatlah
betapa mudah mereka menaklukan kita.

Dalam tangisannya
mereka selalu ingin mencari
sebuah lengan untuk melindungi,
sebuah dada untuk bersembunyi.
Mereka mengadu,
tak ada yang boleh mengatakan salah padanya,
dan tidak akan berhenti
hingga kita yang percaya pada kasih
menghiburnya.

Dalam kemanjaan
terasa benar terlalu berharga mereka bagi kita,
dalam banyak hal yang dapat bertukar
mereka tak ternilai
dengan mainan, lembaran uang
atau meski itu coba kita keluhkan
dengan payah dan keletihan kita.

Bagaimana mesti kukatakan
bahwa jika mereka menangis
jiwaku yang dingin
menemukan sepasang lengan hangat
untuk menyentuhnya.
2014

Jam-Jam yang Tergesa

Aku tengah berjalan
dalam jam-jam yang tergesa,
dalam rentang
kini.
Waktu,
tetesan debu,
tertangkup di telapak tanganku
membentuk mimpi.

Betapa kuat aku menahan,
jam-jam yang tergesa
tetap tergesa,
bagai derap kaki pemburu
dan perjalanan yang jauh.

Masih saja aku kira
dalam masa bocah,
di mana hari yang kujumpai,
setiap hari,
berlalu dalam ayunan.
2014

Bulan Jemu

Demikian putih,
demikian bulat bulan
saat malam yang panjang
tertidur.

Kuhadapkan diri
pada kenyataan jemu,
pergantian yang tetap,
tanggal demi tanggal.

Bila yang terjaga
hanya sepasang mataku.
2014


Rudiana Ade Ginanjar, lahir dan tinggal di Cilacap, 21 Maret 1985. Beberapa karyanya dipublikasikan di media massa dan antologi bersama. Di antaranya Antologi Penyair Muda Banyumas Raya: Blues Mata Hati, Pendhapa 5, Kepada Yang Tersembunyi, dan lain-lain. (92)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rudiana Ade Ginanjar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 11 Desember 2016

0 Response to "Jika Anak-Anak Menangis Di Dekapanku - Jam-Jam yang Tergesa - Bulan Jemu"