Jodoh Pilihan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Jodoh Pilihan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 20:04 Rating: 4,5

Jodoh Pilihan

MALAM itu, aku berteduh di bangunan kosong sambil menyimpulkan kedua lengan pada balutan jaket beludru yang tak cukup tebal. Tiba-tiba saja aku melihat Guntur yang terengah-engah. Baju bolongnya basah kuyup, wajahnya pucat. Kupikir tubuhnya terlalu lama tergenang air lumpur ibukota. Sekedip kemudian mata julingnya melirik bangunan kosong yang cukup aman dari genangan air lumpur. Aku tak mengerti mengapa ia tiba-tiba menghampiriku lantas membawa kelakar yang tak kumengerti, hingga ia mengusap kelopak matanya yang berlumuran air mata dengan lengan baju bolong yang ia kenakan.

"Hei, Jun! Kamu makin cantik, tapi kalau aku melihatmu seperti ini, hahaha, kamu tahu apa yang kulihat? Pasti kau dapat menebaknya!"

Dia seperti orang gila, atau mungkin sudah gila? Menungging dan membalikkan badannya, melihatku dari sela kedua kakinya, lalu mengatakan aku cantik?

Aku tahu itu hanya bualan, nyatanya hanya bagian tubuh belakang yang ia tunggingkan untuk melihat wajahky yang sebenarnya terukur cukup cantik bagi lelaki normal. Buktinya, sejak aku pulang dari rantauan terhitung 10 orang melamarku, karena aku memiliki penampilan menarik dan bibir merah merekah. Bagiku, mereka lelaki yang berambisi memperbaiki keturunan dengan mempersuntingku. Salah satunya, termasuk lelaki compang-camping yang menggurauiku saat ini: Guntur. Awalnya ia memuji-mujiku dengan iming-iming sawah seluas 1000 meter warisan tujuh turunan, yang ia gadang-gadangkan ada hak atasnya, katanya tiga tahun lalu di bawah pohon randu. Betapa aku tidak tergiur? Meskipun penampilannya sederhana tapi diam-diam ia memiliki harta tak kasat mata. Saat itu aku menggadaikan perasaanku dengan seperempat tanah warisan yang Guntur miliki. Aku bermanja dengannya, begitu juga ia. Setiap sore kubawakan ia nasi renteng atau buah-buahan yang kukirim secara bergantian di rumah dinding bambunya.

Hingga tiba suatu waktu, seorang yang memperkenalkan dirinya sebagai notaris berdiri di ambang pintu ruang tamu. Aku mempersilakan lelaki berdasi itu untuk masuk dan memulai perbincangan sesuai keperluannya. Setelah 15 menit ia duduk di kursi panas, notaris itu memberikan selembar sertifikat tanah yang tertulis namaku: Jun Masinah. Sertifikat itu kini ada pada genggamanku sebelum akhirnya kubanting sertifikat tertulis tanah seluas 1x2 meter di atas meja tamu.

"Apa-apaan ini? Kau menghinaku! Kau ingin aku mati!"

"Maaf, Nona. Anda tidak berhak memarahi saya! Saya diberi tugas oleh keluarga besar Guntur memberikan tanah yang Anda minta Nona, dan ini adalah 2/3 dari tanah warisan yang Guntur miliki."

"Ini namanya penghinaan!"

"Maaf, Nona. Tapi coba Nona renungkan. Mengapa mereka memberimu tanah masa depan? Ini semua agar kau sadar bahwa materi yang kau cari dari laki-laki manapun, pada akhirnya kau juga hanya akan memiliki tanah masa depanmu ini bukan?"

Aku terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengusir notaris muda yang bergaya bijaksana itu.

Aku benci kau Guntur! Dasar penipu! Betapa aku tidak kecewa? Aku sudah menggadaikan perasaanku dengan seperempat tanah yang ia janjikan hingga seluruh orang telah mengira aku menerima Guntur yang tidak laku-laku itu menjadi kekasihku!

Guntur tak henti berkelakar. Malah semakin menjadi. Ia menelentangkan tubuhnya di atas ubin yang tertimbun daun-daun. Kuharap ini aksi terakhirnya sebelum raganya tak mampu berdiri lagi menopang otak yang kurang waras itu!

Aku menyingkir dari keberadaan Guntur tanpa kubalas sedikitpun. Selagi jantungku masih berdetak akan kusimpan baik-baik kepalan tanganku dari wajah lonjongnya yang dipenuhi jenggot. Kasihan tanganku kalau harus ternoda dengan menyentuh pipi Guntur.

"Banjir susulan!"

Orang-orang berlari mencari titik aman, segala harta telah mereka bawa bersama anak atauy keluarganya, berkisar 20 orang. Kau tahu apa yang akan mereka lakukan jika mengungsi di sini? Mereka akan salah paham tentang keberadaan aku dan Guntur.

"Masuk!" Salah seorang tetua RT memberi instruksi setelah melirik bangunan tua di mana ada dua manusia, normal dengan kurang normal.

"Hei, Jun?" tegur seorang wanita yang menggandeng dua orang anaknya.

"Guntur?" tegur ketua RT diiringi lirikan mata warga.

"Nikahkan mereka!" seloroh wanita tua bersanggul bak sinden.

"Jangan! Guntur sudah tak waras lagi!" larang ibu-ibu berambut poni.

"Tapi, mereka telah berdua!" ucap lelaki berkumis tebal.

"Ah, jangan Pak, jangan Bu! Jangan! Aku benci dia. Lihat keadaannya! Jangan!" suaraku terputus-putus.

***
"EHEMM." Seorang laki-laki berkemeja merah berdehem membangunkan lamunanku yang terhitung 15 menit setelah Guntur pergi ke toilet.

"Dari tadi kamu melamun, Jun. Kenapa kamu, Jun? Kamu nggak mau menikah dengan lelaki idaman satu kampung ini?"

Guntur tersenyum simpul, wajah sawo matangnya terurai senyum ikhlas di sana. Ya, dia bicara dari hati, dia menyayangiku benar dari hati. Aku memakai cincin berbahan perak yang ia beli dari kerjanya di metropolitan.

Metropolitan? Seperti apa di sana, tempat Guntur berjerit payah demi cincin yang melingkar di jari manisku ini? Selama ini aku hanya gadis desa yang terbuai imajinasi saja dengan gambar-gambaran imajinasi indahnya kota metropolitan yang kerap dilanda banjir itu.

"Jun, bulan depan kita menikah, lalu aku akan membawamu ke kota besar, tempat aku bekerja. Kamu ingin tahu rasanya tinggal di Jakarta bukan?"

"Kau serius, Gun?"

"Iya, Jun, kalau hubungan kita sudah sah bukankah kita harusnya bersatu?"

Aku berkelakar kecil, ah ya benar, betapa beruntungnya aku. Emak tak salah pilihkan jodoh. 


Febi Nurul Safitri. Pelajar SMAN 1 Depok Sleman, Tinggal di Krikilan 03/10 Tegaltirta Berbah Sleman Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Febi Nurul Safitri
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 18 Desember 2016




0 Response to "Jodoh Pilihan"